src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Bupati Minta Kewaspadaan terhadap Karhutla Tetap Dijaga

Bupati Minta Kewaspadaan terhadap Karhutla Tetap Dijaga

waktu baca 3 menit
Jumat, 18 Sep 2026 13:34 29 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau terus dilakukan di tengah musim kemarau yang masih berlangsung. Pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga memastikan dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat dapat ditekan. Bupati Berau Sri Juniarsih Mas mengatakan kondisi karhutla yang terjadi beberapa waktu terakhir telah memberikan tantangan bagi masyarakat. Kabut asap tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas sehari-hari, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan, khususnya anak-anak.

“Pemerintah daerah tidak pernah diam. Kami memahami bahwa di balik kabut asap ada keresahan masyarakat. Ada orang tua yang khawatir terhadap kesehatan anak-anaknya, ada aktivitas masyarakat yang terganggu, dan ada pula para pelaku usaha yang harus menyesuaikan kegiatan mereka,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah mengambil sejumlah langkah perlindungan ketika kualitas udara memburuk. Salah satunya melalui kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) sebagai upaya mengurangi paparan anak-anak terhadap kondisi udara yang tidak sehat. Masyarakat juga diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi kegiatan di luar rumah, serta menjaga kesehatan.

Berdasarkan data BMKG Kalimantan Timur periode 17 September 2026, jumlah hotspot di Berau tercatat 91 titik. Angka tersebut menurun dibandingkan kondisi pada 29 Agustus 2026 yang mencapai 779 titik panas dan saat itu menjadi jumlah tertinggi di Kalimantan Timur.

Terlebih, hujan mulai turun di sejumlah wilayah Berau meski intensitas dan sebarannya masih terbatas. “Hujan sekecil apa pun adalah rahmat dan keberkahan. Hujan membantu menurunkan panas, memberikan kelembapan bagi tanah, dan sedikit demi sedikit membantu kita keluar dari kondisi yang sulit ini,” katanya.

Meski demikian, kondisi tersebut belum membuat pemerintah menurunkan kewaspadaan. Menurutnya, perubahan kelembaban tanah selama kemarau masih dapat memicu kembali munculnya titik api.
Tim gabungan pun tetap disiagakan. Penanganan melibatkan BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, Polri, Manggala Agni, pihak swasta, serta berbagai unsur terkait.

Pemadaman dan pemantauan titik api terus dilakukan, termasuk dengan dukungan water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Upaya penanganan juga diperkuat melalui koordinasi dengan pemerintah pusat. Sri menyebut pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Menteri Kehutanan untuk menyampaikan kondisi Berau sekaligus mendorong dukungan penanganan karhutla. “Koordinasi terus kita lakukan dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, aparat keamanan, dunia usaha, dan seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap persoalan ini,” jelasnya.

Namun, Bupati menegaskan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan masyarakat, terutama dalam mencegah munculnya sumber api baru. Ia meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran, segera melaporkan jika menemukan titik api, serta bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif. “Tidak pernah bosan kami mengingatkan, mari kita bersama-sama menjaga lingkungan, tidak melakukan pembakaran yang dapat memicu kebakaran, segera melaporkan apabila menemukan titik api, dan menjaga suasana tetap kondusif,” pungkasnya. (Riska)

LAINNYA
x