src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ketua Ikatan Psikologi Klinis Himpunan Psikologi (IPK HIMPSI) Kalimantan Timur Ayunda Ramadhani. (Antara Kaltim/HO-Ayunda Ramadhani). HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Menjelang peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh pada 23 Juli 2025, sorotan tajam datang dari Ketua Ikatan Psikologi Klinis (IPK) HIMPSI Kalimantan Timur, Ayunda Ramadhani. Ia mengungkap fakta memilukan bahwa kekerasan anak masih menjadi fenomena gunung es yang belum tertangani secara menyeluruh. Psikolog Kaltim itu menekankan pentingnya keterlibatan lintas sektor dalam menangani kasus-kasus kekerasan yang kian kompleks.
Saat ditemui di Samarinda, Selasa (22/7), Ayunda menyebut bahwa sepanjang Januari hingga Mei 2025, UPTD PPA Kota Samarinda telah menerima lebih dari 50 laporan kekerasan terhadap anak. Ia menjelaskan bahwa jumlah korban bisa lebih besar, karena dalam satu laporan kerap melibatkan lebih dari satu anak.
“Kasus kekerasan pada anak tidak hanya yang terpampang di televisi, tapi sangat sering terjadi di lingkungan kita sehari-hari,” ungkap Ayunda yang juga dosen Psikologi Universitas Mulawarman, dikutip dari Antara Kaltim.
Menurutnya, kekerasan seksual menempati urutan pertama, disusul kekerasan fisik, yang kerap terjadi dalam konteks Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan kekerasan psikologis. Lebih miris lagi, sekitar 90 persen pelaku justru berasal dari kalangan terdekat anak, seperti keluarga atau orang yang mereka kenal baik.
“Bisa dibayangkan ketika dunia yang mereka bergantung itu ternyata jahat sama mereka,” kata Ayunda.
Ia menegaskan bahwa trauma psikologis anak dapat semakin parah apabila pelaku adalah orang yang seharusnya menjadi pelindung. Untuk itu, Ayunda menilai penanganan kekerasan anak harus dilakukan secara komprehensif, melibatkan berbagai profesional seperti psikolog, tenaga kesehatan, dan instansi terkait.
Selain penanganan, Ayunda menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai pelindung utama anak. Ia mengingatkan agar para orang tua membekali diri dengan kemampuan mengelola emosi dan stres sebelum memutuskan memiliki anak.
“Orang tua yang memilih memiliki anak, maka sudah semestinya mereka juga lebih matang dalam pengendalian emosinya,” tegasnya.
Bila anak menunjukkan perubahan sikap, seperti menjadi pendiam, rewel, atau mudah marah, orang tua diimbau untuk tidak panik. Sebaliknya, dibutuhkan pendekatan lembut dan penuh empati agar anak merasa aman untuk bercerita.
Dalam konteks pencegahan, Ayunda menyambut positif pembentukan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sekolah-sekolah. Keberadaan TPPK di tingkat SD, SMP, dan SMA di Samarinda dinilai sebagai langkah maju dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman.
Jika kasus terjadi di sekolah, pelaporan dapat dilakukan ke TPPK. Namun jika terjadi di luar sekolah, seperti di rumah atau lingkungan sekitar, masyarakat diminta segera melapor ke UPTD PPA Kota Samarinda.
“Kontribusi harus dari seluruh masyarakat, kita harus saling bahu-membahu,” pungkas Ayunda, dikutip dari Antara Kaltim.
Artikel Asli baca di antaranews.com
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya