src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Wakil Ketua DPRD Kaltim Muhammad Samsun HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Banyaknya dampak buruk yang ditimbulkan akibat maraknya aktivitas penambangan batu bara di Kaltim, memunculkan wacana dari banyak kalangan masyarakat untuk menutup pertambangan batu bara di Bumi Etam.
Hal itu juga disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD Kaltim Muhammad Samsun.
Menurut dia, pendapatan yang diperoleh Kaltim dari sektor tambang batu bara yang hanya sekitar 7 persen, sangat kecil dan tidak rasional.
“Jika kita ukur berapa yang masuk ke daerah, itu hanya 7 persen dari nilai yang digali dari daerah untuk batu bara yang diekspor. Tapi yang masuk ke daerah cuma 7 persen, kecil sekali. Sehingga tidak fleksibel jika itu dijadikan pondasi ekonomi kita,” ujarnya, saat dikonfirmasi baru-baru ini.
Legislatif dari fraksi PDIP ini menyebut, berdasarkan data statistik, penyerapan tenaga kerja lokal pada perusahaan – perusahaan tambang batu bara di Kaltim juga masih sangat kecil.
Sehingga, menurut Samsun, jika perusahaan pertambangan batu bara ditutup, tidak akan membawa dampak yang lebih buruk.
Dikatakan Samsun, banyak dari masyarakat Kaltim yang tidak bergantung pada perusahaan tambang batu bara. Justru, masyarakat lokal lebih banyak beraktivitas di sektor pertanian dan perdagangan.
“Data statistik tenaga kerja Kaltim yang kerja di sektor tambang ini berapa? Apakah lebih dari 50 persen? Kalau iya, jika kita tutup tambang batu bara artinya 50 persen masyarakat Kaltim nganggur. Tapi faktanya, tenaga kerja lokal hanya 6 persen yang kerja di pertambangan. Artinya tidak signifikan amat,” ujarnya.
“Banyak masyarakat kita yang bekerja di sektor informal, pertanian. Jadi, kalau tambang ditutup, tidak membuat manusia di Kaltim nganggur. Itu kalau kita mau tinjau dari tenaga kerja,” timpalnya.
Samsun melanjutkan, dari sisi lingkungan, aktivitas penambangan batu bara membawa dampak lingkungan yang lebih parah. Banyaknya lingkungan masyarakat yang rusak dan menimbulkan mudharat.
“Dari lingkungan, dapat berdampak lebih parah. Artinya, konsekuensi pertambangan merusak lingkungan, yang dirugikan masyarakat. Jadi, kalau saya simpulkan mudhorotnya lebih banyak dibanding manfaatnya,” pungkasnya. (Advetorial)
Penulis : Ningsih