src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Waspada, Iklim di Kaltim Mulai Masuk Musim Kemarau

Waspada, Iklim di Kaltim Mulai Masuk Musim Kemarau

waktu baca 2 menit
Jumat, 16 Jun 2023 22:12 507 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto Samarinda, Riza Ariannur mengatakan, perkiraan awal musim kemarau untuk wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) terjadi awal bulan Juni 2023 ini.

“Memang kondisi sepekan terakhir di Kaltim pada periode ini masih dalam posisi hujan. Seperti Samarinda, prediksi kemarau di awal Juni. Artinya, secara umum berada pada musim peralihan, dari hujan ke kemarau, ” ungkapnya.

Dengan kondisi transisi tersebut, kata dia, cuaca di wilayah Kaltim menjadi tidak stabil.

“Artinya potensi angin kencang, petir dan hujan dengan intensitas lebat masih bisa terjadi. Ini yang juga perlu diwaspada, ” katanya.

Menurut Riza, berdasarkan analisis data BMKG terkait iklim dan cuaca, sejak 30 tahun terakhir wilayah Kaltim memiliki 20 zona iklim. Sejumlah wilayah memiliki karakteristik iklim yang berbeda.

“Kaltim memiliki 20 zona iklim berbeda-beda. Misalnya wilayah Kaltim bagian barat atau Kutai Barat, itu kita kategorikan hampir hujan sepanjang tahun. Ini sangat berbeda dengan wilayah Kaltim bagian timur, karena yang terjadi adalah sebaliknya. Artinya iklim itu tidak melihat wilayah hukum dan administrasi saja. Contohnya wilayah Kutai Timur yang memiliki 2 sampai 3 tipe iklim, ” terangnya.

Dikatakannya, sejak awal minggu ini BMKG sudah merilis dinamika atmosfer yang akan terjadi di wilayah Kaltim, kaitannya El Nino. Yakni, terjadi fenomena pemanasan suhu muka laut di atas kondisi normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah.

“Dengan El Nino ini, dinamika atmosfer di wilayah Pasifik bagian timur sudah mulai hangat sejak awal Mei hingga akhir Mei. Jadi, kalau kita lihat nilai anomalinya sudah 5,9,” terangnya.

Riza menyebut, fenomena El Nino dikhawatirkan akan berdampak pada berkurangnya curah hujan. “Begini, normalnya bisa saja mengurangi jumlah hujan atau memperpanjang masa kemarau, sehingga bencana kekeringan dan kebakaran lahan harus diantisipasi dari sekarang, ” ujarnya.

BMKG, kata dia, terus melakukan pemantauan kondisi iklim dan cuaca yang dikeluarkan 10 hari sekali. “Jadi, setiap 10 hari kami mengeluarkan informasi bagaimana prediksi curah hujan, khususnya di Kaltim. Secara berkala juga kita update informasi potensi terjadi hujan di seluruh wilayah Kaltim, ” katanya.

Untuk mengantisipasi bencana akibat El Nino, Riza mengingatkan khususnya wilayah Kutai Barat untuk dapat melakukan antisipatif lebih tinggi. “Karena ada daerah yang mengalami hujan dengan intensitas rendah. Perlu persiapan potensi kebakaran hutan dan lahan, meningkatkan optimalisasi fungsi infrastruktur tampungan air sebagai tempat penyimpanan air buatan, ” tutupnya. (Ningsih/#)

LAINNYA
x