src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Minyak Membara karena Perang Iran: Tembus US$ 80-OTW US$ 100 per Barel

Minyak Membara karena Perang Iran: Tembus US$ 80-OTW US$ 100 per Barel

3 minutes reading
Monday, 2 Mar 2026 13:11 66 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO, JAKARTA – Harga minyak dunia naik akibat perang Iran terlihat tajam pada perdagangan Asia, Senin (2/3/2026). Minyak mentah jenis Brent melonjak hingga sedikit di atas US$80 per barel, naik signifikan dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya. Kenaikan ini memperpanjang tren penguatan harga sejak pekan lalu, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dilansir dari CNBC Indonesia, yang menyebut lonjakan dipicu serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ketegangan ini meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan global, terutama karena sekitar 20 persen distribusi minyak dunia melewati Selat Hormuz yang berada di bawah pengaruh Iran.

Para analis memperingatkan bahwa eskalasi konflik berpotensi mengerek harga lebih tinggi. Kepala Riset Timur Tengah dan OPEC+ Kpler, Amena Bakr, menilai risiko gangguan jalur distribusi akan membuat biaya asuransi pengiriman melonjak tajam. Kondisi ini secara langsung akan menambah tekanan pada harga energi global.

“Dalam situasi seperti itu, biaya asuransi menjadi sangat mahal,” kata Kepala Riset Timur Tengah dan OPEC+ Kpler, Amena Bakr.

“Harga bisa mencapai US$90,” ujarnya.

Sementara itu, analis Rystad Energy, Jorge Leon, menilai penutupan Selat Hormuz dapat berdampak besar pada pasokan minyak mentah dunia. Meski terdapat jalur alternatif, hilangnya pasokan diperkirakan mencapai jutaan barel per hari. Situasi ini memperkuat sinyal bahwa harga minyak dunia naik akibat perang Iran bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan berpotensi berlanjut.

Secara teori, negara-negara pengimpor minyak memang memiliki cadangan strategis. Anggota OECD, misalnya, diwajibkan menyimpan stok minyak minimal untuk kebutuhan 90 hari. Namun, para analis menilai kapasitas cadangan tersebut tidak akan cukup menutup kesenjangan pasokan jika gangguan berlangsung lama. Dalam skenario terburuk, harga minyak dunia naik akibat perang Iran bahkan berpeluang menembus US$100 per barel.

“Jika blokade Selat Hormuz berlanjut, tidak peduli seberapa banyak kapasitas cadangan (dalam cadangan strategis) tidak akan mampu mengisi kesenjangan itu. Kesenjangan itu terlalu besar,” kata Bakr.

Tak hanya minyak, harga gas alam juga diperkirakan terdorong naik. Qatar sebagai eksportir utama gas alam cair menjadi sorotan karena turut terdampak eskalasi konflik regional. Negara tersebut juga menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, sehingga risiko gangguan distribusi energi semakin besar.

Lonjakan harga energi dikhawatirkan berdampak luas pada perekonomian global. Kenaikan harga bensin, biaya energi, ongkos pengiriman, hingga penurunan pendapatan sektor transportasi udara berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi. Jika eskalasi hanya berlangsung singkat, dampaknya dinilai terbatas. Namun, jika konflik berkepanjangan, risiko resesi tambahan sulit dihindari.

“Kenaikan harga bensin, harga energi yang lebih tinggi, peningkatan biaya pengiriman, dan hilangnya pendapatan untuk transportasi udara dapat berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi,” kata ekonom IESEG School of Management Paris, Eric Dor.

Dampak harga minyak dunia naik akibat perang Iran juga diprediksi merembet ke pasar saham. Sejumlah sektor seperti pertahanan berpeluang diuntungkan, tetapi sektor transportasi udara, pelayaran, dan pariwisata justru diperkirakan tertekan. Investor cenderung menghindari sektor-sektor yang sensitif terhadap lonjakan biaya energi.

Analis Kpler lainnya menilai harga minyak yang tinggi menjadi tekanan politik bagi pemerintah Amerika Serikat menjelang pemilihan paruh waktu. Iran disebut berpotensi mempertahankan tekanan pada harga energi untuk memengaruhi dinamika politik global. Situasi ini membuat harga minyak dunia naik akibat perang Iran menjadi faktor penting yang akan terus diawasi pelaku pasar dalam waktu dekat.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x