src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Cerita di Balik Kios Mungil Milik Firdaus: Pempek Palembang yang Cocok di Lidah Orang Kaltim di Jalan Mawar

Cerita di Balik Kios Mungil Milik Firdaus: Pempek Palembang yang Cocok di Lidah Orang Kaltim di Jalan Mawar

waktu baca 4 menit
Minggu, 2 Agu 2026 15:31 20 Headline

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Aroma khas pempek panggang dan gorengan bercampur cuko pedas menyeruak dari sebuah kedai sederhana di Jalan Mawar, Tenggarong, tepat di seberang Kafe Royal. Di sanalah Firdaus, pria 56 tahun kelahiran Palembang, menuntaskan mimpinya menghadirkan cita rasa kampung halaman untuk warga Kutai Kartanegara.

Darah Sumatera Selatan yang mengalir di tubuhnya menjadi alasan utama Firdaus terjun ke bisnis kuliner khas tanah kelahirannya ini. Usaha pempek yang ia beri nama Pempek Qita mulai dirintis pada 2025, meski perjalanannya sempat tersendat sebelum akhirnya benar-benar serius digeluti.

Awalnya, Firdaus memulai usaha pempek dari rumahnya di Jalan Penerangan, Timbau. Namun, saat itu, fokusnya terbagi dengan bisnis burung hias yang tengah ia jalani. Akibatnya, produksi pempek pun tak berjalan maksimal hingga akhirnya ia memutuskan berhenti sementara waktu.

Titik baliknya datang ketika ada kebijakan yang melarang perdagangan burung hias. Dari situ, Firdaus memutuskan kembali menekuni usaha pempek yang sempat ia tinggalkan. “Setelah keluar larangan menjual burung hias, saya kembali lagi berjualan pempek,” sebutnya.

Sejak Januari 2026, Firdaus kembali memasarkan pempek buatannya, kali ini lewat sistem penjualan online. Respons pelanggan ternyata cukup menggembirakan. Tak sedikit yang bertanya apakah bisa menikmati pempek langsung di tempat produksi.

Meski bukan berkonsep warung makan pada umumnya, Firdaus tetap membuka kesempatan bagi pelanggan yang ingin makan di lokasi. Namun, ia sendiri merasa kurang nyaman apabila pelanggan harus makan di rumah yang sekaligus menjadi tempat produksi pempeknya.

Firdaus mengambil keputusan. Sebulan terakhir, dia resmi membuka kios pempek di Jalan Mawar, memberi ruang yang lebih layak bagi para pencinta kuliner khas Palembang ini untuk menikmati hidangan favorit mereka.

Pempek Qita dibuat dari bahan dasar ikan belida yang dipadukan dengan adonan tepung kanji dan racikan bumbu pilihan. Firdaus menekankan pentingnya takaran yang pas agar cita rasa pempek tetap nikmat saat disantap.
Salah satu ciri khas yang membedakan Pempek Qita dari pempek kebanyakan terletak pada cukonya. Ada sentuhan rasa pedas cabai yang menyatu dalam kuah cuko, namun kadarnya dijaga agar tidak berlebihan.

Menariknya, resep pempek ini bukan murni ciptaan Firdaus sendiri. Ia mendapatkannya dari seorang penjual pempek di Loa Kulu yang kini sudah beralih profesi.

“Orangnya sudah jadi pekerja Koperasi Desa Merah Putih, jadi stop jualan pempek,” ungkapnya.
Ukuran Mini, Harga Ramah di Kantong

Dari segi tampilan, pempek buatan Firdaus punya keunikan tersendiri, yakni ukurannya yang lebih mini dibanding pempek pada umumnya. Namun soal harga, justru inilah yang menjadi daya tarik utama Pempek Qita.

Untuk paket termahal, harganya berkisar Rp 50.000, itu pun sudah dalam porsi banyak dan cukup untuk dinikmati bersama keluarga. Sementara bagi kantong pelajar, tersedia paket seharga Rp 5.000 saja.

“Yang paling murah paket Rp 5.000,- bisa dibeli anak SD atau SMP dengan harga segitu,” ucapnya.
Prinsip yang dipegang Firdaus sederhana. Pelanggan harus bisa menikmati pempek tidak harus mengeluarkan uang banyak. Filosofi inilah yang membuat Pempek Qita mudah dijangkau berbagai kalangan.

Soal pilihan rasa, Pempek Qita menghadirkan variasi yang cukup lengkap, mulai dari lenjer, kapal selam telur, hingga varian toge dan tahu. Dua varian terakhir ini disebut Firdaus masih tergolong langka di Kalimantan Timur, meski di Palembang sudah menjadi menu yang umum dijumpai.

“Kalau di Palembang sudah lama ada pempek rasa toge dan tahu, kalau di Kaltim jarang ada,” ungkapnya.
Di balik cita rasa yang konsisten, ada kerja keras yang dijalani Firdaus setiap harinya. Rutinitasnya dimulai sejak pukul 04.00 WITA, saat ia mulai mengolah adonan pempek secara perlahan dan teliti. Menjelang pukul 10.00 WITA, seluruh produk sudah harus siap untuk dipasarkan. “Saya buka dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore tutup,” jelasnya.

Firdaus juga memegang teguh prinsip menjaga kualitas bahan baku. Semua bahan yang digunakan harus segar tanpa bahan pengawet. Bila ada pempek yang tidak habis terjual, ia memilih untuk tidak menjualnya kembali keesokan hari demi menjaga kualitas dan kesegaran produk yang sampai ke tangan pelanggan.

Rita Widyasari Jadi Pelanggan

Selain melayani penjualan harian, Pempek Qita juga menerima pesanan untuk acara-acara besar. Pelanggan yang berminat dapat menghubungi kontak 0813-4958-6368 untuk informasi pemesanan lebih lanjut.

Nama Pempek Qita rupanya sudah cukup dikenal di kalangan tertentu. Salah satu pelanggannya adalah eks Bupati Kukar, Rita Widyasari, yang pernah memesan pempek buatan Firdaus dalam jumlah besar.

Bagi Firdaus, diterimanya cita rasa pempek buatannya oleh berbagai kalangan menjadi motivasi tersendiri untuk terus mengembangkan usahanya.

“Pempek Qita sudah cocok di lidah orang Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, ini yang membuat saya semangat bisnis pempek,” terang Firdaus, saat menjaga kiosnya ditemani seorang karyawan. (Andri)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x