src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Pelatihan tata boga di Kecamatan Tabalar. (Foto: ist)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Pelatihan tata boga yang digelar Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau di Kecamatan Tabalar tak hanya mengasah kemampuan membuat aneka kue. Kegiatan yang berlangsung pada 27–29 Juli 2026 itu juga menjadi upaya pemerintah daerah mencetak bibit-bibit wirausaha baru dari sektor kuliner. Pelatihan ini melibatkan 25 peserta yang berasal dari pelaku UMKM hingga masyarakat yang baru ingin memulai usaha.
Melalui program pembinaan kelembagaan serta pengembangan potensi sektor mikro, peserta memperoleh pelatihan pembuatan berbagai jenis kue tradisional dan modern yang memiliki peluang pasar cukup menjanjikan.
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, mengatakan penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi penting dalam membangun UMKM yang mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan usaha.
“Yang ingin kami bangun bukan hanya kemampuan membuat produk, tetapi juga semangat untuk berani memulai usaha. Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini akan lahir pelaku-pelaku UMKM baru yang mampu mengembangkan usahanya secara mandiri,” ujarnya.
Eva menjelaskan, peserta pelatihan berasal dari latar belakang yang beragam. Sebagian telah memiliki usaha dan ingin meningkatkan kualitas produknya, sementara sebagian lainnya merupakan masyarakat yang belum pernah menjalankan usaha.
Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi kesempatan bagi peserta untuk belajar sejak tahap awal sekaligus memperluas wawasan mengenai peluang bisnis di bidang kuliner. Pihaknya memang membuka kesempatan seluas-luasnya, baik bagi UMKM yang ingin meningkatkan keterampilan maupun masyarakat yang baru memiliki minat berwirausaha.
“Harapannya, pelatihan ini bisa menjadi langkah pertama mereka sebelum benar-benar terjun ke dunia usaha,” tuturnya.
Selama tiga hari pelatihan, peserta mempraktikkan pembuatan aneka kue yang dinilai memiliki prospek usaha karena permintaannya relatif stabil untuk berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari konsumsi sehari-hari hingga pesanan acara.
Eva menilai sektor kuliner masih menjadi salah satu usaha yang potensial dikembangkan karena dapat dimulai dengan modal yang relatif terjangkau dan memiliki pasar yang luas. Kata dia, kalau keterampilan sudah dimiliki, tinggal bagaimana peserta terus berlatih dan mengembangkannya menjadi produk yang bernilai jual.
“Kami berharap ilmu yang didapat tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar diwujudkan menjadi usaha yang mampu menambah pendapatan keluarga sekaligus menggerakkan ekonomi daerah,” pungkasnya. (Riska)