src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ilustrasi produk ikan asin. (ist/benuaRasa) HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Siapa sangka, di balik citranya sebagai makanan tradisional yang kerap dikaitkan dengan risiko tekanan darah tinggi, produk ikan asin justru memiliki peluang besar di pasar internasional. Salah sebuah produk olahan perikanan dari Kabupaten Kutai Kartanegara ini kini menjadi salah satu komoditas yang diminati sejumlah negara.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kutai Kartanegara, Muslik, mengungkapkan bahwa setidaknya tiga negara telah menunjukkan minat terhadap ikan asin Kukar, yakni Malaysia, Brunei Darussalam, dan China.
“Malaysia dan Brunai Darussalam pasti terima ikan asin asal Kukar,” ujar Muslik, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, selain dua negara tetangga tersebut, pasar China juga memiliki potensi besar untuk menyerap ikan asin Kukar. Namun, untuk dapat bersaing di pasar ekspor, para pelaku usaha harus mampu memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan negara tujuan.
Salah satu syarat utama adalah menjaga konsistensi produksi dan memastikan kualitas produk tetap memenuhi standar internasional.
“Kualitas mutu produk, menjadi syarat utama luar negeri menerima produk makanan,” jelasnya.
Untuk mendukung peningkatan daya saing ikan asin Kukar, DKP berencana memberikan pelatihan terkait pengendalian mutu dan standar kualitas produk kepada para pelaku usaha serta distributor yang terlibat dalam rantai pemasaran.
Saat ini, komoditas ikan asin Kukar yang aktif dipasarkan ke luar daerah hingga berpeluang menembus pasar ekspor sebagian besar berasal dari wilayah Hulu Mahakam. Produk tersebut kemudian dikumpulkan oleh pengepul sebelum didistribusikan ke kota-kota besar.
Muslik menjelaskan, jenis ikan yang paling banyak diminati pasar adalah ikan haruan dan ikan toman. Kedua jenis ikan air tawar tersebut menjadi produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Ikan asin jenis haruan dan toman menjadi produk andalan. Sedangkan ikan lainnya tetap diterima oleh pengepul besar yang ada di Surabaya dan Jakarta, sebelum di eksport keluar negeri,” ungkapnya.
Selain produk dari perairan sungai, ikan asin Kukar yang berasal dari hasil tangkapan laut juga memiliki peluang besar untuk menembus pasar ekspor. Namun hingga kini, produksi ikan asin laut masih menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satu kendala utama adalah belum stabilnya pasokan bahan baku akibat aktivitas melaut yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. “Tidak melaut bisa karena faktor cuaca, hingga pasokan BBM yang krisis,” kata Muslik.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah melalui DKP terus mendorong peningkatan dukungan terhadap nelayan, termasuk memastikan ketersediaan bahan bakar yang menjadi kebutuhan utama saat melaut.
Sebagai bentuk dukungan terhadap sektor perikanan, DKP Kukar juga memfasilitasi pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di empat kecamatan pesisir.
Menurut Muslik, sebagian proyek tersebut sudah mendekati tahap operasional, sementara sisanya masih dalam proses pembangunan setelah mengantongi izin dari pemerintah pusat.
“Dua SPBN pembangunannya sudah hampir selesai, sedangkan dua SPBN lagi belum mulai, tapi proses perizinan pembangunan sudah terbit dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),” ujarnya. (Andri)