src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Menikah Usia 30-an Picu Risiko Perceraian? Ini Fakta Ilmiah dan Penjelasan Ahli

Menikah Usia 30-an Picu Risiko Perceraian? Ini Fakta Ilmiah dan Penjelasan Ahli

waktu baca 2 menit
Kamis, 8 Jan 2026 14:41 163 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Pandangan bahwa menikah usia 30-an memiliki risiko perceraian lebih tinggi dibanding menikah di usia lebih muda masih sering dipercaya. Anggapan ini bahkan didukung oleh sejumlah penelitian yang mencoba memetakan hubungan antara usia menikah dan stabilitas rumah tangga.

Salah satu riset yang kerap dikutip adalah studi sosiolog Universitas Utah, Nicholas H. Wolfinger, pada 2015. Dilansir dari CNN Indonesia, Wolfinger menemukan adanya pola risiko perceraian yang berubah seiring bertambahnya usia menikah.

Dalam penelitiannya, Wolfinger menyebut adanya “usia ideal” atau sweet spot untuk menikah. Ia menemukan bahwa seseorang yang menikah di usia 20 tahun memiliki risiko perceraian lebih dari 50 persen dibanding mereka yang menikah pada usia 25 tahun.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa setiap penundaan usia menikah dapat menurunkan risiko perceraian sekitar 11 persen per tahun. Namun, penurunan risiko itu tidak berlangsung selamanya. Setelah usia 32 tahun, risiko perceraian justru kembali meningkat.

Temuan ini membuat menikah usia 30-an kerap dianggap lebih berisiko. Wolfinger menduga salah satu penyebabnya adalah pengalaman hubungan sebelumnya. Semakin lama seseorang menunda pernikahan, semakin besar kemungkinan memiliki lebih banyak mantan pasangan.

Ia menilai bahwa individu yang menikah usia 30-an mungkin memiliki kecenderungan tertentu, seperti kesulitan berkomitmen atau masalah dalam hubungan interpersonal, yang dapat meningkatkan risiko perceraian.

Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya disepakati oleh para ahli. Sosiolog Universitas Maryland, Philip Cohen, menawarkan perspektif berbeda melalui penelitiannya pada 2022.

Cohen menemukan bahwa risiko perceraian justru terus menurun seiring bertambahnya usia perempuan saat menikah, terutama sebelum usia 30 tahun, lalu cenderung stabil hingga usia 45 tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa menikah usia 30-an tidak otomatis meningkatkan risiko perceraian.

Menurut Cohen, usia hanyalah salah satu faktor statistik dalam skala besar dan tidak bisa dijadikan penentu tunggal keberhasilan pernikahan. Ia menilai terlalu fokus pada angka usia justru bisa menyesatkan.

Cohen menegaskan bahwa menikah semata-mata untuk menekan risiko perceraian adalah pendekatan yang keliru. Menurutnya, kualitas pasangan dan kesiapan individu jauh lebih penting dibanding usia biologis.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan pernikahan dipengaruhi oleh banyak variabel, mulai dari kesiapan emosional, kualitas komunikasi, kondisi ekonomi, kesamaan nilai hidup, hingga dinamika pribadi masing-masing pasangan.

Dengan demikian, meski beberapa data menunjukkan pola tertentu antara menikah usia 30-an dan risiko perceraian, para ahli sepakat tidak ada rumus pasti untuk menjamin pernikahan yang langgeng. Menikah terlalu cepat maupun terlalu lama sama-sama tidak dapat dijadikan jaminan keberhasilan hubungan.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x