src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Upaya Evakuasi Badak Pari Demi Mencegah Kepunahan, Belajar dari Kegagalan Malaysia

Upaya Evakuasi Badak Pari Demi Mencegah Kepunahan, Belajar dari Kegagalan Malaysia

waktu baca 6 menit
Selasa, 16 Jun 2026 23:56 15 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO– Telah digelar Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Pari Mahakam Ulu (Mahulu) Tingkat Provinsi yang digelar BKSDA Kalimantan Timur di Balikpapan pada 8 Juni 2026 lalu. Secara tegas menjawab kekhawatiran publik mengenai masa depan ekosistem hulu Mahulu terkhusus Badak Pari.

‎Evakuasi Badak Pari ke Suaka Badak Kelian di Kutai Barat sempat diterpa isu miring dan tuduhan bahwa langkah taktis ini sengaja dilakukan agar kawasan hutan yang selama ini ditinggali badak bisa segera dirambah, dibebaskan, atau dialihfungsikan untuk kepentingan konsesi lain pasca kosongnya habitat badak.

‎Namun, tuduhan itu mentah dalam rakor tersebut. Lokasi spesifik tempat Badak Pari bertahan selama ini adalah Hutan Lindung Buring Ayok yang merupakan benteng hijau terakhir di hulu Mahulu. Terletak tepat di tapal batas antara Provinsi Kaltim dan Kalteng, kawasan ini secara administratif bersinggungan langsung dengan ruang hidup masyarakat adat di Kampung Nyaribungan dan Kampung Danum Paroy, Kecamatan Laham.

‎Berdasarkan dokumen sengketa dan percepatan batas wilayah, wilayah adat Kampung Danum Paroy merupakan batas langsung ekosistem Buring Ayok yang membatasi Kaltim dengan Kabupaten Murung Raya di Kalteng. Bahkan, dalam sejarah migrasi lokal, komunitas Dayak di Nyaribungan dan Danum Paroy berbagi ruang hidup dan wilayah kelola hutan yang sama di sepanjang Sub DAS Ratah.

‎Keberadaan batas alam lintas provinsi ini, menegaskan pentingnya komitmen bersama untuk menjaga kelestarian hutan dari ancaman kerusakan lingkungan.

‎Alasan utama pemindahan Badak Pari dari Buring Ayok murni didasari atas kedaruratan biologis satwa itu sendiri, bukan sebuah skenario pengosongan lahan. Saat ini, Pari adalah satu-satunya individu Badak Kalimantan yang tersisa di alam bebas dan berjenis kelamin betina tanpa pasangan.

‎Jika ia dibiarkan terisolasi di sana lalu kemudian mati tanpa diketahui, dalam waktu hitungan jam saja seluruh materi biologis dan proteinnya akan hancur akibat pembusukan alami.

‎Satwa langka kebanggaan negara ini hanya akan berakhir menjadi tumpukan tulang belulang untuk kerangka museum, tanpa menyisakan peluang sedikit pun bagi kelanjutan spesiesnya.

‎Sebaliknya, dengan mengevakuasi Badak Pari dalam kondisi hidup ke suaka, para ahli kedokteran hewan dapat mengamankan material genetik berharga, melalui pemanfaatan kultur jaringan kulit serta mukosa (lapisan lendir) gusi demi program bayi tabung maupun kloning.

‎Prinsip konservasi yang mutlak yakni Hutan Lindung Buring Ayok sangat kaya akan keanekaragaman hayati (biodiversitas). Oleh karena itu, ada ataupun tidak ada Badak Pari di sana, benteng hijau lintas provinsi ini sudah sepatutnya dan wajib untuk tetap dipertahankan.

‎Otoritas berwenang menjamin bahwa pasca-translokasi, status hukum kawasan Buring Ayok justru akan diusulkan ke pemerintah pusat sebagai Areal Preservasi atau Konservasi. Langkah ini tidak hanya melindungi kekayaan hayati yang tersisa di dalamnya, tetapi juga memastikan bahwa ketika keajaiban sains di laboratorium suaka berhasil mengembangbiakkan Badak Kalimantan, anak-cucu mereka sudah memiliki rumah alami yang utuh, lestari, dan aman untuk dilepasliarkan kembali ke hulu Mahulu.

‎”Terkait dengan pasca penyelamatan badak, ada beberapa hal keinginan dari semua pihak sebetulnya bahwa diharapkan habitat badak pari yang nanti akan kita lakukan penyelamatan itu tetap dipertahankan jadi semacam areal konservasi atau areal preservasi. Dan kami sepakat hal ini dan kita akan usulkan nanti menjadi areal preservasi kepada pemerintah pusat,” Kepala BKSDA Kaltim M. Ari Wibawanto menjelaskan.

‎”Jadi tidak hilang seperti isu yang berhembus. Dan kita berharap habitatnya tetap terjaga sehingga nanti kalau misalkan penyelamatannya berhasil, kemudian berkembang biak, ada lokasi untuk pelepasliaran lagi,” tegas Ari.

‎Harapan tim ahli reproduksi badak Indonesia adalah dengan menyelamatkan Pari terkait dengan kontribusi untuk konservasi khususnya mencegah kepunahan spesies Badak Kalimantan.

‎Jika melihat dari video, kondisi tubuh badak pari cukup baik. Harapannya dia lebih muda dari Pahu sehingga punya potensi untuk kita berhasil mengkoleksi sel telurnya. Kemudian, diharapkan mengembangkan program bayi tabung dengan menggunakan sperma dari Badak Sumatera yang ada di Way Kambas.

‎”Dengan terselamatkannya Pari bergabung dengan Pahu di sanctuary Badak Kalimantan, maka kita bisa juga mengkoleksi sampel yang tidak mungkin kita dapatkan apabila Pari ini ada di alam,” kata Tim Ahli Reproduksi Badak Indonesia, drh. Muhammad Agil.

‎Tim penyelamatan bisa mengkoleksi biopsi dari kulit maupun dari mukosa (lapisan lendir) gusi yang sangat berharga sekali. Dengan itu bisa dilakukan kultur jaringan dari kulit dan juga dari mukosa. Didapatkan materi fibroblast atau cell line.

“Dari situ kita bisa mengembangkan apa yang kita sebut sebagai gamet atau sel sperma dan juga sel telur artifisial. Jadi dari kulit, dari mukosa gusi, kita bisa mengembangkan sel sperma dan sel telur artifisial. Artinya bahwa walaupun badak ini adalah badak betina, tapi dengan kita memiliki material ini kita bisa mengembangkan gamet dari sel-sel tubuhnya,” bebernya.

Apabila didapatkan cell line dari si badak Pari, kata dia, maka ada kesempatan untuk melakukan program kloning menggunakan cell line yang sudah dimiliki yang dikembangkan dari fibroblast tersebut. Dan itu akan menjadi individu baru tapi genetiknya 100 persen sama dengan Pari dan sama dengan Pahu. Artinya apa? Artinya, tim bisa menyelamatkan material genetik dari spesies ini kembali hidup dengan umur yang lebih muda.

‎”Badak Pari mungkin sekarang umurnya sudah 30 atau 20 tahun, maka kalau kita bisa mengembangkan kloning dari sel ini, kita bisa memiliki kesempatan untuk mengembangkan individu baru dari individu kloning yang dihasilkan dalam jangka yang panjang. Karena berarti kita mulai dari umur nol sampai dewasa,” ucapnya.

‎Agil memperkirakan, ada kemungkinan kalau misalnya kondisi tubuhnya cukup baik dan juga siklus reproduksinya baik, maka suatu waktu kalau memang ada spesie jantan bisa kawin alamiah. “Jadi banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan Badak Kalimantan dari kepunahan dengan menyelamatkan Badak Pari ini masuk ke Suaka Badak Kelian,” tukasnya.

‎Agil merinci, bagian urgensi translokasi. Pada saat  berada di alam kemudian mati, maka tidak ada yang bisa diketahui. Beberapa kali contoh dari Badak Jawa yang ketahuan mati di alam. Mayat sudah mengalami pembusukan dan itu sudah tidak bisa dimanfaatkan. Paling memungkinkan  tulangnya saja.

‎”Kita jadikan kerangka Badak Jawa. Nah, jangan sampai kita hanya bisa memanfaatkan tulangnya untuk membangun kerangka Badak Kalimantan jadi museum, tapi sel hidupnya sudah tidak ada kalau dia mati di alam. Karena tidak mungkin mati di alam itu dalam jangka waktu 6 jam atau 12 jam sel-sel tidak rusak, itu kan protein akan hancur,”tegasnya.

‎Namun, kalau berada di Suaka Badak Kalimantan, maka pihaknya bisa memprogram dan setiap saat bisa melakukan tindakan untuk memperbanyak material-material biologis yang ke depannya itu bisa dimanfaatkan untuk pengembangan dengan teknologi reproduksi berbantu. Seperti menghasilkan dari mulai embrio yang jika ditanam akan menjadi individu baru.

‎‎”Jadi harapannya adalah in long term Badak Kalimantan akan terselamatkan dari kepunahan. Jangan sampai seperti Malaysia, sudah habis dan mereka tidak punya material biologis yang bisa dikembangkan, punah sudah,” pungkasnya.(Andri/Lil)


LAINNYA
x