src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Sumur Mengering, Warga Bayur Pakai Air Parit?

Sumur Mengering, Warga Bayur Pakai Air Parit?

waktu baca 3 menit
Kamis, 3 Sep 2026 12:01 197 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Informasi yang sempat beredar menyebut warga kawasan Bayur di Jalan Padat Karya, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, terpaksa menggunakan air parit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ternyata tidak sepenuhnya tepat. Air yang dimanfaatkan warga bukan berasal dari parit, melainkan dari saluran irigasi yang mengalir dari kawasan perbukitan di sekitar permukiman.

Salah seorang warga Bayur, Sarino, membenarkan bahwa saluran irigasi kini menjadi salah satu sumber air yang digunakannya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, menyusul sumur galinya yang sebelumnya jadi sumber air utama saat ini sudah tidak lagi mengeluarkan air.

“Ya kayak begini, untuk cuci, mandi, segala macam, tapi kalau untuk minum kami beli,” ujar Sarino saat dimintai keterangan Rabu, 2 September 2026.

Kondisi ini, kata Sarino, membuat warga harus memilih antara membeli air atau memanfaatkan sumber air yang tersedia untuk kebutuhan non-konsumsi. Air irigasi dinilai lebih membantu karena dapat digunakan untuk mandi dan mencuci tanpa harus mengeluarkan biaya setiap kali membutuhkan air. Sementara untuk kebutuhan konsumsi, ia tetap membeli air dari pemasok dengan harga sekitar Rp120 ribu per tandon.

“Kalau beli itu Rp120 ribu per tandonnya. Mau tidak mau, daripada beli terus karena mahal, untuk kebutuhan sehari-hari pakai air ini saja. Airnya masih bisa dimanfaatkan, cuma memang tidak untuk dikonsumsi,” tutur dia.

Sarino menyebut persoalan kekurangan air juga dialami sejumlah keluarga lain di sekitar tempat tinggalnya. Ia memperkirakan setidaknya delapan keluarga menghadapi kondisi serupa, dan berharap pemerintah dapat memberikan bantuan air bersih untuk meringankan beban warga. “Ya minta solusinya. Kalau bisa minta bantuan dari pemerintah untuk menampung air,” pinta Sarino.

Ketua RT 38 Bayur, Hadri, menjelaskan aliran air yang dimanfaatkan warga bukan berasal dari parit maupun saluran pembuangan, melainkan dari saluran irigasi yang mengalir dari kawasan perbukitan. “Untuk yang viral masalah air parit itu, sebenarnya ini air irigasi, bukan air parit. Air ini mengalir dari pegunungan ke sini,” terang Hadri.

Dikatakannya, bentuk saluran yang menyerupai parit membuat sumber air tersebut sempat disebut sebagai air parit di media sosial. Namun, karena sumur warga mulai mengering akibat musim kemarau, aliran irigasi itu kemudian dimanfaatkan sebagai sumber air alternatif yang digunakan untuk mencuci, menyiram tanaman, hingga mandi, meski tidak untuk memasak dan minum.

Khusus untuk mandi, air terlebih dahulu ditampung dan diendapkan agar kotoran yang terbawa aliran berkurang. “Kalau mandi endapkan dulu satu malam, baru bisa digunakan. Kalau untuk konsumsi, kita beli air galon,” jelas Hadri.

Persoalan kekurangan air bersih, ungkap Hadri, tidak hanya dialami warga di RT 38. Di lingkungannya, terdapat sekitar 10 hingga 15 keluarga yang mengalami kesulitan air cukup serius. Jika digabung dengan warga di RT lain di sekitar kawasan Bayur, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 20 keluarga.

Kendati demikian, Hadri mengatakan tidak seluruh warga mengalami kondisi yang sama. Sebagian masih dapat mengandalkan sumur yang memiliki cadangan air, sedangkan warga lainnya harus membeli air apabila memiliki kemampuan ekonomi.

“Tidak semua warga mengalami kondisi yang sama, karena masih ada yang sumurnya bisa dimanfaatkan. Tetapi ada juga yang sudah benar-benar kesulitan dan harus mencari air,” ujarnya.

Untuk sementara, pihak lingkungan berupaya mencari solusi agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan lebih baik, salah satunya dengan membuat tempat penampungan sekaligus pengendapan air bersama Koramil setempat. “Kami sedang berupaya bekerja sama dengan Koramil untuk membuat penampungan dan endapan air, supaya air yang tersedia bisa dimanfaatkan dengan lebih baik,” demikian Hadri. (Retno)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x