src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Tak Punya Rumah Dinas, Guru Sekolah Rintisan Google Ini Nginap di Ruang Guru

Tak Punya Rumah Dinas, Guru Sekolah Rintisan Google Ini Nginap di Ruang Guru

3 minutes reading
Tuesday, 24 Feb 2026 21:10 48 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Camat Muara Kaman Nadi Biswan mengaku prihatin karena masih ada guru yang mengajar di SMPN 7 Muara Kaman tinggal di ruangan guru. Belum  punya rumah dinas.  ‎”Kita merasa kasihan karena masih ada guru yang tinggalnya juga di ruang sekolahan,” ucap Camat Nadi, Senin 23 Februari 2026.

‎Dia mengaku sudah berkali-kali mengusulkan pembangunan rumah dinas guru lewat Musrenbang. Namun, sampai saat ini usulan tersebut tidak pernah terealisasi.

Guru SMPN 7 Muara Kaman Suwito, asal Tenggarong, mengaku sudah empat tahun tinggal di ruang guru. Sedangkan guru perempuan, tidur di ruangan sebelahnya yang sudah disekat seperti kamar. ‎”Ada sembilan guru yang mengabdi di SMPN 7, dua orang guru lokal, sedangkan tujuh orang lagi tinggalnya jauh, jadi mengharuskan menginap di sekolah,” jelasnya.

‎Guru terjauh berasal dari Kecamatan Kembang Janggut. Ada juga dari Sebulu SP1 dan Samarinda. Suwito bersama guru lainnya yang senasib jarang pulang ke rumah. Penyebabnya, akses jalan untuk pulang-pergi tidak memungkinkan. Menuju Desa Menamang Kanan memang dibutuhkan perjuangan yang luar biasa karena jalan yang masih rusak.

‎Suwito mencontohkan rekannya sesama guru dari Samarinda. Jika guru tersebut memakai jasa mobil harus membayar Rp 300.000. Jadi, perjalanan bolak-balik ke sekolah ini membutuhkan dana Rp 600.000. Menguras kantong. Sementara, menggunakan motor sendiri, bikin trauma. ‎”Teman yang pakai motor sering kali jatuh jungkir-balik karena jalan hauling HTI sangat licin saat hujan,” tuturnya.

‎Masalahnya, tidak ada rumah warga yang bisa disewakan. Pilihan menginap di sekolah karena beban dan biaya berkurang. Tidak perlu bayar kontrak rumah dan tagihan air serta listriknya. ‎Belum lagi ketika hujan berjam-jam, maka bencana banjir pasti jadi penghalang. Mereka harus menunggu banjir surut yang bisa memakan waktu 4-5 jam.

Suwito punya pengalaman pahit ketika ingin pulang ke Tenggarong dalam kondisi hujan.
‎”Dari sekolah, saya berangkat jam 11 siang, sampai rumah di Tenggarong jam 2 pagi,” keluhnya.
‎Namun, beratnya pengabdian yang dirasakan Suwito dan guru lain tak bikin mereka menyerah. Para guru ini terus memberikan pembelajaran yang terbaik bagi siswa. Ini dibuktikan, SMPN 7 Muara Kaman telah berstatus sebagai sekolah rujukan Google di Kukar.

‎Atas prestasi yang sudah diraih, beberapa sekolah meninjau SMPN 7, seperti sekolah dari Kutai Timur dan Tenggarong. ‎”Habis lebaran nanti, terjadwal sekolah asal Balikpapan dan Tenggarong  yang mau berkunjung ke sekolah kami,” ceritanya.

Kepala Bidang Pendidikan SMP Disdikbud Kukar Emy Rosana Saleh membenarkan para guru di SMPN 7 Muara Kaman harus menginap di ruang guru. Guru yang mengajar di sana, mayoritas adalah guru dari luar yang ditempatkan di Muara Kaman.

Disdikbud, sebutnya, tidak tinggal diam. Pihaknya selalu mengusulkan untuk pembangunan rumah dinas guru. ‎”Kita usahakan pembangunan rumah dinas guru di sana dengan kondisi defisit anggaran yang terjadi saat ini di daerah kita,” ungkapnya.(Andri)

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x