29.3 C
Samarinda
Wednesday, July 17, 2024

Pj Gubernur Kaltim Sentil Pejabat yang Belum Bergerak Turunkan Stunting

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Dalam rangkaian pencanangan intervensi pencegahan stunting di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Loa Janan Ulu, Kecamatan Loa Janan, pada Rabu, 12 Juni 2024, Pj Gubernur Kalimantan Timur, Akmal Malik, menyentil pejabat yang belum proaktif dalam menanggulangi masalah stunting di wilayahnya.

“Ada pejabat yang menerima jabatan, tapi belum bekerja menangani stunting di wilayahnya. Dinas Kesehatan dan Disdikbud harus proaktif dalam pencegahan stunting,” tegas Akmal Malik.

Pernyataan ini disampaikan tanpa menyebutkan siapa pejabat yang dimaksud. Namun, acara tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 10 pemerintah kota dan kabupaten se-Kalimantan Timur.

Akmal juga menyarankan agar daerah lain belajar dari Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang telah berhasil menurunkan angka stunting secara signifikan.

“Provinsi dan daerah lainnya bisa belajar penanganan stunting dari Kukar, karena mereka mampu menurunkan angka stunting hingga 9 persen, sementara provinsi hanya mampu menurunkan 1 persen saja,” jelasnya.

Menurut Akmal, keberhasilan Kukar tidak terlepas dari peran aktif 258 posyandu yang menggerakkan kader-kadernya untuk menangani stunting. Pencapaian ini sangat membanggakan meskipun belum mencapai target nasional sebesar 14 persen.

“Walaupun belum tembus target nasional 14 persen, Kukar sudah menunjukkan hasil yang bagus,” pungkas Akmal.

Secara rinci, Kukar berhasil menurunkan angka stunting dari 27,1 persen pada tahun 2022 menjadi 17,6 persen di tahun 2023. Keberhasilan ini diraih berkat kepemimpinan Bupati Kukar Edi Damansyah, yang mampu menggerakkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk bersama-sama menangani masalah stunting.

“Lebih cepat menurunkan stunting jika ditangani bersama lintas OPD dan dengan data yang valid,” kata Ketua Tim Konvergensi Percepatan Penanganan Stunting (KP2S) Kukar, Sunggono.

Sunggono menjelaskan bahwa Pemkab Kukar telah melakukan survei terkait faktor penyebab masalah gizi pada anak. Faktor-faktor tersebut antara lain keluarga yang tidak memiliki jaminan kesehatan, kurangnya akses ke fasilitas air bersih, penyakit cacingan, tidak adanya jamban sehat, kebiasaan merokok, riwayat penyakit ibu hamil, hingga keluarga dengan penyakit penyerta.

“Ini sudah kita tangani secara cepat sejak tahun lalu,” ucap Sunggono.(andri)

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim

- Advertisement -

LIHAT JUGA

- Advertisement -

TERBARU

POPULER