src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Madu Kelulut 'Dinda' Asal Tenggarong' Terbang Sampai ke Negeri Paman Sam

Madu Kelulut ‘Dinda’ Asal Tenggarong’ Terbang Sampai ke Negeri Paman Sam

waktu baca 3 menit
Sabtu, 15 Agu 2026 11:11 24 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Hamidin, pria yang menggeluti bisnis madu lebah kelulut tidak pernah menyangka bisa menjual madunya hingga ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Produk madu kelulut yang diberi merek ‘Dinda Tenggarong’ sebenarnya berawal dari niat untuk hidup sehat. Mengeskpor produk ke luar negeri tak pernah ada dalam benaknya.

“Bulan lalu, kita sudah ekspor ke AS sebanyak 2 Kg madu kelulut,” cerita Hamidin, Jumat, 14 Agustus 2026.

Dia bertutur, awalnya mengeluti ternak lebah madu kelulut untuk kebutuhan  sendiri. Hamidin mengaku menderita gejala diabetes sehingga harus membatasi konsumsi gula. Sedangkan, glukosa merupakan sumber tenaga bagi tubuh sehingga dirinya menyiasatinya dengan mengganti gula pasir dengan madu. “Pengobatan dengan madu sudah dijelaskan juga di Al-Qur’an,” jelasnya.

Suatu hari, dia membeli madu kelulut. Ternyata, madu kelulut yang dibeli tersebut tidak murni alias dicampur gula oleh penjualnya. Akhirnya, untuk menjamin keaslian madu, pria ini mencoba beternak lebah kelulut sendiri. Madu bukan hanya mengandung glukosa alami, tetapi juga mengandung fruktosa yang baik untuk tubuh. Hamidin mulai beternak lebah kelulut sekitar tahun 2018.

Referensi pengembangan madu kelulut mudah didapatkan sehingga apa yang diusahakan membuahkan hasil. Beberapa kotak budi daya lebah pun menghasilkan madu yang lumayan banyak. “Panen perdana, kalau tidak salah, sekitar 200 ml. Tidak masalah, karena saat itu hanya untuk konsumsi sendiri,” jelasnya.

Lambat laun, Hamidin melakukan pengembangan dengan menambah kotak budi daya lebah agar produksi madu semakin banyak. Beberapa teman yang datang ke rumahnya dan melihat budi daya lebah yang dikembangkan, ternyata tertarik untuk membeli. Madu terjamin keasliannya dan kehigienisannya.

“Awalnya saya kasih cuma-cuma, tetapi teman saya bilang ingin membelinya saja. Uang dari hasil penjualan itu saya putar kembali untuk membeli bunga sebagai makanan utama lebah. Semakin bagus makanannya, semakin bagus pula kualitas madunya,” ujarnya.

Jika rutin mengonsumsi madu, Hamidin merasakan perubahan pada tubuhnya: tidak mudah lelah. Teman-temannya pun mengakui hal serupa. Kesehatan membaik setelah rutin mengonsumsi madu kelulut Dinda.

Dari mulut ke mulut itulah usaha madu kelulut Dinda semakin dikenal. Adapun produknya bisa tembus ke AS karena dirinya memiliki kenalan warga AS. Awalnya, teman asal AS itu membeli madu kelulut, lalu menjadi pelanggan tetap. Produknya juga pernah mengikuti ekspo internasional di Jakarta. “Dari pertemanan dan mengikuti ekspo itulah kemungkinan madu kelulut Dinda ada yang membeli di AS,” jelasnya.

Madu kelulut Dinda tidak tersedia dalam jumlah banyak karena produksi disesuaikan dengan pesanan yang masuk. Madu dijual per botol berukuran 100 ml dengan harga Rp100 ribu per botol. Hamidin berharap usaha rumahan ini semakin berkembang dan menjadi bisnis keluarga yang mampu menopang perekonomian secara konsisten. “Di tengah perekonomian yang melambat, kita harus optimistis akan berubah ke arah yang positif ke depannya,” harapnya. (Andri)

LAINNYA
x