src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Bahasa Banua Resmi Masuk Muatan Lokal SMP di Kabupaten Berau

Bahasa Banua Resmi Masuk Muatan Lokal SMP di Kabupaten Berau

waktu baca 2 menit
Jumat, 3 Jul 2026 20:16 18 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Kekhawatiran akan semakin berkurangnya penutur Bahasa Banua mendorong Pemerintah Kabupaten Berau mengambil langkah strategis. Mulai Tahun Ajaran 2026/2027, Bahasa Banua resmi diajarkan sebagai mata pelajaran muatan lokal di seluruh jenjang SMP sebagai upaya menyelamatkan salah satu warisan budaya masyarakat Berau.

Sekretaris Daerah Berau, Muhammad Said, mengatakan kebijakan tersebut lahir sebagai respons terhadap tantangan pelestarian bahasa daerah di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang membuat generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini disampaikannya saat Peluncuran Penerapan Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Banua Jenjang SMP pada Kamis, 2 Juli 2026 di Aula SPNF SKB Kabupaten Berau. Menurutnya, Bahasa Banua bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas budaya yang menyimpan sejarah, adat istiadat, nilai-nilai luhur, hingga filosofi kehidupan masyarakat Berau.

“Memasukkan Bahasa Banua sebagai mata pelajaran muatan lokal merupakan kebijakan strategis. Tujuannya bukan hanya mengenalkan bahasa daerah kepada peserta didik, tetapi juga menanamkan rasa bangga, cinta, dan tanggung jawab terhadap budaya daerahnya sendiri,” jelasnya.

Melalui pembelajaran yang terstruktur di sekolah, pemerintah berharap para pelajar tidak hanya mampu memahami dan menggunakan Bahasa Banua, tetapi juga mengenal akar budaya daerahnya.

Said mengungkapkan kondisi Bahasa Banua saat ini cukup memprihatinkan. Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah, jumlah penutur aktif Bahasa Banua diperkirakan hanya sekitar 11.200 orang dari total sekitar 300 ribu penduduk Kabupaten Berau. Artinya, hanya sekitar 3 hingga 4 persen masyarakat yang masih menggunakan Bahasa Banua dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini menjadi perhatian kita bersama. Mudah-mudahan dengan diformalkannya pengajaran Bahasa Banua di tingkat SMP, semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang kembali menuturkan bahasa ini,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Bahasa Banua memiliki karakteristik yang berbeda dengan bahasa daerah lainnya sehingga menjadi kekayaan budaya yang layak dipertahankan. Meski hingga kini masih bertahan, jumlah penuturnya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut diperparah karena mayoritas penutur aktif berasal dari kalangan usia lanjut.

“Justru penuturnya semakin sedikit karena faktor usia. Banyak anak-anak yang lahir di Berau, bahkan orang tuanya juga berasal dari Berau, tetapi belum tentu lagi memahami Bahasa Banua,” jelasnya.

Menurutnya, apabila tidak ada langkah konkret, Bahasa Banua berpotensi mengalami kepunahan seiring berkurangnya generasi yang mampu menuturkannya. Karena itu, melalui mata pelajaran muatan lokal, pemerintah setidaknya ingin memperkenalkan kembali kosakata, ungkapan, dan dasar-dasar Bahasa Banua kepada peserta didik agar bahasa tersebut tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kami berharap anak-anak minimal mengenal kosakata dan perbendaharaan Bahasa Banua. Dari situ diharapkan tumbuh rasa memiliki sehingga bahasa daerah ini tetap lestari,” pungkasnya. (Adv34/Riska)

LAINNYA
x