src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Dinas Kesehatan Berau. (Foto: Riska/headlinekaltim.co) HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Program Bulan Vitamin A dan Obat Cacing kembali digelar Pemerintah Kabupaten Berau pada Februari dan Agustus. Melalui program ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau menargetkan seluruh balita dapat terjangkau layanan dasar pemenuhan gizi dan pencegahan stunting.
Di tengah pelaksanaan, persoalan lama kembali mencuat yakni rendahnya tingkat kehadiran balita di Posyandu. Keberhasilan program sangat bergantung pada kehadiran orang tua membawa anak mereka ke Posyandu.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinkes Berau, Suhartini, menegaskan bahwa Vitamin A dan obat cacing bukan sekadar suplemen, melainkan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak.
“Vitamin A berperan besar untuk kesehatan mata dan meningkatkan daya tahan tubuh. Sedangkan obat cacing diberikan kepada anak usia di atas satu tahun agar penyerapan nutrisinya tidak terganggu,” jelasnya.
Meski program terus berjalan, data menunjukkan tantangan serius. Pada tahun lalu, capaian kunjungan balita ke Posyandu di Kabupaten Berau hanya mencapai 52 persen, masih di bawah rata-rata Kalimantan Timur dan jauh tertinggal dari capaian nasional yang mencapai 87,3 persen. Bahkan, rata-rata penimbangan balita bulanan masih berada di kisaran 40 persen.
“Angka ini masih sangat rendah. Momentum Bulan Vitamin A ini kami harapkan bisa menyadarkan orang tua bahwa Posyandu bukan sekadar tempat mengambil vitamin,” tegasnya.
Untuk memastikan tidak ada balita yang terlewat, Dinkes Berau menjamin ketersediaan logistik, termasuk di wilayah pesisir dan daerah dengan akses sulit. Distribusi Vitamin A dilakukan secara berjenjang dari Dinkes ke UPTD Puskesmas, lalu langsung ke Posyandu di setiap kampung.
Pemkab Berau juga mengambil langkah strategis dengan menerbitkan surat edaran Bupati yang meminta instansi pemerintah dan badan usaha memberikan izin kepada orang tua untuk membawa balitanya ke Posyandu.
“Kami paham banyak orang tua yang bekerja. Karena itu, ada kebijakan agar diberikan izin satu hari dalam sebulan khusus untuk kesehatan balita,” ujarnya.
Lebih jauh, Suhartini menjelaskan bahwa Posyandu menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dini stunting. Melalui penimbangan dan pengukuran rutin, petugas dapat segera melakukan intervensi jika ditemukan gangguan pertumbuhan.
“Kalau berat badan tidak naik atau tinggi badan tidak sesuai, kami langsung lakukan intervensi, seperti pemberian makanan tambahan lokal selama 14 hingga 56 hari, sesuai kondisi anak,” jelasnya.
Suhartini mengajak orang tua khususnya generasi muda untuk aktif mendatangi Posyandu, bukan sekadar meminta kapsul Vitamin A dibawa pulang. “Bawalah anak ke Posyandu agar pertumbuhannya benar-benar terpantau. Sesuai slogan kami, Mataku Sehat, Tubuhku Kuat karena Kapsul Vitamin A,” tutupnya. (Riska)