src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Pohon Ulin Raksasa dan Sejuta Kisah di Taman Nasional Kutai

Pohon Ulin Raksasa dan Sejuta Kisah di Taman Nasional Kutai

4 minutes reading
Tuesday, 8 Apr 2025 11:23 526 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO, SANGATTA – Tersembunyi di jantung Kalimantan Timur, Taman Nasional Kutai (TNK) menyuguhkan hamparan hijau hutan hujan tropis yang memukau. Lebih dari sekadar kawasan pelestarian alam, TNK adalah laboratorium hidup yang menyimpan keajaiban flora dan fauna, termasuk pohon ulin raksasa yang jadi ikon dan bukti nyata kejayaan ekosistem hutan Borneo. Kawasan ini juga menjadi tujuan wisata alam Kalimantan Timur yang semakin dilirik, terutama saat momentum libur panjang seperti Lebaran tahun ini.

Masuk ke kawasan Jungle Park Sangkima, pengunjung disambut jalur trekking sepanjang lima kilometer yang membelah hutan tropis nan rimbun. Gemericik sungai Sangkima, aroma tanah basah dan pepohonan yang menjulang seolah menyihir siapa pun untuk larut dalam ketenangan alam. Dari sekian banyak daya tarik yang tersaji, satu sosok yang selalu menjadi magnet utama adalah pohon ulin berusia lebih dari seribu tahun.

Pohon ulin atau Eusideroxylon zwageri, dikenal juga sebagai kayu besi, berdiri megah dengan diameter mencapai 2,52 meter berdasarkan pengukuran terakhir tahun 2023. Ditemukan pertama kali pada 1993, pohon ini dianggap sebagai salah satu ulin terbesar yang masih hidup di Indonesia.

Lambatnya pertumbuhan diameter pohon ulin menjadi saksi waktu yang panjang — sebuah pertanda bahwa pohon ini telah menyaksikan ratusan tahun perubahan dalam hutan Kalimantan. Tingginya menjulang seakan menembus kanopi, menyiratkan kekokohan sekaligus kerapuhan jika tak dijaga.

“Setiap kali melihat pohon ini, ada rasa kagum yang tak bisa dijelaskan. Kita sedang berdiri di hadapan sejarah hidup,” kata Arfan, salah satu pengunjung dari Balikpapan, yang mengaku sudah tiga kali datang hanya untuk melihat ulin raksasa itu.

Perjalanan menuju ulin raksasa tak pernah membosankan. Jalur yang berliku-liku menawarkan pengalaman berbeda. Tanjakan Meranti menguji stamina, sementara Jembatan Sling yang bergoyang menyuntikkan adrenalin.

Di beberapa titik, pengunjung bisa beristirahat di tempat teduh sambil menyantap bekal dan menyerap suasana hutan yang tenang. Salah satu spot yang paling digemari adalah rumah pohon, tempat wisatawan bisa menikmati panorama hutan dari ketinggian.

Dari atas, terlihat betapa luas dan kompleks bentang alam TNK. Hijaunya hutan seperti permadani yang tak berujung, menjadi pengingat akan peran penting TNK sebagai paru-paru Kalimantan.

Perjalanan TNK sebagai kawasan konservasi tak terjadi dalam semalam. Sejarah panjangnya dimulai pada 1932 saat Pemerintah Hindia Belanda menetapkan dua juta hektare sebagai Wildreservaat Koetai. Empat tahun kemudian, wilayah itu menyempit menjadi Suaka Margasatwa Kutai seluas 190.000 hektare.

“Sejak saat itu, fokus kawasan mulai diarahkan ke perlindungan satwa liar,” jelas Budi Isnaini, Kepala Seksi Pengelolaan TNK Wilayah I Sangatta, saat diwawancarai media.

Namun, dinamika terus bergulir. Tahun 1957 dan 1971 menyaksikan perubahan luas kawasan menjadi 306.000 hektare lalu menyusut ke 200.000 hektare. Transformasi terbesar terjadi pada 1991, ketika TNK resmi ditetapkan sebagai Taman Nasional dengan luas 198.629 hektare.

Penetapan ini juga menjadi dasar dimulainya program reintroduksi orang utan, spesies langka yang menjadi simbol Kalimantan. “Orang utan adalah spesies kunci. Keberadaannya di TNK menjadi indikator penting ekosistem sehat,” imbuh Budi.

Tahun 2024 membawa dinamika baru bagi TNK. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Kalimantan Timur menetapkan pengurangan luas TNK sekitar 400 hektare. Pengurangan ini, meski kecil, tetap memunculkan kekhawatiran.

Namun Budi menegaskan, “Pengurangan itu berada di wilayah pemukiman yang memang sudah ada. Kami terus berkoordinasi agar fungsi konservasi tidak terganggu.”

Langkah penguatan pengelolaan juga terus dilakukan. Pada 2013, TNK masuk dalam Koridor Keanekaragaman Hayati Penanjung Kutai. Setahun kemudian, cakupannya meluas hingga ke Kalimantan Utara.

Di bidang pariwisata, TNK dinobatkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) pada 2021. Penetapan ini diharapkan mampu menggenjot potensi wisata alam yang ramah lingkungan dan edukatif.

Berbeda dengan hutan lindung biasa, TNK punya peran multifungsi: melindungi, mengawetkan, dan memanfaatkan secara lestari. Aktivitas pemanfaatan seperti pengambilan rotan hanya diperbolehkan untuk masyarakat sekitar dan dalam jumlah terbatas.

“Kami tidak membuka peluang eksploitasi skala besar. Ini taman nasional, bukan kawasan produksi,” tegas Budi.

TNK terbagi dalam empat zona: inti, pemanfaatan, rehabilitasi, dan penyangga. Zona inti menjadi kawasan steril dari aktivitas manusia. Zona pemanfaatan dibuka untuk wisata edukatif. Sementara zona rehabilitasi menjadi tempat pemulihan kawasan rusak. Zona penyangga, baik di dalam maupun luar kawasan, berperan sebagai pelindung batas ekosistem.

Taman Nasional Kutai bukan sekadar kawasan hutan. Ia adalah representasi dari komitmen panjang terhadap pelestarian lingkungan, konservasi satwa, serta pengembangan wisata berbasis edukasi dan kelestarian.

Di era perubahan iklim dan eksploitasi alam yang kian masif, TNK menjadi simbol bahwa harmoni antara manusia dan alam masih mungkin diwujudkan. Dibutuhkan sinergi dari pemerintah, masyarakat, hingga wisatawan agar keindahan dan fungsi ekologis TNK tetap terjaga.

Artikel Asli baca di antaranews.com

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim

LAINNYA
x