src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Maratua Musik Festival (M2F) 2026 tidak hanya berhasil mendongkrak kunjungan wisatawan, tetapi juga membuka arah baru pengembangan festival pariwisata di Kabupaten Berau. Dipadukan dengan rangkaian acara adat, konsep tersebut dinilai mendapat sambutan positif dan akan menjadi fokus penguatan pada penyelenggaraan berikutnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan evaluasi tetap akan dilakukan meski pelaksanaan M2F tahun ini menunjukkan hasil menggembirakan. Menurutnya, evaluasi bukan sekadar menilai jumlah pengunjung, tetapi juga melihat pengalaman masyarakat dan wisatawan selama mengikuti festival.
“Yang paling kami lihat adalah respons masyarakat. Tahun ini baru pertama kali M2F digabungkan dengan kegiatan adat, ternyata sambutannya sangat baik. Ke depan kolaborasi musik dengan budaya lokal akan kami perkuat,” ujarnya.
Ia menegaskan, M2F tidak hanya dirancang sebagai hiburan bagi wisatawan, tetapi juga menjadi ruang apresiasi bagi masyarakat Maratua. Selama ini wisatawan menikmati keindahan pantai dan bawah laut pada siang hari, sementara pada malam hari festival menghadirkan hiburan yang memperkaya pengalaman berwisata.
Di sisi lain, masyarakat setempat juga mendapat ruang untuk menampilkan identitas budaya melalui pertunjukan tari dan tradisi yang dimiliki Pulau Maratua.
“Kami ingin masyarakat juga merasakan manfaatnya. Mereka butuh hiburan, sekaligus memiliki kesempatan memperkenalkan budaya yang dimiliki kepada wisatawan,” katanya.
Disbudpar juga masih akan mengevaluasi pola penyelenggaraan M2F, termasuk kemungkinan digelar setiap tahun atau dua tahun sekali. Keputusan tersebut akan disesuaikan dengan hasil evaluasi dan kebutuhan pengembangan pariwisata di Maratua.
Dari sisi kunjungan, penyelenggaraan M2F tahun ini menunjukkan capaian yang signifikan. Berdasarkan data Disbudpar Berau, jumlah pengunjung mencapai 9.502 orang, meningkat sekitar 38,9 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat sekitar 5.800 orang.
Peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa M2F semakin diminati, tidak hanya oleh masyarakat Maratua, tetapi juga wisatawan dari luar daerah.
Selain memperkuat konsep festival, Disbudpar juga memastikan pengembangan pariwisata akan berjalan seiring dengan pelestarian budaya lokal. Menurut Yudha, identitas budaya Maratua harus tetap menjadi bagian utama dalam setiap pengembangan destinasi wisata.
Dukungan terhadap pengembangan kawasan wisata Maratua juga terus mengalir dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Menurutnya, komitmen tersebut terlihat saat kunjungan Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji ke Berau, yang turut mendorong pembentukan tim percepatan pembangunan Maratua agar pengelolaan kawasan wisata dilakukan secara terarah, berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya, wisatawan yang datang tidak hanya menikmati keindahan alam Maratua, tetapi juga mengenal budaya dan tradisi masyarakat yang tetap terjaga,” pungkasnya. (Riska)