src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Ditarget Pekan Depan, Kasus Asusila Libatkan Pimpinan Ponpes di Tenggarong ke Penyidikan

Ditarget Pekan Depan, Kasus Asusila Libatkan Pimpinan Ponpes di Tenggarong ke Penyidikan

waktu baca 2 menit
Kamis, 17 Feb 2022 20:42 481 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG –Penyelidikan dugaan kasus asusila dan pernikahan di bawah umur tanpa sepengetahuan orang tua yang melibatkan seorang pimpinan Pondok Pesantren di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar) masih terus bergulir di Satreskrim Polres Kukar.

“Ini masih proses penyelidikan terus, mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi. Kita targetkan, pekan depan sudah masuk penyidikan. Namun, kita lihat lagi kondisinya,” ungkap Kasatreskrim Polres Kukar, AKP Dedik Santoso, Kamis 17 Februari 2022.

Dedik memastikan, oknum pimpinan Ponpes di Tenggarong tersebut belum ditetapkan sebagai tersangka alias masih sebatas wajib lapor. Dia juga membantah isu bahwa yang bersangkutan keluar daerah dan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Yang bersangkutan kooperatif kok, sesuai kewajibannya harus lapor kepada polisi. Yang bersangkutan juga didampingi oleh kuasa hukum, ” jelasnya.

Kepala Kantor Kemenag Kukar, H Mukhtar, melalui Kasi Pendidikan Keagamaan Pondok Pesantren (Pekapontren) Nur Syifah mengakui menerima banyak pertanyaan dari publik sejak kasus ini mencuat.

Dia mengatakan pendidikan di Ponpes aman dan terjamin. Kejadian di Ponpes  Kecamatan Tenggarong hanya dilakukan oknum pimpinan Ponpes.

“Sejak viral kasus tersebut, banyak pihak yang mengkonfirmasi ke saya, apakah aman anak-anak dimasukan ke Ponpes, saya pastikan aman, ” katanya.

Menurut dia, sejak kasus tersebut viral di medsos, tim Kemenag Kukar sudah meninjau secara langsung ke Ponpes tersebut. Namun, tidak ada pengurus yang bisa ditemui. “Dalam waktu dekat ini, kita tinjau kembali, ” jelasnya.

Nur Syifah mengakui, tiap bulan dilakukan pendataan secara rutin terkait kondisi santri dan guru serta sarana dan prasarananya Ponpes. Sejauh ini, suasana pembelajaran di Ponpes tersebut juga normal.

“Cuma kita berikan masukan ke pengelola Ponpes agar perhatikan sistem keamanan asramanya yang ada di situ,” sebutnya.

Dia merinci, jumlah santri di Ponpes tersebut sebanyak 68 laki-laki dan 72 perempuan. Ponpes tersebut berdiri sejak 2004. Saat ini ada 25 guru yang mengajar.

Kasus asusila di pesantren, lanjut dia, memang membuat heboh masyarakat.  Ketika kasus serupa mencuat, banyak yang mencibir sistem pendidikan di Ponpes. Padahal, tindak asusila dilakukan oleh oknum.

Nur Syifah merinci, jumlah Ponpes di Kukar lumayan banyak, bahkan mampu mengalahkan Kota Balikpapan. Ponpes di Kukar saat ini yang berizin berjumlah 46 unit. Belum lagi, ada tiga Ponpes yang masih proses izinnya di Loa Kulu, Tenggarong dan Marang Kayu. Rata-rata membuka jurusan tahfiz Qur’an.

“Ini menandakan, keinginan orang ingin memasukkan anaknya ke Ponpes juga cukup tinggi, ” jelasnya.

Penulis: Andri.                                      Editor: MH Amal

LAINNYA
x