src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Proses pencarian seorang anak yang masih hilang setelah terseret hempasan arus kapal di Sungai Mahakam, Loa Bakung, Samarinda, Sabtu (19/9/2026) sore. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Teriakan minta tolong tiba-tiba terdengar dari kawasan pasiran di tepian Sungai Mahakam, Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, Sabtu, 19 September 2026 sekitar pukul 16.00 WITA.
Sukri yang saat itu tengah bekerja menyekop pasir di daratan langsung meninggalkan pekerjaannya setelah mengetahui sejumlah anak masuk ke sungai. Ia kemudian berusaha menjangkau anak-anak yang berada di air. “Saya diminta tolong karena katanya ada anak mati lemas. Saya langsung lari, tinggalkan kerjaan,” kata Sukri saat dimintai keterangan.
Saat tiba di lokasi, Sukri mendapati dua anak berada di posisi berbeda. Salah satunya masih dapat dijangkau dari tepian, sedangkan satu lainnya sudah bergerak lebih jauh menuju bagian tengah Sungai Mahakam. Sukri sempat meraih tangan salah satu anak dan membawanya berenang kembali ke tepian. Namun, upaya serupa tidak dapat dilakukan terhadap anak yang posisinya lebih jauh.
“Sempat saya tangkap tangannya, saya bawa berenang keluar, yang satunya sudah tidak ada,” tuturnya.
Dikatakannya, kelima anak tersebut sebelumnya berada di sekitar kawasan pasiran dan bermain di dekat sungai. Anak-anak disebut tidak sedang merencanakan untuk mandi, tetapi kemudian masuk ke air setelah terdampak hempasan arus dari kapal yang melintas.
Aktivitas anak-anak bermain di sekitar lokasi juga disebut Sukri sudah cukup sering dilihatnya ketika bekerja. Kawasan tersebut memang menjadi tempat berlangsungnya aktivitas pekerjaan pasir dan lalu lintas kapal yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. “Sering, sih orang-orang di sini (bermain), kalau kami kerja di situ. Saya, kan kerjanya di pasiran sini, menyekop pasir,” ujarnya.
Dari kejadian itu, satu anak kemudian dilaporkan hilang. Korban diketahui bernama Firman, berusia 11 tahun. Hingga Sabtu malam, keberadaan Firman belum ditemukan. Pamapta II Polresta Samarinda Ipda Fardhan mengatakan laporan mengenai kejadian tersebut diterima polisi dari warga. Petugas kemudian melakukan penanganan di lokasi dan berkoordinasi dengan tim pencarian.
“Informasi awal, ada lima korban. Empat selamat dan satu masih dalam proses pencarian. Anak tersebut bernama Firman, berusia 11 tahun, dan tempat tinggalnya di seputaran Loa Bakung ini,” ujar Fardhan.
Berdasarkan kesaksian warga sekitar, kelima anak awalnya hanya bermain pasir di tepian Sungai Mahakam. Situasi berubah ketika kapal melintas dan menimbulkan hempasan arus yang membuat mereka masuk ke dalam air. “Informasi anak tersebut bermain lima orang, tidak berniat untuk mandi. Namun pada saat bermain di tepi, bermain pasir, ada sebuah kapal lewat, arusnya itu menghempas anak tersebut,” jelas dia.
Empat anak berhasil diselamatkan dengan bantuan warga. Sementara Firman terseret menuju bagian tengah sungai dan belum ditemukan. Tim Polairud Polresta Samarinda bersama Polda Kaltim kemudian melanjutkan pencarian di sekitar perairan lokasi kejadian.
Fardhan mengatakan informasi dari warga menyebut Firman cukup mampu berenang. Namun, kemampuan tersebut tidak serta-merta membuatnya dapat keluar dari situasi ketika terseret arus Sungai Mahakam. Kondisi sungai yang terlihat tenang dari permukaan juga tidak selalu menggambarkan kekuatan arus di bawahnya. Menurut Fardhan, arus bagian bawah dapat lebih deras dan berpotensi menarik seseorang ke bagian sungai yang lebih dalam.
“Mungkin karena kondisi arus yang tidak bisa dipastikan, di atas tenang kemudian di bawah arusnya deras. Nah, itu mungkin akibatnya dia bisa tertarik air,” demikian Ipda Fardhan. (Retno)