Beranda EKONOMI September 2020, Kaltim Alami Deflasi Lebih Dalam

September 2020, Kaltim Alami Deflasi Lebih Dalam

September 2020, Kaltim Alami Deflasi Lebih Dalam - headlinekaltim.co
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Tutuk S.H Cahyono. (foto/istimewa)
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalimantan Timur (Kaltim) September 2020 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,40 persen (month to month/mtm).

Turun lebih dalam dibandingkan deflasi sebesar 0,17 (mtm) pada bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi IHK September 2020 tercatat sebesar 0,61% (year on year/yoy).

Sementara inflasi tahun kalender sebesar 0,34% (ytd). Berdasarkan kelompok pengeluarannya,deflasi September 2020 bersumber dari kelompok pakaian dan alas kaki yang tercatat 1.46 persen (mtm).

Advertisement

Disamping itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami deflasi yang cukup dalam sebesar 1,26%. (mtm).

“Deflasi kelompok pakaian dan alas kaki merupakan dampak dari masyarakat yang masih relatif membatasi kegiatan konsumsi non kebutuhan pokok. Hal ini tampak dalam Survei Konsumen Bank Indonesia September 2020 tercatat 82,17, turun dari sebelumnya 90,25,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Tutuk S.H Cahyono, Kamis 1 Oktober 2020 dalam rilis yang diterima media ini.

Hal ini juga dikonfirmasi dengan Indeks Penjualan Riil dalam Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia yang mencatatkan kontraksi 0,4 persen (mtm) pada September 2020.

Selain kelompok pakaian dan alas kaki, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami penurunan harga. Deflasi kelompok ini disebabkan oleh musim panen yang menyebabkan kelebihan pasokan di masyarakat.

Berdasarkan komoditasnya, daging ayam ras mengalami penurunan harga dari rata-rata harga Rp28.550 menjadi Rp27.700.

Konsumsi dari ayam ras yang masih rendah menjadikan pedagang menjual dengan margin yang cukup tipis untuk memastikan stok tetap habis.

Selain itu, pembelian partai besar yang umumnya dilakukan oleh penyedia jasa katering atau restoran atau hotel juga belum tinggi.

“Bawang merah juga mengalami penurunan harga dari rata-rata harga Rp30.300 per kilogram menjadi Rp29.900 per kilogram akibat pasokan di daerah produsen seperti Brebes yang masih melimpah,” kata Tutuk.

Namun demikian, deflasi yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga emas perhiasan yang masih mengikuti tren harga emas di pasar global yang masih meningkat akibat ketidakpastian kondisi ekonomi di banyak negara.

Penulis : Amin

Komentar
Advertisement