src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pemaparan saat konferensi pers hasil rapat berkala KSSK tahun 2026 di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (7/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) HEADLINEKALTIM.CO, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah tudingan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS dipicu oleh kebijakan fiskal yang tidak disiplin, dengan menegaskan defisit APBN dalam lima bulan pertama 2026 hanya mencapai 0,7% dari PDB.
Dilansir dari CNBC Indonesia, Rupiah tercatat melemah ke level Rp18.015 per dolar AS atau terdepresiasi 0,42% pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pukul 09.11 WIB, berdasarkan data Refinitiv. Posisi ini sekaligus menjadi level terlemah sepanjang sejarah mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat.
Purbaya menyebut kondisi fiskal pemerintah justru semakin membaik dan dikelola dengan kehati-hatian yang lebih tinggi dibanding sebelumnya. “Banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan. Nanti kita ketemu kapan? Minggu depan ya? Ada update fiskal bulanan itu, fiskal APBN kita. Itu bulan Mei membaik kan dibanding bulan April,” kata Purbaya di kawasan DPR, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Dengan realisasi defisit lima bulan sebesar 0,7% dari PDB, Purbaya memproyeksikan defisit fiskal keseluruhan tahun 2026 berada di kisaran 1,7% hingga 1,8% dari PDB. Angka tersebut jauh di bawah target yang dipatok dalam APBN 2026 sebesar 2,68% dari PDB atau setara Rp689,1 triliun. Sementara itu, realisasi defisit per April 2026 tercatat senilai Rp164,4 triliun atau 0,64% dari PDB.
“Kalau saya kasih bocoran, itu defisitnya tinggal 0,7% dalam 5 bulan. Kalau kita hitung cara para ekonom yang di luar itu ngitung, sekian bulan kali sekian bulan saya hitung, ikutin aja, 12 per 5 kalikan 0,7 kira-kira, kalau saya enggak salah hitung ya, 1,7-1,8 persen dari PDB,” tegasnya.
Di luar defisit yang terkendali, Purbaya juga menyoroti posisi keseimbangan primer pemerintah yang masih mencatatkan surplus. Pada April 2026, keseimbangan primer berada di angka surplus Rp28 triliun, dan kondisi serupa berlanjut pada Mei 2026.
“Di bulan Mei juga surplusnya, primary balance positif lagi. Lebih tinggi dibanding bulan April dan pendapatan pajak kita lebih bagus dibanding tahun lalu. Tumbuhnya 22 persen lebih,” papar Purbaya.
Pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 22% lebih itu, menurut Purbaya, merupakan buah dari reformasi perpajakan yang tengah berjalan. “Jadi reformasi di perpajakan sudah menghasilkan peningkatan pendapatan perpajakan yang amat signifikan. Sehingga anggaran kita amat aman,” tegasnya.
Tekanan terhadap rupiah sudah terasa sejak awal perdagangan. Mata uang Garuda membuka sesi dengan pelemahan 0,11% di level Rp17.960 per dolar AS sebelum akhirnya menembus Rp18.000. Pada sesi sebelumnya, Rabu (3/6/2026), rupiah juga ditutup melemah tajam 0,62% ke posisi Rp17.940 per dolar AS.