src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Fenomena El Nino Godzilla untuk menggambarkan fenomena kemarau ekstrem melanda sejumlah wilayah, termasuk Samarinda. Menyikapi kondisi ini, Pemerintah Kota Samarinda menggelar rapat koordinasi antisipasi dampak cuaca ekstrem ini, Rabu, 19 Agustus 2026, dipimpin langsung Asisten II Pemkot Samarinda dengan mengundang sejumlah perangkat daerah terkait.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, menjelaskan bahwa rapat ini digelar untuk memitigasi berbagai dampak yang sudah mulai terlihat di lapangan, salah satunya dari sisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan data terbaru dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD, tercatat sudah terjadi sekitar 61 kali kejadian karhutla dengan total luasan terdampak mencapai kurang lebih 83 hektare. “Hari ini membahas antisipasi dampak El Nino, atau sekarang yang di media banyak disebut El Nino Godzilla yang keringnya lebih tinggi,” kata Suwarso diwawancarai usai rapat.
Selain karhutla, sektor pertanian turut menjadi perhatian serius dalam rapat tersebut. Suwarso menjelaskan ada dua jenis ancaman yang membayangi petani, yakni gagal tanam akibat keterbatasan air sehingga benih yang sudah tumbuh tidak bisa ditanam, dan gagal panen atau puso akibat tanaman yang sudah ditanam kekurangan pasokan air di tengah masa pertumbuhannya.
Berdasarkan data terkini, daerah Serayu, Kelurahan Tanah Merah tercatat mengalami potensi gagal panen di lahan seluas sekitar 50 hektare. “Kalau dalam satu bulan ke depan tidak dapat hujan atau dengan sistem rekayasa penyiraman yang lain, mereka gagal panen,” sebut dia.
Suwarso menambahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut menyampaikan proyeksi bahwa puncak suhu terpanas diperkirakan terjadi pada Agustus, namun kondisi kemarau diperkirakan masih akan berlanjut hingga September mendatang.
Rapat koordinasi ini juga melibatkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk mengidentifikasi titik-titik wilayah yang berpotensi mengalami kelangkaan air bersih, khususnya kawasan yang belum terjangkau jaringan pipa PDAM.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Samarinda, lanjut Suwarso, tengah menyiapkan skema penyaluran air bersih lewat mobil tangki maupun penempatan tandon air secara berkelompok, bukan per individu, melainkan terkoordinir di tingkat RT atau titik-titik strategis seperti masjid, sehingga warga sekitar bisa mengambil air bersih secara kolektif.
“Bukan perorangan kita suplai, tapi terkoordinir di RT misalnya, atau di masjid, lingkungannya, kemudian masyarakat bisa mengambil air,” jelasnya.
Selain sektor pertanian, dampak kekeringan turut dirasakan sektor perikanan air tawar, di mana sejumlah kolam budidaya dilaporkan mengalami kekurangan air yang berpotensi mengganggu pertumbuhan ikan. Rapat koordinasi ini juga melibatkan Dinas Pemadam Kebakaran, BPBD, dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk membahas kondisi kualitas air dan udara di tengah situasi kemarau saat ini.
Soal kualitas udara, Suwarso memastikan kondisi di Kota Samarinda masih tergolong baik berdasarkan hasil pengukuran Kementerian Lingkungan Hidup. Sedangkan untuk kualitas air, masih diperlukan pendalaman analisis lebih lanjut meskipun data sementara dari PDAM menunjukkan kadar tertentu masih aman. “Informasi terakhir dari PDAM masih aman, kita di angka 19-an. Batasnya itu di angka 200, di atas itu sudah berisiko kualitas airnya,” ungkap Suwarso.
Ancaman intrusi air laut turut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam rapat. Pembahasan lebih difokuskan pada penyiapan skenario antisipasi apabila kondisi tersebut benar-benar terjadi. Skenario yang disiapkan meliputi penyaluran air bersih di sejumlah titik rawan, serta imbauan penghematan air sejak dini dengan memanfaatkan momen kondisi normal saat ini untuk mulai menampung cadangan air.
“Penghematan air bersih ini yang paling penting, mulai menampung-menampung saja dalam kondisi masih normal begini. Jika suatu saat memang ada kesulitan, kita bisa manfaatkan tampungan yang ada,” imbaunya.
Ditanya soal kemungkinan bantuan konkret bagi petani terdampak, Suwarso menyebut hasil identifikasi lahan pertanian yang berisiko gagal panen, termasuk area perkebunan sayur dan cabai akan dilaporkan terlebih dahulu kepada Wali Kota Samarinda sebelum ditentukan bentuk bantuan yang akan diberikan.
Kendati demikian, ia menegaskan seluruh langkah penanganan tetap akan mengedepankan prinsip efisiensi anggaran dengan mengedepankan skema kolaborasi lintas pihak. “Kondisi seperti ini pemerintah akan hadir, entah itu dengan menggerakkan beberapa peralatan yang dimiliki OPD, entah itu dimiliki perusahaan. Konsepnya kolaborasi, ini kita gerakkan semuanya,” tegas Suwarso. (Retno)