src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Tim Verifikator Soroti Aspek Informasi Edukatif Geosite di Berau, Apresiasi Kerterlibatan Masyarakat Kelola Kawasan

Tim Verifikator Soroti Aspek Informasi Edukatif Geosite di Berau, Apresiasi Kerterlibatan Masyarakat Kelola Kawasan

waktu baca 3 menit
Jumat, 10 Jul 2026 15:32 12 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Tim Verifikator Geopark Sangkulirang-Mangkalihat melakukan verifikasi culture site di Keraton Sambaliung dan Museum Batiwakkal Gunung Tabur pada Jumat, 10 Juli 2026.
Tim juga telah mengunjungi Tanjung Sinondok di Kampung Teluk Sumbang, Labuan Cermin di Biduk-Biduk, serta Wisata Air Asin Panas Pemapak di Biatan Bapinang pada Kamis, 9 Juli 2026.

Ketua Tim Verifikator Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, Prof. Mega Fatimah Rosana, menyampaikan hasil peninjauan lapangan selama lima hari di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat menunjukkan kesiapan yang cukup baik. Meskipun baru mengunjungi sekitar 20 persen kawasan geopark, tim menilai lokasi yang dikunjungi telah mewakili kondisi pengelolaan secara umum.

“Sebagian besar geosite telah berhasil dimanfaatkan sebagai destinasi wisata sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Namun, aspek edukasi yang menjadi salah satu syarat utama sebuah geopark masih perlu diperkuat,” jelasnya usai Verifikasi Dokumen Geopark Sangkulirang-Mangkalihat di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau.

Ia mencontohkan kawasan Labuan Cermin yang memiliki fenomena air asin dan air tawar dalam satu danau. Informasi ilmiah mengenai keunikan tersebut dinilai belum tersampaikan secara optimal kepada pengunjung melalui papan interpretasi atau media edukasi lainnya.

“Kalau sudah berlabel geopark, pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memahami proses geologi yang membentuknya. Informasi seperti itu harus lebih banyak disajikan,” ujarnya.

Hal serupa juga diperlukan di sejumlah geosite lain agar wisatawan memperoleh pengalaman belajar, bukan sekadar berwisata. Di sisi lain, tim verifikasi memberikan apresiasi terhadap keterlibatan masyarakat dalam mengelola kawasan.

Menurutnya, semangat masyarakat menjaga kelestarian alam menjadi modal utama dalam pengembangan geopark. “Kami melihat masyarakat sudah cukup mandiri mengelola kawasan. Itu menjadi fondasi yang sangat baik untuk pengembangan geopark ke depan,” tuturnya.

Salah satu contoh yang mendapat perhatian adalah Taman Sungai Dumaring yang dinilai telah menggabungkan unsur konservasi, edukasi, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam satu kawasan.

Selain geologi, tim juga menekankan pentingnya penguatan aspek budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari geopark. Keraton Sambaliung, Museum Batiwakkal Gunung Tabur, hingga kawasan kota tua dan bekas pertambangan di Teluk Bayur dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya.

Ada tiga aspek geopark yakni, geologi, culture, dan flora fauna atau hayati. Tak hanya warisan benda, budaya tak benda seperti kuliner khas daerah juga dinilai perlu terus dilestarikan sebagai identitas kawasan geopark.

Profesor Mega juga mengajak media berperan aktif sebagai mitra pengawasan dengan menyampaikan informasi apabila terdapat fasilitas yang rusak atau memerlukan perbaikan sehingga pengelola dapat segera melakukan penanganan.

OKTOBER, HASIL REKOMENDASI DIKETAHUI

Terkait penetapan Geopark Nasional, ia mengatakan keputusan akhir berada di tangan rapat lintas kementerian yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang. Hasil rekomendasi diperkirakan mulai diketahui pada Oktober, sedangkan Surat Keputusan resmi dari kementerian biasanya diterbitkan sekitar April tahun berikutnya.

“Kami optimistis. Tugas kami melaporkan apa yang kami lihat di lapangan dan mencocokkannya dengan dokumen. Selanjutnya keputusan ada di rapat antarkementerian,” pungkasnya. (Riska)

LAINNYA
x