src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Waspadai Efek Samping Ikan Sapu-Sapu, Bisa Menurunkan Fungsi Otak

Waspadai Efek Samping Ikan Sapu-Sapu, Bisa Menurunkan Fungsi Otak

2 minutes reading
Thursday, 23 Apr 2026 10:44 1 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Konsumsi ikan sapu-sapu disebut berisiko bagi kesehatan, terutama jika berasal dari perairan tercemar. Dilansir dari CNN Indonesia, dalam beberapa bulan terakhir, ikan sapu-sapu menjadi sorotan setelah beredar informasi mengenai penggunaannya sebagai bahan olahan makanan seperti siomay hingga abon.

Kekhawatiran muncul karena ikan tersebut diduga terkontaminasi dari lingkungan yang tercemar. Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Herwin Meifendy, mengingatkan bahwa dampak konsumsi ikan sapu-sapu tidak selalu terlihat secara langsung, melainkan berisiko dalam jangka panjang.

“Efek mengonsumsi ikan sapu-sapu tidak selalu langsung terlihat. Justru yang perlu diwaspadai adalah dampak jangka panjang yang bisa memicu penyakit kronis,” ujarnya.

Menurutnya, ikan sapu-sapu berpotensi mengandung logam berat seperti merkuri, timbal (Pb), arsen, dan kadmium. Zat-zat tersebut dapat terakumulasi dalam tubuh dan memicu berbagai gangguan kesehatan serius.

Merkuri, misalnya, dapat menyerang organ vital seperti ginjal, paru-paru, serta sistem saraf dan otak. Sementara itu, timbal diketahui berdampak pada saraf pusat yang dapat menurunkan kecerdasan dan memicu gangguan perilaku.

Arsen memiliki sifat karsinogenik yang berpotensi menyebabkan kanker, sedangkan kadmium dapat merusak ginjal dan sistem pernapasan.

“Jika terus terakumulasi, bukan tidak mungkin memicu gangguan serius seperti penurunan fungsi otak hingga penyakit kronis lainnya,” kata Herwin.

Ia juga menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada metode pengolahan yang mampu sepenuhnya menghilangkan kandungan logam berat dalam ikan tersebut.

Selain dampak pada fungsi otak, ikan sapu-sapu juga memiliki sejumlah risiko lain bagi kesehatan. Pertama, potensi kontaminasi logam berat akibat habitatnya di perairan tercemar yang dapat merusak organ tubuh.

Kedua, paparan limbah kimia dan pestisida dari lingkungan yang kotor membuat ikan ini rentan menyerap zat berbahaya.

Ketiga, risiko bakteri dan parasit yang dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan hingga keracunan makanan jika tidak diolah dengan benar.

Keempat, kemungkinan reaksi alergi pada sebagian orang, seperti gatal, ruam kulit, hingga gangguan pencernaan.

Kelima, anggapan bahwa proses memasak dapat menghilangkan racun tidak sepenuhnya benar. Meskipun dapat membunuh bakteri, zat kimia berbahaya seperti logam berat tetap bertahan dalam daging ikan.

Herwin mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih sumber pangan dan menghindari konsumsi ikan sapu-sapu dengan beralih ke jenis ikan lain yang lebih aman dan bergizi.

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x