src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Dari Pesangon Tambang ke Kebun Kopi, Kisah ARI yang Merintis Parisau Liberika Coffee

Dari Pesangon Tambang ke Kebun Kopi, Kisah ARI yang Merintis Parisau Liberika Coffee

5 minutes reading
Monday, 2 Feb 2026 21:45 89 huldi amal

TAK hanya menanam kopi, tetapi juga menanam mimpi. Itulah yang dilakukan Abdul Rahim Ismail atau akrab disapa ARI. Pria kelahiran 1972 ini memiliki harapan besar agar Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau menjadi sentra kopi pasca tambang.

Aroma kopi liberika menyambut kedatangan setiap pengunjung di Parisau Rest Area. Namun, ini bukan sekadar tempat singgah untuk beristirahat. Bapak tiga anak ini bertujuan menjadikan tempat tersebut sebagai wisata edukasi, sekolah lapangan mengenai kopi liberika, serta Kedai Kanne Kopi. “Konsep ini tumbuh dengan sendirinya, mudah-mudahan mimpi ini bisa terwujud,” ucapnya.

Siang itu, matahari mulai tegak di atas kepala. ARI mengenakan baju warna hitam dan celana abu-abu. Ia sedang memanen kopi liberika. Dengan memanfaatkan kaleng cat ukuran 5 kg, tali hingga karet ban bekas, dirinya membuat semacam wadah. Digunakan dengan cara diselempangkan untuk memudahkan proses pemetikan. Ketika wadah tersebut terisi penuh dengan ceri kopi berwarna merah, maka selanjutnya dipindahkan ke wadah yang lebih besar.

ARI saat memanen biji kopi Liberika.

Ada sebanyak 111 pohon kopi jenis liberika yang tumbuh di lahan seluas 12,25 hektare di Kampung Sambakungan. “Tapi ini berada di masing-masing kebun teman-teman, jadi berpencar. Kita punya peta,” ucapnya.

Pria berdarah Mandar ini mengaku pertama kali menginjakkan kaki di Kabupaten Berau sekitar tahun 2000. Ia pernah bekerja di salah satu perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di Berau. “Hampir 18 tahun saya kerja di tambang,” ungkapnya.

ARI memulai bertani kopi liberika pada akhir tahun 2019. kala pandemi Covid-19. Awalnya, ia numpang di lahan temannya untuk dijadikan persemaian bibit kopi liberika. Setelah berhenti kerja di pertambangan, tanah yang ditumpanginya tersebut dijual. Ia pun membeli lahan tersebut dengan uang pesangon. Namun, lahannya harus dirintis lebih dulu sehingga prosesnya lumayan panjang.
“Kebetulan uang pesangonnya ada, jadi saya nego tanah tersebut untuk membangun kebun kopi,” bebernya.

Apa yang hari in terlihat bukan hal instan. Semua berproses. Dirinya juga didampingi dari teman-teman kafe Tanjung serta LSM Perisai yang memperkenalkan ke dunia kopi. Bibit kopi liberika yang dibudidayakannya ini didatangkan dari Kecamatan Talisayan. ARI berharap agar kopi dari Kampung Sumber Mulia, Kecamatan Talisayan tetap ada.

“Ini kan indukannya dari sana (Talisayan). Sementara hari ini, kita paham bahwa sawit ada di mana-mana. Itu dirambah oleh sawit, akhirnya hanya ada satu petani yang mempertahankan kebunnya. Namanya Bu Helmina, beliau juga sudah berumur senja,” tuturnya.

Ini awal mimpi yang disemai oleh ARI untuk penyelamatan kopi yang ada di Talisayan. Selain itu, ia juga berjuang agar Berau memiliki ikon kopi sendiri. “Ayok support saya, karena saya bermimpi bukan untuk pribadi tetapi untuk orang banyak,” ujarnya.

Dari awal menanam hingga panen dibutuhkan waktu antara 1,5 hingga 2 tahun agar mulai berbuah. Kata dia, jika sudah berbuah, maka terus-menerus akan berbuah. Saat ini, ARI masih fokus untuk memproduksi kopi liberika. Terkait paket edukasi wisata masih bertahap.
“Karena tempat ini ada banyak mimpi. Saya punya workshop art, rumah pohon ini akan dijadikan pustaka mini, hingga sekolah lapang. Semoga terealisasi,” harapnya.

ARI menjelaskan ada tiga jenis kopi yakni arabika, robusta, dan liberika. Jenis arabika dan robusta cenderung tumbuh di daerah yang dingin dan dataran tinggi. Sedangkan, jenis liberika, orang sering menyebutnya kopi rawa. Bisa tumbuh di dataran rendah, umumnya pada ketinggian 0-750 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan jenis ini tahan dengan iklim panas. “Untuk Kalimantan yang pasnya liberika karena cocok sama tanah dan iklimnya, makanya kita pilih jenis ini,” ucapnya.

Bibit kopi yang diambil dari Talisayan di bawa ke Sambakungan, kemudian, dikupas serta dikeringkan sedikit lalu disemai. Dari persemaian itu dipindahkan ke polybag. Ketika tumbuh 4 daun dengan panjang sekitar sejengkal atau 30 cm maka sudah bisa dipindahkan ke kebun untuk pemeliharaan tanaman kopi.

Usai dipanen, ceri kopi berwarna merah dicuci bersih atau istilahnya dirambang. Kemudian masuk ke penjemuran. Pada tahap pengeringan, ada dua proses yakni metode natural dan honey. Kalau natural, biji kopi dijemur dengan kulit luarnya. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 3 minggu atau sebulan. Berbeda dengan honey yang dibuka terlebih dahulu cangkangnya, kemudian dijemur. Sehingga, lebih cepat kering dan hanya butuh waktu sekitar seminggu.

Setelah itu dimasukkan ke dalam mesin huller untuk mengupas kulit buah kering guna menghasilkan biji kopi atau orang biasa sebut beras kopi. “Habis dari sini baru dimasukkan ke mesin roasting untuk proses pemanggangan biji kopi mentah, setelah itu tinggal diseduh,” tuturnya.

Biasanya ARI kadang menjual beras kopi serta yang sudah di-roasting. Penjualan tergantung permintaan dari konsumen. Kalau masuk ke kafe biasanya mereka minta yang green beans karena akan di-roasting sendiri. “Kalau peminatnya tergantung lidah bagaimana merasakan kopi liberika. Inilah menjadi PR kita merubah lidah orang dari Arabika atau Robusta tadi ke Liberika,” ujarnya.

Pria yang lahir di Sulawesi Barat ini ingin fokus untuk memiliki produk dan label sendiri. Nama Parisau Liberika Coffee sendiri diambil karena kopi liberika ini ditanam di daerah Parisau. “Di sini ada anak sungai namanya Parisau. Makanya saya beri nama Parisau,” jelasnya.

Parisau Rest Area ini memang dikonsep menjadi tempat singga karena ini merupakan lintasan menuju Tanjung Batu dan Derawan. Tempat ini dilengkapi dengan mushola yang ia desain sendiri, ada taman yang masih asri dan Kedai Kanne Kopi. “Alhamdulillah, ada guide yang bawa tamu-tamu dari luar hingga wisatawan asing untuk mampir ke sini,” bebernya.

ARI menuturkan, ada beberapa kolaborasi dari pihak kehutanan, melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) mereka memberikan bantuan pondok yang akan dijadikan rumah produksi sekaligus kafe. Semua hasil produksi kopi liberika ini nantinya bakal dipajang dalam bentuk kemasan.

Ia menerangkan, dalam seminggu panennya bisa dua kali. Paling tidak bisa memanen 7-15 kilo ceri kopi per satu kali panen. Tidak tentu waktunya. Dipetik sebelum warna ceri kopi berubah jadi hitam. Jadi harus pilih yang merah. “Saya bangun rest area ini, supaya tidak terlalu ribet masalah pemasaran. Apalagi nanti dari kedai kopi yang di Tanjung mungkin bisa memesan,” harapnya.

Selain kebun kopi, Parisau Rest Area juga terdapat budi daya madu kelulut. Ini sebenarnya bantuan dari pihak kehutanan yang ingin melestarikan kembali hutan Berau yang telah dijamah oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. “Ini ada 19 kotak, nanti kita juga berupaya mengembangbiakkan, agar dapat dinikmati orang banyak yang berkunjung ke Parisau Rest Area,” demikian ARI. (Riska)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x