src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Pertunjukan teater anak inklusi. (Foto: Ist/Gerobooks Berau)Sejumlah peserta didik dari SLBN Tanjung Redeb mampu membuat ratusan pasang mata terpaku. Tak ada suara dialog yang lantang terdengar dari atas panggung. Namun, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan tatapan mata delapan anak tunarungu yang mengangkat cerita berjudul “Kue Itu Bernama Sarang Semut”. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi dan berkarya.
Di balik pertunjukan yang memukau lebih dari 300 penonton, tersimpan perjalanan panjang selama tiga minggu. Sebanyak 25 anak mengikuti Workshop Teater Anak Inklusi bertajuk Waktunya Main, sebuah program yang diinisiasi Komunitas Gerobooks Berau. Dari puluhan peserta tersebut, delapan anak akhirnya terpilih menjadi aktor dan aktris dalam pertunjukan.
Adapun pertunjukan teater anak inklusi ini dilaksanakan pada Minggu, 14 Juni 2026 bertempat di Ballroom Ex Cantika Swara. Selain pertunjukan juga terdapat Art Market dan Bazar UMKM sebagai dukungan Gsrobooks kepada UMKM dan ekonomi Kreatif. Kemudian, juga hadir pengisi acara, talenta berprestasi dari SLBN Tanjung Redeb.
Ketua Komunitas Gerobooks Berau, Risna Herjayanti, mengungkapkan bahwa kegiatan ini lahir dari keinginan sederhana yakni memberikan ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengenal seni dan menunjukkan potensi yang mereka miliki.
“Anak-anak ini memiliki kemampuan yang luar biasa. Mereka hanya membutuhkan ruang dan kesempatan untuk menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya,” ujarnya.
Bagi anak-anak peserta workshop, teater bukan sekadar belajar memainkan peran. Mereka belajar mengenali emosi, bekerja sama, disiplin, dan yang terpenting, berani tampil di depan banyak orang.
Proses menuju panggung pun tidak mudah. Jadwal latihan harus berbagi waktu dengan ujian sekolah. Persiapan yang singkat membuat panitia dan pendamping beberapa kali dihadapkan pada berbagai kendala teknis. Namun, semuanya terbayar ketika anak-anak tampil tanpa ragu di hadapan ratusan pasang mata.
Kesuksesan pertunjukan tersebut juga tidak lepas dari kolaborasi banyak pihak. Buku cerita anak bergambar “Kue Itu Bernama Sarang Semut” ini ditulis oleh Renata Andini Pangesti. Komunitas Penikmat Teater menghadirkan pelatih dan mendukung penataan artistik, sementara para relawan dari Universitas Muhammadiyah Berau ikut mendampingi selama kegiatan berlangsung. Guru-guru dan pendamping dari SLBN Tanjung Redeb pun menjadi sosok penting yang setia menemani anak-anak sejak latihan hingga hari pertunjukan.
“Ka Andiane dari Komunitas Penikmat Teater, dalam hal ini sebagai pelatih teater. Ibu Sherly Mekel, Pak Bowo, Ibu Jihan, Pak Ulil sebagai pendamping dari SLBN Tanjung Redeb. Ka Dhani sebagai penata bunyi, ka Arif sebagai penata cahaya. Penata busana yaitu Anisah Dhiya Azizaj,” jelasnya.
Suasana haru beberapa kali terasa selama pementasan. Banyak penonton yang tak kuasa menyembunyikan rasa bangga melihat keberanian para pementas berusia dini itu. Tak hanya di ballroom, pertunjukan yang disiarkan melalui YouTube juga disaksikan lebih dari 500 penonton.
Bagi Risna, tingginya antusiasme masyarakat menjadi pertanda bahwa seni inklusi memiliki tempat di tengah masyarakat. Lebih dari sekadar pertunjukan, kegiatan ini adalah pesan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkarya dan bermimpi.
“Semoga anak-anak SLBN Tanjung Redeb bisa terus berkarya dan semakin percaya diri. Kami juga berharap kegiatan ini menginspirasi lebih banyak sekolah, komunitas, maupun instansi untuk membuka ruang-ruang kreatif yang inklusif,” pungkasnya. (Riska)