src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Di rumah kayu sederhana, perajin lokal merangkai manik-manik baju dan topi adat Dayak sebagai warisan budaya dan sumber penghidupan. foto (rri/sarini )HEADLINEKALTIM.CO, UJOH BILANG – Di tengah pelosok Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, semangat pelestarian budaya lokal terus menyala lewat karya tangan seorang nenek perajin. Ia masih aktif merajut benang-benang budaya dengan membuat baju adat Dayak lengkap dengan ornamen manik-manik dan topi khas suku Dayak yang kini jadi primadona pesanan masyarakat lokal.
Tak sekadar menjadi simbol tradisi, pakaian adat ini juga menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Setiap baju adat Dayak hasil karyanya bisa terjual hingga jutaan rupiah, tergantung pada tingkat kerumitan dan kelengkapan aksesori.
“Kalau orang mau pesan baju, biasanya mengukurnya di saya. Nanti saya yang urus semua, kadang saya suruh orang bantu buat topi atau jahit. Harga maniknya beda-beda, ada yang dua juta, dua juta tiga ratus, sampai dua juta lima ratus kalau lengkap sama topinya. Ini cowoknya, ini ceweknya. Kalau penuh manik, harganya lebih tinggi,”ungkapnya, dikutip dari RRI.co.id.
Tak bekerja sendiri, sang nenek juga menggandeng warga sekitar dalam proses produksi. Ia menciptakan kerja sama berbasis komunitas kecil: ada yang membantu menjahit, membuat topi, hingga menyiapkan manik-manik yang jadi ciri khas pakaian adat Dayak.
Bahan baku sebagian besar didatangkan dari luar kampung untuk menjaga kualitas, sekaligus menjawab permintaan konsumen yang terus datang, baik dari warga setempat maupun pemesan dari luar daerah.
Artikel Asli baca di rri.co.id
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya