src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Jumlah Siswa di SDN 012 Sungai Kunjang Terus Menurun karena Langganan Banjir, Muncul Wacana Bangunan Panggung 

Jumlah Siswa di SDN 012 Sungai Kunjang Terus Menurun karena Langganan Banjir, Muncul Wacana Bangunan Panggung 

waktu baca 3 menit
Kamis, 4 Jun 2026 16:48 17 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Gedung SD Negeri 012 Sungai Kunjang, Kota Samarinda, selama kurang lebih 30 tahun terakhir kerap menjadi langganan banjir. Kondisi geografis sekolah yang berada di area cekungan, ditambah posisi lantai dasar ruang kelas yang sejajar dengan jalan, membuat air dengan mudah masuk ke lingkungan sekolah saat hujan deras mengguyur.

Tak jarang, genangan air yang terjadi cukup tinggi. Bahkan, ketinggian banjir bisa mencapai hingga setengah meter saat intensitas hujan meningkat. Kondisi ini tentu mengganggu aktivitas belajar mengajar, sekaligus menimbulkan kekhawatiran bagi para orang tua siswa.

Dampak dari kondisi tersebut pun terasa signifikan. Minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SDN 012 Sungai Kunjang terus menurun. Banyak orang tua lebih memilih sekolah lain yang jaraknya lebih jauh, tapi terbebas dari banjir.

“Dampaknya, warga dari perumahan dekat sini anaknya disekolahkan di SD 020 karena di sana bebas banjir. Karena kalau di sini, orang tuanya takut banjir,” ujar Plt Kepala Sekolah SDN 012 Sungai Kunjang, Laode Akahan Haira, Kamis 4 Juni 2026.

Saat ini, jumlah siswa di sekolah tersebut tercatat sebanyak 176 orang dengan dukungan 10 tenaga pengajar dan 7 rombongan belajar (rombel). Namun, memasuki masa Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), jumlah pendaftar masih tergolong minim. “Sudah ada 30-an yang mendaftar. Jadi, muridnya nggak terlalu banyak di sini. lebih baik orang tuanya memilih sekolah lebih jauh daripada dekat dari rumah tapi banjir,” lanjutnya.

Selama tiga dekade sejak didirikan, sekolah ini belum pernah mendapatkan renovasi secara menyeluruh. Secara fisik, kondisi ruang-ruang kelas masih tergolong layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.  Permasalahan utama memang banjir setiap kali hujan deras turun. “Sebenarnya ruang kelasnya masih layak dipakai, cuma permasalahan utamanya adalah banjir,” terang Laode.

Pihak sekolah pun berharap adanya solusi jangka panjang melalui pembangunan ulang. Alasannya, perbaikan sebagian tidak akan cukup efektif untuk mengatasi persoalan banjir yang sudah berlangsung lama. “Kami dari pihak sekolah berharap bisa dibangun ulang. Karena kalau hanya direnovasi, hanya perbaikin yang rusak, itu kurang efektif. Karena setiap hujan itu selalu banjir. Banjirnya bahkan sampai selutut kalau banjirnya dalam,” ungkapnya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda, Ibnu Araby, menjelaskan bahwa upaya penanganan sebenarnya telah dirancang. Pihaknya telah menyusun Detail Engineering Design (DED) pada tahun anggaran 2025 sebagai langkah awal perencanaan pembangunan.  Namun, realisasi pembangunan masih harus menunggu kondisi keuangan daerah yang saat ini mengalami efisiensi anggaran.

“Nah, kita berharap nanti di 2027 atau nanti anggaran pemerintah ini memungkinkan, ini bisa kita laksanakan lanjutan pembangunan,” jelas Araby pada Kamis 4 Juni 2026, saat meninjau kondisi SD 012 Sungai Kunjang bersama TWAP, PUPR dan BPKAD Kota Samarinda.

Dalam pembahasan terbaru, muncul sejumlah masukan terkait konsep pembangunan yang akan diterapkan. Awalnya, penanganan direncanakan melalui pengurukan lahan setinggi sekitar satu hingga satu setengah meter. Namun, kini muncul opsi lain yang dinilai lebih efektif, yakni membangun sekolah dengan konsep panggung.

Dengan konsep tersebut, bangunan akan ditopang tiang sehingga air dapat mengalir di bawahnya tanpa menggenangi area sekolah. Skema ini dinilai lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan yang rawan banjir. “Tadi saat pertemuan ada beberapa koreksi terkait dengan perencanaan pembangunan. Kalau DED itu kan kurang lebih naiknya itu, urukannya semeter setengah, tapi ada permintaan tadi, bangunan ini nanti kondisinya berbentuk panggung, pakai tiang. Jadi air itu larut, tidak menggenang di lokasi sekolah ini. Itu harapannya,” imbuh Adaby.

Opsi tersebut masih dipertimbangkan dengan menyesuaikan kondisi wilayah serta kebutuhan teknis di lapangan. Konsep sekolah panggung memang bukan hal baru dan telah diterapkan di beberapa daerah dengan kondisi serupa. “Nah, kita berdoa saja, mudah-mudahan nanti tahun depan ini bisa terlaksanakan,” demikian Araby. (ns)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x