src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Gua Mengkuris Tunjukkan Kekuatan Geologi dan Budaya Kutim di Hadapan Tim Verifikasi

Gua Mengkuris Tunjukkan Kekuatan Geologi dan Budaya Kutim di Hadapan Tim Verifikasi

waktu baca 3 menit
Jumat, 10 Jul 2026 10:35 17 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO, SENGATTA  –  Gua Mengkuris di Desa Batu Lepoq, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur, menjadi salah satu lokasi penting yang ditinjau tim verifikasi Geopark Nasional Sangkulirang–Mangkalihat. Kawasan ini memikat perhatian berkat kekayaan geologi, warisan budaya, serta keberadaan lukisan cadas prasejarah yang diperkirakan berusia hingga 52.000 tahun.

Dilansir dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, tim verifikasi Geopark Nasional Sangkulirang–Mangkalihat melanjutkan agenda penilaian hari ketiga dengan mengunjungi Gua Mengkuris pada Rabu (8/7/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi terhadap potensi geologi, budaya, dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan geopark.

Kedatangan rombongan disambut masyarakat Desa Batu Lepoq melalui pertunjukan Tari Tapan, tarian tradisional Suku Dayak Basap, di gerbang menuju kawasan Gua Mengkuris. Penyambutan itu menjadi simbol penghormatan sekaligus menunjukkan partisipasi masyarakat dalam menjaga warisan budaya dan alam.

Setelah prosesi penyambutan, rombongan menempuh perjalanan sekitar tujuh kilometer menuju lokasi gua. Jalur yang dilalui melintasi kawasan milik salah satu perusahaan dengan panorama bentang alam karst yang masih alami, menghadirkan pemandangan khas yang menjadi daya tarik kawasan Sangkulirang–Mangkalihat.

Sesampainya di mulut gua, tim verifikasi kembali mengikuti prosesi adat Tempong Tawar yang dipimpin tokoh adat Dayak Basap. Ritual tersebut merupakan tradisi masyarakat setempat sebagai bentuk doa serta penghormatan kepada leluhur sebelum memasuki kawasan yang dianggap sakral.

Prosesi berlangsung khidmat sebagai simbol permohonan keselamatan sekaligus mencerminkan kearifan lokal masyarakat dalam menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam kunjungan tersebut, tim yang dipimpin Prof. Mega Fatimah Rosana melakukan peninjauan terhadap dua lokasi, yakni Gua Mengkuris dan Gua Haji yang berada berdampingan. Meski berdekatan, kedua gua tersebut memiliki karakteristik geologi dan morfologi yang berbeda.

Dengan mengenakan perlengkapan keselamatan, rombongan menyusuri jalur di antara batuan karst yang dipenuhi vegetasi alami sebelum memasuki mulut gua.

Keindahan kawasan langsung menarik perhatian tim verifikasi. Formasi batuan karst yang dihiasi stalaktit dan stalagmit alami berpadu dengan keberadaan lukisan telapak tangan serta berbagai lukisan prasejarah yang masih tampak di dinding gua.

Menggunakan alat penerangan, tim mendekati sejumlah lukisan cadas untuk mengamati kondisinya secara rinci. Cahaya lampu memperlihatkan detail gambar yang telah bertahan selama puluhan ribu tahun.

Selama proses peninjauan, tim didampingi penjaga gua, Mingu, bersama Dinas Pariwisata Kutai Timur dan Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur. Mereka memberikan penjelasan mengenai kondisi kawasan, sistem pengelolaan, upaya pelestarian, hingga keterlibatan masyarakat dalam menjaga situs bersejarah tersebut.

Tim verifikasi tampak mencatat berbagai informasi yang disampaikan sembari berdiskusi mengenai potensi pengembangan kawasan sebagai bagian dari Geopark Nasional Sangkulirang–Mangkalihat.

Antusiasme peserta bahkan membuat waktu kunjungan berlangsung lebih lama dari jadwal yang telah ditentukan. Semula peninjauan direncanakan sekitar satu setengah jam, namun kegiatan berlangsung lebih panjang karena tim terus mendokumentasikan dan mengkaji setiap sudut gua.

Secara geologi, Gua Mengkuris berkembang pada batu gamping klastik jenis wackestone-packstone yang termasuk Formasi Lembak dengan usia Oligosen Akhir hingga Miosen Awal, atau sekitar 16 hingga 28 juta tahun.

Bentang alam karst di kawasan tersebut terbentuk akibat struktur geologi berarah barat laut–tenggara yang memengaruhi pembentukan rekahan batuan, proses pelarutan, hingga terbentuknya lorong-lorong gua beserta berbagai ornamen speleotem seperti stalaktit.

Selain memiliki nilai geologi, Gua Mengkuris juga menyimpan kekayaan arkeologi. Di dalamnya ditemukan lukisan cadas berupa cap telapak tangan yang diperkirakan berasal dari rentang 52.000 hingga 40.000 tahun lalu.

Temuan tersebut menjadi bukti keberadaan manusia prasejarah di kawasan Sangkulirang–Mangkalihat sekaligus memperkuat posisi Gua Mengkuris sebagai salah satu situs seni cadas tertua di Asia Tenggara.

LAINNYA
x