src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Dokter RSUD IA Moeis Samarinda Ikut Komentar Tak Pantas di Unggahan Pasien BPJS, Langsung Kena Sanksi

Dokter RSUD IA Moeis Samarinda Ikut Komentar Tak Pantas di Unggahan Pasien BPJS, Langsung Kena Sanksi

waktu baca 4 menit
Rabu, 5 Agu 2026 20:38 44 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA —Gelombang permohonan maaf dari sejumlah tenaga kesehatan (nakes) mencuat ke publik setelah komentar miring dan nirempati mereka terhadap keluhan antrean pasien BPJS bernama Yurizal Tri Chaerawan viral di media sosial Threads. Polemik ini memicu kecaman keras dari masyarakat. Terlebih lagi,pasien tersebut dikabarkan meninggal dunia tidak lama setelah mengunggah keluhannya.

Ternyata, salah satu dokter yang bekerja di RSUD Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Samarinda turut berkomentar nirempati terhadap unggahan Yurizal. Dokter tersebut dikenai sanksi nonaktif sementara setelah komentarnya di platform Threads menjadi perbincangan luas dan memicu beragam reaksi dari warganet.

Peristiwa ini bermula dari unggahan akun Threads yurizaltrich pada tanggal 22 Juli 2026 yang menyampaikan keluhan terkait lamanya waktu menunggu ruang perawatan di rumah sakit. Dalam unggahannya, ia menulis, “8 jam belum dapat ruangan🥲” dan menambahkan, “Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS🥺”. Curahan hati tersebut kemudian menyebar dan memancing banyak tanggapan dari pengguna lain.

Di antara berbagai komentar, muncul respons dari akun nandafadyla_ yang diketahui milik seorang dokter di RUSD IA Moeis berisinsial RM.  Pada 24 Juli 2024, ia menuliskan komentar singkat berbunyi, “Bacot nih pasien”. Kalimat itu kemudian menjadi perhatian publik dan menuai pro kontra, karena dinilai tidak mencerminkan empati seorang tenaga medis terhadap pasien.
Direktur RSUD IA Moeis Samarinda, dr. Osa Rafshodia, menyampaikan pihak rumah sakit telah mengambil langkah internal. Ia mengatakan, dokter yang bersangkutan sudah dipanggil untuk memberikan klarifikasi, sekaligus menjalani proses pembinaan sesuai aturan kedisiplinan pegawai.

“Yang bersangkutan sudah kami panggil dan kami tindak sesuai peraturan terkait kedisiplinan. Dia juga sudah menyampaikan permintaan maaf kepada rumah sakit,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu 5 Agustus 2026.
Osa juga memastikan, kejadian yang dikeluhkan oleh pasien dalam unggahan tersebut tidak terjadi di RSUD IA Moeis.

Ia menyebut, dokter tersebut tidak terlibat dalam penanganan pasien yang dimaksud dan hanya memberikan komentar di media sosial pribadi. “Saya enggak tahu secara detail rumah sakit mana, tapi kejadiannya bukan di rumah sakit Moeis,” ungkapnya.
Sebagai langkah awal, manajemen rumah sakit memutuskan untuk menonaktifkan sementara dokter tersebut dari tugas pelayanan. Kebijakan ini diambil untuk menjaga situasi tetap kondusif sekaligus memberikan ruang bagi proses evaluasi. “Sekarang diistirahatkan dulu, 2-3 hari lah kira-kira. Kita udah laporkan juga ke Inspektorat Daerah,” kata dia.

Dijelaskannya, bahwa dokter tersebut berstatus sebagai pegawai BLUD dan telah bekerja sekitar satu tahun di RSUD IA Moeis. Selama bertugas, yang bersangkutan dikenal memiliki kinerja yang cukup baik, terutama dalam pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (UGD). “Selama ini kinerjanya cukup baik dan responsif. Bahkan termasuk salah satu dokter yang kita andalkan,” tutur Osa.
Terkait kemungkinan sanksi lanjutan, pihak rumah sakit masih menunggu hasil pemeriksaan dari Inspektorat Kota Samarinda. Hingga saat ini, belum ada keputusan apakah akan ada tindakan lebih jauh terhadap yang bersangkutan.

Sebagai buntut dari aksi bullying terhadap pasien ini, sejumlah Nakes meminta maaf secara terbuka setelah netizen melakukan penelusuran identitas (doxxing). Satu per satu oknum nakes merilis video klarifikasi dan permohonan maaf tertulis. Mereka di antaranya dr. Benny Christian Sihombing meminta maaf kepada keluarga almarhum karena komentar kasarnya mengenai “ruang jenazah kosong” telah menambah beban emosional keluarga. Ia mengaku lalai karena lupa mengganti akun istrinya saat berkomentar.
Lalu, perawat Widhiyarini Pangestika melontarkan komentar tidak pantas yang menyuruh pasien memotong nadi.

Ada juga Hilda Clarissa Theopilus yang bekerjasebagai petugas perekam medis yang berkomentar tak pantas. Bahkan, manajemen RSUD Umbu Rara Meha tempatnya bekerja juga ikut meminta maaf. Sementara, Nakes RSUD Dr Soekardjo Tasikmalaya Norma Zahara turut minta maaf serta menyatakan siap menerima segala bentuk sanksi.

Kementerian Kesehatan  menyayangkan sikap nakes yang tidak mencerminkan nilai profesionalisme dan meminta manajemen rumah sakit serta organisasi profesi untuk melakukan pembinaan etika berkomunikasi digital. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan tenaga medis dan tenaga kesehatan seharusnya mengedepankan empati dan komunikasi yang baik, termasuk saat merespons keluhan masyarakat di media sosial. “Kami menyayangkan beredarnya komentar dari sebagian tenaga medis dan tenaga kesehatan di media sosial yang terkesan tidak berempati terhadap pasien maupun keluarganya yang sedang menjalani pelayanan kesehatan,” katanya dikutip dari media Tempo.co. (retno)

LAINNYA
x