src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Viral Anak 7 Tahun Alami Pubertas Dini, Dokter Ungkap 7 Tanda Kuat, Penyebab, dan Dampak Seriusnya

Viral Anak 7 Tahun Alami Pubertas Dini, Dokter Ungkap 7 Tanda Kuat, Penyebab, dan Dampak Seriusnya

waktu baca 3 menit
Rabu, 7 Jan 2026 14:05 174 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Fenomena pubertas dini kembali ramai diperbincangkan di media sosial setelah orang tua seorang anak perempuan berusia 7 tahun membagikan pengalaman perubahan fisik yang dialami putrinya. Kondisi tersebut memunculkan diskusi luas mengenai pubertas dini atau pubertas prekoks, yakni situasi ketika tanda-tanda pubertas muncul lebih cepat dari usia normal.

Dilansir dari Kompas, dokter spesialis anak konsultan endokrinologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Dr. Faisal, SpA, SubSp. Endo (K), M.Kes, menjelaskan bahwa secara medis pubertas dini memiliki batas usia yang jelas dan tidak bisa disamakan dengan pertumbuhan anak yang lebih cepat dari biasanya.

Pada anak perempuan, pubertas dini ditandai dengan pertumbuhan payudara sebelum usia 8 tahun. Sementara pada anak laki-laki, kondisi pubertas dini terjadi apabila pembesaran testis muncul sebelum usia 9 tahun. Proses ini berkaitan langsung dengan aktivasi hormon pubertas yang bekerja lebih awal di dalam tubuh anak.

Dr. Faisal menegaskan bahwa pubertas dini bukan sekadar variasi pertumbuhan normal. Aktivasi hormon yang terlalu cepat dapat memengaruhi perkembangan fisik dan psikologis anak dalam jangka panjang, sehingga memerlukan perhatian khusus dari orang tua.

Tanda pubertas dini yang paling sering dikenali pada anak perempuan adalah pertumbuhan payudara yang diikuti peningkatan tinggi badan secara cepat. Sementara pada anak laki-laki, tanda pubertas dini berupa pembesaran testis yang biasanya hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan dokter menggunakan alat khusus bernama orchidometer.

Selain perubahan fisik utama, pubertas dini juga kerap disertai gejala lain seperti perubahan bau badan, munculnya jerawat, serta perubahan emosi yang cukup signifikan. Banyak orang tua mengeluhkan perilaku anak yang tampak lebih dewasa dibanding usianya akibat pubertas dini.

Meski berkaitan dengan hormon, pubertas dini tidak selalu disebabkan oleh penyakit berat. Pada anak perempuan, sebagian besar kasus pubertas dini bersifat idiopatik, atau tidak ditemukan penyebab berbahaya. Namun, pada anak laki-laki, pubertas dini lebih sering berkaitan dengan kondisi medis tertentu sehingga membutuhkan evaluasi lebih mendalam.

Beberapa faktor yang dapat memicu pubertas dini antara lain aktivasi dini hormon pubertas dari otak, obesitas, paparan hormon dari luar tubuh, faktor genetik, serta gangguan tertentu pada jalur hormonal di otak.

Dampak pubertas dini tidak hanya terlihat secara fisik. Anak dengan pubertas dini sering tampak lebih tinggi dari teman sebayanya, namun justru berisiko memiliki tinggi badan akhir yang lebih pendek karena lempeng pertumbuhan menutup lebih cepat.

Dari sisi psikologis, pubertas dini dapat membuat anak merasa bingung, minder, cemas, hingga mengalami gangguan kepercayaan diri dan interaksi sosial. Anak sering kali belum siap secara mental menghadapi perubahan tubuh akibat pubertas dini.

Untuk memastikan diagnosis pubertas dini, pemeriksaan dilakukan secara bertahap. Proses dimulai dari pemeriksaan fisik dan riwayat pertumbuhan, dilanjutkan dengan rontgen usia tulang. Pemeriksaan hormon melalui tes darah dan USG juga kerap dilakukan, terutama pada anak perempuan.

Dalam kondisi tertentu, khususnya pada anak laki-laki dengan pubertas dini, pemeriksaan MRI otak dapat diperlukan. Namun seluruh proses dilakukan secara rasional dan sesuai indikasi medis.

Tidak semua kasus pubertas dini memerlukan terapi. Pengobatan biasanya dipertimbangkan bila usia anak sangat muda, usia tulang sudah jauh lebih maju, berisiko menghambat tinggi badan akhir, atau menimbulkan gangguan psikologis.

Terapi pubertas dini bertujuan memperlambat atau menghentikan sementara proses pubertas agar anak memiliki waktu tumbuh yang optimal. Terapi ini umumnya berupa injeksi hormon tertentu dan harus berada di bawah pengawasan dokter spesialis.

Dr. Faisal menegaskan terapi pubertas dini telah digunakan selama puluhan tahun dan aman jika diberikan sesuai indikasi. Terapi ini tidak memengaruhi kesuburan anak di masa depan, dengan efek samping yang umumnya ringan dan sementara.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x