src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Waspada Dead Butt Syndrome! Terlalu Lama Duduk Picu Nyeri Pinggul hingga Lutut

Waspada Dead Butt Syndrome! Terlalu Lama Duduk Picu Nyeri Pinggul hingga Lutut

3 minutes reading
Monday, 5 Jan 2026 14:06 135 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Gaya hidup modern yang menuntut aktivitas duduk berkepanjangan dapat berdampak buruk bagi kesehatan otot. Salah satu risiko yang kini banyak dibahas adalah dead butt syndrome, kondisi ketika otot gluteus atau otot bokong menjadi lemah dan kurang aktif akibat terlalu lama duduk.

Dilansir dari CNN Indonesia, dead butt syndrome juga dikenal dengan istilah gluteal amnesia. Kondisi ini bukan berarti otot benar-benar mati, melainkan terjadi penurunan komunikasi antara otak dan otot karena minimnya aktivitas fisik. Akibatnya, otot bokong seperti “lupa” menjalankan fungsinya.

Pada dead butt syndrome, otot gluteus medius tidak bekerja optimal. Ketika fungsi glute terganggu, otot lain—terutama punggung bawah—terpaksa menanggung beban yang seharusnya ditopang oleh bokong. Hal inilah yang memicu nyeri pinggul, nyeri punggung bawah, hingga nyeri lutut.

Gejala dead butt syndrome cukup beragam. Penderitanya dapat merasakan bokong nyeri atau mati rasa, rasa tidak nyaman pada pinggul, serta gangguan postur dan pola berjalan. Jika dibiarkan, dead butt syndrome berpotensi memicu masalah muskuloskeletal yang lebih serius.

Sumber lain yang dilansir WebMD menyebutkan, kegagalan otot glute menjalankan peran stabilisasi saat bergerak atau berolahraga dapat menyebabkan nyeri lutut kronis bahkan cedera. Karena itu, dead butt syndrome tidak hanya dialami mereka yang jarang bergerak, tetapi juga orang yang aktif namun memiliki pola duduk panjang.

Penderita dead butt syndrome mencakup berbagai kelompok, mulai dari pekerja kantoran, individu dengan riwayat nyeri punggung, hingga mereka yang mengalami nyeri lutut berkepanjangan. Kurangnya aktivasi glute membuat tubuh mencari kompensasi gerak yang tidak ideal.

Profesor emeritus University of Waterloo, Stuart McGill, dalam studi tahun 2013 menjelaskan mekanisme di balik dead butt syndrome. Ia menggunakan istilah “amnesia gluteal” dan “inhibisi gluteal” untuk menggambarkan kondisi ketika rasa sakit mengubah pola gerak seseorang.

“Pada orang dengan nyeri jangka panjang, pola denyut saraf yang didistribusikan ke otot dapat terganggu. Rasa sakit memicu jalur penghambatan, sehingga otak menemukan cara lain untuk melakukan hal dasar yang sama,” jelas McGill. Penjelasan ini memperkuat pemahaman medis tentang dead butt syndrome.

Untuk mencegah dan mengurangi dampak dead butt syndrome, aktivasi otot glute menjadi kunci utama. Sejumlah gerakan sederhana dapat dilakukan secara rutin guna menjaga kekuatan dan kelenturan otot bokong, fleksor pinggul, dan sendi pinggul.

Salah satu latihan yang disarankan bagi penderita dead butt syndrome adalah berdiri dengan satu kaki di depan kaki lainnya. Gerakan ini membantu meregangkan hamstring dan mengaktifkan glute secara bertahap.

Latihan squat juga efektif untuk mengatasi dead butt syndrome. Gerakan ini melatih otot paha, perut, betis, serta mengaktifkan otot glute yang selama ini pasif akibat terlalu lama duduk.

Selain itu, gerakan mengangkat kaki dalam posisi berbaring dapat membantu menguatkan otot inti dan fleksor pinggul. Latihan ini dianjurkan bagi mereka yang ingin mencegah dead butt syndrome sekaligus memperbaiki stabilitas tubuh.

Dengan mengurangi durasi duduk, rutin bergerak, dan melakukan latihan penguatan glute, risiko dead butt syndrome dapat ditekan. Kesadaran terhadap kondisi ini penting agar masyarakat terhindar dari nyeri kronis dan gangguan mobilitas di kemudian hari.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x