src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Plang parkir berlangganan yang terpasang di ruas Jalan Juanda Samarinda. (ns)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Program parkir berlangganan yang digagas Pemerintah Kota Samarinda dinilai menawarkan biaya yang jauh lebih hemat dibanding sistem parkir konvensional. Namun, di balik klaim tersebut, minat masyarakat terhadap program ini justru masih tergolong rendah.
Skema parkir berlangganan memungkinkan pengguna kendaraan membayar satu kali dalam setahun untuk akses parkir berkali-kali di tepi jalan umum. Secara hitung-hitungan, biaya yang dikeluarkan lebih ringan jika dibandingkan dengan tarif parkir harian yang dibayar setiap kali menggunakan layanan parkir.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, menyebutkan bahwa tarif parkir berlangganan ditetapkan sebesar Rp400 ribu per tahun untuk roda dua dan Rp1 juta per tahun untuk roda empat.
Jika dihitung secara sederhana, biaya tersebut hanya berkisar Rp1.077 per hari untuk sepeda motor dan sekitar Rp2.700 per hari untuk mobil. “Kalau dihitung per hari, tentu jauh lebih murah dibandingkan bayar parkir setiap kali berhenti,” ujar Manalu.
Meski secara matematis lebih hemat, implementasi program ini belum menunjukkan hasil yang signifikan. Hingga saat ini, jumlah kendaraan yang terdaftar dalam program parkir berlangganan baru mencapai sekitar 300 unit. Angka tersebut dinilai belum mencerminkan potensi jumlah kendaraan di Kota Samarinda yang terus meningkat setiap tahunnya.
Dishub Samarinda terus berupaya memperluas jangkauan program melalui berbagai kegiatan publik. Pendaftaran dibuka di sejumlah event seperti Car Free Day dan Car Free Night, dengan harapan masyarakat dapat lebih mudah mengakses layanan tersebut sekaligus memahami keuntungan yang ditawarkan.
Selain aspek efisiensi biaya, pemerintah juga menekankan bahwa program parkir berlangganan memiliki tujuan yang lebih luas, yakni memastikan retribusi parkir dapat dikelola secara transparan dan masuk langsung ke kas daerah. Dengan demikian, pendapatan dari sektor parkir diharapkan dapat berkontribusi lebih optimal terhadap pembangunan kota.
Manalu mengakui, bahwa program ini masih membutuhkan waktu untuk benar-benar diterima masyarakat. Perubahan kebiasaan dari sistem bayar per sekali parkir ke sistem berlangganan tidak bisa terjadi secara instan. “Kami terus mengajak masyarakat untuk beralih ke parkir berlangganan karena ini lebih hemat dan retribusinya masuk ke kas daerah,” pungkasnya. (ns)