src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala SMPN 1 Tenggarong, Imam Huzaeni, saat menyematkan penghargaan kepada siswa berprestasi. (ist)HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Sudah tiga bulan menjabat Kepala SMPN 1 Tenggarong, Imam Huzaeni, mengaku masih membenahi seputar penguatan internal.
Lulusan ITS jurusan Fisika ini, sebelumnya mengajar di SMPN 1 Muara Badak dan lama menjadi Kepala SMPN 4 Tanjung Limau Muara Badak.
“Saya lulus dari ITS langsung diterima jadi PNS pada 1994, dan penempatan kerja di Kaltim tepatnya di SMPN 1 Muara Badak sebagai guru Fisika,” ucap Imam, Senin 13 Februari 2023 di ruang kerjanya.
Imam bercerita, saat dia menginjakkan kaki pertama kali ke Muara Badak dari Surabaya, tidak ada jalan yang beraspal atau semenisasi seperti sekarang. Yang ada hanya jalan tanah. Kalau panas bedebu, saat hujan pasti becek.
“Pernah mau berangkat ngajar, pas sedang hujan, ada mobil perusahan lewat dalam keadaan ngebut, akhirnya seluruh baju kotor kena cipratan genangan air,” kenangnya.
Lama mengajar di SMPN 1 Muara Badak, pada 2014, Imam diminta merintis SMPN 4 Muara Badak yang saat itu tidak memiliki anggaran karena terbilang sekolah baru.
Akhirnya, Imam meminta bantuan dana ke orang tua murid untuk gotong royong bangun sekolah.
“Terakhir saya tinggalkan September 2022, SMPN 4 Muara Badak masuk sekolah Adiwiyata tingkat Nasional,” ucapnya.
Imam mengungkap perbedaan mendasar memimpin sekolah di pedesaan dan perkotaan seperti SMPN 1 Tenggarong. Agak mudah memoles siswa di perkotaan yang mengenal budaya persaingan dan mengejar prestasi siswa.
Hampir tiap minggu, ada siswa SMPN yang terletak di Jalan KH Dewantara ini lolos menerima prestasi di bidang akademik dan non akademik.
“Tiap hari senin, saya menyematkan piala kepada anak yang berprestasi dari berbagai bidang, di hadapan siswa lainnya saat apel upacara bendera guna memotivasi siswa lainnya,” ucapnya.
Imam menegaskan siswa berprestasi harus diberikan apresiasi. Mereka jangan lagi dibebankan dengan pemberian tugas atau PR.
“Yang berprestasi di luar sekolah, sebetulnya membawa nama harum sekolahan, jadi saya minta kepada guru kelas, jangan dikasihkan PR lagi,” ungkapnya.(#)
Penulis: Andri