src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> “Menguatkan Tradisi Tulis dan Pentingnya Kultur Tanding”

“Menguatkan Tradisi Tulis dan Pentingnya Kultur Tanding”

waktu baca 6 menit
Rabu, 11 Nov 2020 17:16 443 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Tradisi tutur merupakan ‘ajian’ paling kuat yang dimiliki masyarakat Kaltim. Tradisi yang menembus dan menyebar ke pelosok-pelosok desa.  Kekuatan luar biasa ini terserap dalam keragaman seni tutur, seperti tadisi lisan tarsul.

Di sisi lain, mempertahankan khasanah budaya tutur amat sulit dilakukan di tengah era digitalisasi yang berlari cepat. Ini berpengaruh pada hilangnya keautentikan budaya tiap-tiap puak di pedalaman dan pinggiran sungai Mahakam.

Anak-anak muda, sadar ataupun tidak, telah digerus gelombang unifikasi atas nama tren yang mendunia. Kegelisahan ini yang ditangkap headlinekaltim.co, kala bertemu dengan pria bernama Dedi Sudarya, kerap dikenal dengan nama pena, Nala Arung.

Lelaki asli Kutai ini dikenal multitalenta. Dalam dunia seni budaya, ia mampu “berdiaspora” ke sejumlah genre. Mulai dari pemain teater, bermusik, puisi dan Cerpen. Bahkan, saat ini, dia ‘nekat’ mengelola manajemen sebuah kapal pesiar bernama Queen Orca.

Kapal wisata ini siap mengantarkan wisatawan yang ingin menikmati eksotisme yang ditawarkan sepanjang sungai hingga kawasan hulu Mahakam di Kutai Kartanegara.

“Tradisi tulis di dalam budaya kita tidak menjadi sesuatu ditekankan sehingga anak-anak muda sebagai unsur utama regenerasi tidak memiliki kewajiban untuk menulis apapun. Ditambah media-media sebagai penyaluran karya tidak banyak ada di daerah dan digarap serius secara online oleh anak-anak muda. Termasuk pilihan menjadi bloggers yang tidak diambil mereka,” ungkapnya, saat berbicang santai di salah satu kafe di bilangan Jalan Jalan S. Parman, Kota Tenggarong.

Nala Arung menyadari geliat kepenulisan terus diupayakan oleh banyak pihak. Dengan ladang terbatas mulai dari pendidikan hingga komunitas. Di Kukar, kata dia, mulai banyak karya tulis yang muncul dari kalangan guru hingga pelajar. Namun, fenomena ini tidak menerabas ke segala arah. Cakupannya masih terbatas.

“Walau hal ini dikarenakan adanya keharusan-keharusan di kalangan guru untuk memunculkan karya sehingga muncul penulis-penulis baru di wilayah ini.  Namun, secara kesastraan tidak menjadi gerakan global sastra, tetapi karena keharusan dalam hal pendidikan.  Semenjak Korrie Layun Rampan penulis asli Kaltim berdarah Dayak Benuaq meninggal dunia, regenerasi menjadi agak terputus-putus,” terang penulis buku ‘Kumpulan Kitab Puisi Norak’ ini.

Bagi dia, menulis buku tidak berdasarkan kuantitas, melainkan kualitas. Itu juga yang membuat dia yakin bahwa melahirkan buku sastra tidak harus tiap tahun.

“Yang penting, bagaimana penulis tetap mampu berhasrat memuaskan proses menggarap karya tulis dalam berbagai genre. Kalau saya memulai dari cerita-cerita pendek, lantas melahirkan Kumpulan Kitab Puisi Norak. Saat ini saya menyiapkan buku ketiga.  Dalam proses pembuatan, ini lebih ke buku motivasi tapi bukan seperti buku motivasi pada umumnya. Ada cerita, kisah hidup yang memotivasi,” bebernya.

Ia menambahkan, selera pembaca saat ini juga bergeser. Kini, pembaca banyak masuk ke novel-novel dengan pengaruh budaya pop. Misalnya pengaruh budaya Korea yang merebak.

Meski begitu, dia tidak memungkiri banyak penulis-penulis yang sangat produktif yang dalam setahun bisa menghasilkan beberapa buku. Termasuk pula bagaimana keproduktifan anggota komunitas Gerakan Literasi Kukar yang menghasilkan lebih dari 10 judul buku. ”Sebagian besar mereka adalah guru,” katanya lagi.

“Menulis dengan genre sendiri tanpa terpengaruh arus besar, merupakan hal yang paling penting bagi penulis-penulis muda di Kukar. Saya memuja para penulis dengan gaya kepenulisan eksentrik dan orisinil, semisal Seno Gumira Ajidarma, Emha Ainun Nadjib, hingga Goenawan Muhammad. Saya mendambakan penulis yang berani keluar dari pakem, tidak biasa. Jika muncul akan segera menjadi idola saya,” ungkapnya.

Nala Arung juga menyinggung perkembangan komunitas perfilman lokal. Sineas muda berbakat bermunculan. Banyak film-film pendek diproduksi dan tak kalah kualitasnya dengan sineas luar. “Sekarang, film pendek telah lumer jadi gaya hidup anak-anak muda di Kukar,” tukasnya.

Namun, tanpa didukung oleh tradisi literasi dan budaya menulis yang kuat, maka ide cerita yang ditampilkan dalam karya-karya visual menjadi lemah dan dangkal.

“Saya belum menemukan kemunculan karya-karya visual yang berani visual dari tangan anak-anak Kukar dengan kekuatan yang berbeda dari daerah lain. Tidak saja karya visual termasuk karya tulis. Termasuk skrip-skrip yang dibuat anak-anak film yang saya amati memang biasa-biasa saja. Saya tetap mendorong agar gagasan membuat cerita baru dengan kedalaman kuat, itulah pentingnya literasi,” terangnya.

MERINDUKAN “ORANG GILA”

Kreasi dan keberanian berkesenian di Kutai Kartanegara pada tahun 80-an hingga awal 2000-an, bagi Nala Arung, amat kuat dan berkarakter. Berbeda dengan kondisi sekarang meskipun tumbuh berbagai komunitas kesenian. “Cenderung jadi ‘follower’ dan tidak membawa dampak signifikan pada penguatan kultur lokal,” ucapnya.

Dia mengaku merindukan orang-orang “gila” yang berani keluar dari kemapanan dan ‘out of the box”.  Kutai pernah memiliki nama-nama besar dalam dunia kepenulisan yang punya karakter sendiri. Mulai dari Djumri Obeng di tahun 1990.  Nama yang disebut ini pernah bikin heboh. Djumri membuat seminar tentang Hantu Suluh. Seminar yang dianggap tidak memiliki manfaat.

“Semua orang menjelek-jelekkan Djumri Obeng, ngapain membuat seminar tentang hal itu. Sesuatu yang tidak bisa dilihat namun diseminarkan, seakan-akan memiliki kajian akademis dan ilmiah? Tetapi, Djumri tetap jalan di jalannya alias cuek-cuek saja. Sekarang kita memahami bagaimana visi dari beliau, karena saat ini jenazah terciprat semen basah saja jadi jualan seni di mana kita ramai-ramai menonton di layar kaca,” jelasnya sambil tertawa.

Ada juga tokoh teater di Kutai Kartanegara bernama Zairin Zain. “Dulu, Zairin biasa berkesenian di tepi jalan yang ramai. Bahkan, berani memakai pakaian minim. Orang-orang menonton. Masyarakat Kutai itu sebenarnya terbiasa dengan kultur seni dan menikmatinya,” tegasnya.

Menurutnya, mengekspresikan realisme sosial dengan gaya satire dalam tiap karyanya sudah menjadi gaya. Dia berharap hal itu dapat jadi pemicu kebangkitan anak-anak Kukar dalam melawan hegemoni seni dari luar.

“Menumbuhkan kultur tanding adalah jawaban untuk menumbuhkan semangat memunculkan karya-karya monumental dan universal. Kala Gedung Serapo dibongkar, bukanlah jadi alasan utama untuk membuat kita semua berhenti berkarya.  Ketika alat tercerabut dari seseorang, kita tetap bisa menari dan menabuh gendang lewat suara yang muncul dari mulut, misalnya,” terang anak pasangan Yahya Salman dan Darnawati ini.

Dia juga menyebut contoh penulisan sejarah lokal yang dimotori ‘Salasilah Kutai’ hingga buku ‘Dari Jaitan Layar Sampai Tepian Pandan’ karya sejarawan muda Kaltim, Muhammad Sarip. “Ini karya-karya orisinil yang dekat dengan penguatan kesejarahan,” sambungnya.

Meski buku terakhir ini, lanjut Nala, memicu kontroversi dengan sejarah yang kadung diyakini sebagian kalangan, tetapi penulis tersebut berangkat dari riset ilmiah. Ini memberi warna berbeda dan menyadarkan anak-anak muda pentingnya ‘kultur tanding’ yang harus dipunyai.

Pada akhirnya, apa yang dituliskan akan abadi. Seni budaya tidak akan lepas kadar kekuatannya dan terus menumbuhkan ingatan-ingatan akan masa lalu, masa kini, dan masa sekarang. Merintis areal-areal gelap menjadi kewajiban bagi yang memiliki kesadaran visioner. “Kebermanfaatannya akan dirasakan oleh manusia-manusia, bahkan yang  masih berwujud janin,” pungkasnya.

Penulis: RJ Warsa

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim

LAINNYA
x