src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Pembahasan UMSK Berau 2026. (Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Dewan Pengupahan Berau melanjutkan pembahasan Upah Minimum Kabupaten Sektoral (UMSK) Berau Tahun 2026 pada Minggu, 21 Desember 2025 di Ruang Rapat lantai III Disnakertrans Berau. Berdasarkan hasil voting dan kesepakatan oleh Dewan Pengupahan Berau, koefisien alfa untuk sektor perkebunan sawit dan pertambangan batu bara sebesar 0,67.
Proyeksi UMSK Berau 2026 pada sektor perkebunan sawit sebesar Rp4.396.238,32. Nilai kenaikan dari tahun 2025 sebesar 6,65 persen atau Rp274.028,05. Sementara, proyeksi UMSK Berau 2026 pada sektor pertambangan batu bara disepakati sebesar Rp4.463.705,35. Nilai kenaikan dari tahun 2025 sebesar 6,65 persen atau Rp278.233,43.
Mediator atau Sub Koordinator Hubungan Industrial Disnakertrans Berau, Andi Asmar menyampaikan, dewan pengupahan Berau telah menyetujui untuk masing-masing sektor perkebunan dan pertambangan. “Berita acara sudah ditandatangani semua. Besok kita siapkan semua dokumen pendukungnya,” jelasnya.
Hasil rapat Dewan Pengupahan akan ditindaklanjuti dengan Rekomendasi Bupati Berau untuk diteruskan ke Gubernur kaltim melalui Disnakertrans Provinsi Kaltim untuk mendapatkan keputusan penetapan. “Insya Allah pada Rabu, 24 Desember 2025. Dan itu serentak,” bebernya.
Andi menjelaskan, pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, Berau selalu tertinggi. Namun, untuk saat ini pihaknya belum bisa memastikan perbandingan dari kabupaten lain sebab belum ada informasi. “Kecuali ada perubahan formula dari aturan yang baru, tapi kalau masih pakai yang sama akan selalu begitu. Kalau melihat dari persentase kenaikan kemungkinan menjadi yang tertinggi karena dihitung dari dasar hitungan upah minimum tahun berjalan,” ungkapnya.
Menurutnya, suatu hal yang wajar ketika dalam suatu forum ada perbedaan pendapat dan selisih paham. Namun, hal tersebut tidak menjadi kendala yang menghentikan jalannya rapat. “Apapun dinamikanya menjadi sesuatu yang kadang terjadi,” tuturnya.
Sekjen Apindo Ishak Sugianto mengatakan, memang dari sisi persentasenya sama. Namun, jika dilihat dari sisi angka lebih unggul sektor batu bara ketimbang perkebunan sawit. Menurutnya, kenaikan UMSK 2026 signifikan walaupun nilai angka koefisien alfanya sama, yakni 0,67.
“Jadi menurut kami, itulah yang membuat akhirnya dalam pembahasan khususnya pada sektor pertambangan tidak membutuhkan waktu yang lama, sekitar dua jam itu sudah selesai,” jelasnya.
Pihaknya juga berkomitmen untuk melaksanakan hasil rapat dari Dewan Pengupahan Berau mengenai UMK dan UMSK Berau 2026 di lapangan. “Ketika sudah dibuat Surat Keputusan (SK) maka itu harus dijalankan oleh perusahaan yang bergerak pada sektor perkebunan sawit dan pertambangan batu bara,” ucapnya.
Mewakili Serikat Buruh, Yusran menuturkan bahwa pihaknya menerima hasil rapat UMSK Berau 2026, baik pada sektor perkebunan sawit dan pertambangan batu bara. “Hari ini sudah terakhir pembahasan UMSK Berau 2026,” tutupnya. (Riska)