src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Bandara Kalimarau. (Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Berau mulai mengganggu konektivitas udara. Penurunan jarak pandang di Bandara Kalimarau membuat sejumlah penerbangan harus menyesuaikan jadwal, bahkan ada pesawat yang memilih kembali ke bandara asal setelah tidak memungkinkan untuk mendarat.
Jarak pandang di kawasan bandara mengalami penurunan secara bertahap. Jika sebelumnya masih berada di kisaran 2.000 meter, jarak pandang kemudian turun menjadi sekitar 1.800 meter hingga 1.500 meter.
Perubahan tersebut membuat aktivitas penerbangan harus mengikuti perkembangan kondisi di lapangan. Penerbangan Batik Air dari Jakarta, misalnya, sempat melakukan holding beberapa kali sebelum akhirnya tidak dapat mendarat di Kalimarau dan kembali ke Balikpapan.
Sementara pesawat Batik Air dari Surabaya juga sempat melakukan holding sambil menunggu kondisi jarak pandang memungkinkan untuk melakukan pendaratan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis mengatakan, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak kabut asap mulai merambah sektor transportasi. Menurutnya, perkembangan jarak pandang harus terus dipantau karena dapat berubah dalam waktu singkat.
“Perubahannya cukup cepat sehingga penerbangan harus menyesuaikan dengan kondisi yang ada,” ujar pada Jumat, 18 September 2026.
Gangguan serupa telah terjadi sehari sebelumnya. Pada Kamis, 17 September 2026 jarak pandang di Bandara Kalimarau sekitar pukul 11.00 WITA dilaporkan turun dari 3.500 meter menjadi 1.500 meter akibat kiriman asap.
Sejumlah penerbangan terdampak, di antaranya Wings Air rute Berau–Samarinda–Berau, Super Air Jet rute Balikpapan–Berau, serta Sriwijaya Air rute Ujung Pandang–Berau–Balikpapan yang terpaksa mengalami pembatalan.
Pada Jumat, penerbangan Wings Air rute Berau–Samarinda sempat diberangkatkan ketika jarak pandang berada di sekitar 2.000 meter. Namun, pesawat tersebut belum dapat kembali ke Berau karena kondisi jarak pandang kembali menurun.
Kondisi ini menjadi perhatian karena Bandara Kalimarau merupakan salah satu jalur utama mobilitas masyarakat, termasuk perjalanan bisnis, pelayanan pemerintahan, hingga aktivitas wisata. Gangguan penerbangan yang terjadi menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak lagi hanya dirasakan di permukaan, tetapi mulai mempengaruhi pergerakan orang dari dan menuju Berau.
Ia mengatakan pemerintah daerah akan terus mengikuti perkembangan kondisi udara dan jarak pandang bersama pihak terkait. Langkah yang diambil, menurutnya, harus mempertimbangkan data dan kondisi aktual demi menjaga keselamatan penerbangan.
“Kita terus memantau perkembangan ini. Yang paling penting keselamatan penerbangan sehingga keputusan di lapangan tentu menyesuaikan kondisi jarak pandang,” pungkasnya. (Riska)