Beranda BERITA Webinar JMSI-Farah.id, Dua Dokter Cantik Tebar Tips Soal Kehamilan dan Anak di...

Webinar JMSI-Farah.id, Dua Dokter Cantik Tebar Tips Soal Kehamilan dan Anak di Masa Pandemi

Webinar JMSI-Farah.id, Dua Dokter Cantik Tebar Tips Soal Kehamilan dan Anak di Masa Pandemi
dr Marinda Suzanta, SpOG (K) D.MAS, F.ART, CHt, Ci saat menyampaikan materi webinar. (foto: istimewa)

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – JMSI menggandeng Farah.id menggelar webinar dengan tema “Membangun Generasi Emas di Masa Pandemi” pada Minggu 14 Februari 2021.

Dua narasumber yang dihadirkan adalah dr Marinda Suzanta, SpOG (K) D.MAS, F.ART, CHt, Ci selaku Konsultan Fertility Endokrinologi Reproduksi RS EMC Tanggerang dan dr. Vicka Farah Diba Msc SpA, dokter anak RS JIH sekaligus penulis buku. Diskusi daring ini dipandu oleh Amelia Fitriani, redaktur farah.id.

Terkait dengan kehamilan di masa pandemi COVID-19, dr Marinda Suzanta mengatakan, para moms atau kaum ibu tidak usah khawatir berlebihan. Namun, ia menekankan bahwa pola hidup harus diubah, tentunya juga harus menaati protokol kesehatan yang akan melindungi ibu hamil dan janin dalam kandungan.

Advertisement

“Semua tidak masalah, jangan khawatir berlebihan. Pola hidup sehat harus dijalankan, tentunya juga disiplin protokol kesehatan, itu penting. Penting juga, atur pola mindset kita, rileks saja dan cari sarana yang aman dan nyaman untuk menghadirkan rasa itu,” ujarnya.

Ia menyebut, jika ada seorang ibu hamil yang kemudian diketahui terpapar positif COVID-19, maka ia meminta agar si ibu tidak cemas berlebihan. Kecemasan akan mempengaruhi stres pada ibu sehingga berdampak pada bayi dalam kandungan.

Ia meyakinkan bahwa COVID-19 pada ibu hamil hanya berdampak pada si ibu, tapi tidak berdampak pada bayi yang dikandungnya.

Baca Juga  Ketua MPR Kukuhkan Pengurus Pusat JMSI Siang Ini

“Untuk COVID-19 pada ibu hamil ini, COVID-19 hanya berdampak pada si ibu hamil. Untuk sementara ini, penularan untuk bayi itu bisa dibilang vertikal penyebarannya, itu dari hasil penelitian,” terangnya.

“Bayi kita itu banyak sekali pelindungnya, ‘Tembok Cinanya’ tinggi. Kalau saya bilang sama pasien saya, jadi anda tenang saja, rileks saja. Biasanya bayi-bayi itu benar-benar aman di dalam perut si ibu. Perlindungannya, perisainya banyak banget. Artinya untuk ibunya bisa jadi (terpapar COVID-19, red). Saya pesan, untuk ibu hamil tolong jaga kesehatan anda, jangan sampai sakit,” pesannya.

GENERASI EMAS

Topik yang tak kalah menarik dibahas adalah tentang membangun generasi emas di masa pandemi yang disampaikan oleh dr Vicka Farah Diba.

Ia mengatakan, di masa pandemi COVID-19 ini banyak orangtua yang khawatir akan kesehatan dan keselamatan anak-anak mereka. Sehingga banyak mengupayakan memberikan suplemen dan vitamin berbagai merek kepada si buah hati demi terlindungi dari virus COVID-19.

Namun, ternyata untuk mencegah si buah hati dari serangan virus, tidak ada suplemen atau vitamin khusus.

“Karena memerangi itu dengan antibodi dan banyak protein. Tapi jika si anak sudah terpapar COVID-19, maka banyak komponen selain suplemen yang diberikan, diantaranya terapi tambahan vitamin C,” katanya.

Soal tingkat resiko terpaparnya seorang anak dalam keluarga oleh virus COVID-19, dr Vicka tidak memungkiri hal tersebut. Menurutnya, tingkat keterpaparan anak juga akan sama jika di dalam satu anggota keluarga ada yang positif COVID-19.

Baca Juga  Mendorong Ekosistem Riset, Mendorong Kebijakan Berbasis Bukti 

“Kontak di dalam keluarga ini kan erat ya, sehingga cepat penularannya, ini akan langsung dan gampang dari droplate. Tingkat infeksinya juga tinggi. Jadi ciri khas klaster keluarga memang sangat cepat terjadi penularan. Makanya tetap harus menjaga protokol kesehatan dan menjaga kesehatan, menjaga melindungi keluarga di rumah,” ujarnya.

Dia juga menyinggung soal sekolah tatap muka. Menurutnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) belum merekomendasikan untuk dilakukannya pembelajaran tatap muka di sekolah.

Alasannya, resiko penularan virus COVID-19 masih tinggi dan anak-anak akan mudah terpapar. Untuk itu, ia menekankan banyak hal yang harus dipertimbangkan jika ingin menggelar sekolah tatap muka, mulai dari kesiapan anak selalu siswa, orangtua, guru dan pihak sekolah tentunya.

Banyak pertimbangan yang harus dilakukan. Selain orangtua harus melengkapi, menyetujui beberapa syarat, tentu juga pihak sekolah harus telah lebih dulu menskrining tenaga pengajar, hingga penyediaan perlengkapan diterapkannya protokol kesehatan.

“Dapat mengatur jaga jarak anak-anak dalam kelas, bisa menjamin anak-anak menjalankan Prokes, punya UKS untuk menempatkan anak-anak yang memiliki potensi terpapar. Termasuk orangtua juga harus menjamin ketika anaknya sampai di sekolah seperti apa. Kemudian apakah di rumah siswa ada anggota keluarga yang komorbit, ini juga faktor penting,” pungkasnya.

Penulis : Ningsih
Editor: MH Amal

Komentar