src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Suhu Samarinda Diprediksi Tembus 35 Derajat, Dinkes Ingatkan Warga Waspada Heat Stroke

Suhu Samarinda Diprediksi Tembus 35 Derajat, Dinkes Ingatkan Warga Waspada Heat Stroke

waktu baca 3 menit
Kamis, 20 Agu 2026 14:46 34 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Musim kemarau yang melanda Samarinda beberapa pekan terakhir membuat suhu udara terus merangkak naik. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda bahkan memperkirakan suhu maksimum sepanjang Agustus 2026 bisa menembus 35 derajat Celsius, lebih tinggi dibanding catatan suhu maksimum Juli yang berada di angka 34,1 derajat.

Dinas Kesehatan Kota Samarinda mengingatkan warga untuk lebih waspada terhadap risiko kesehatan akibat paparan panas berkepanjangan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, dr. Ismed Kusasih, menjelaskan, ancaman kesehatan paling nyata di tengah cuaca panas seperti sekarang adalah kondisi yang disebut heat stroke atau sengatan panas.

Kata dia, istilah ini kerap sudah familiar bagi masyarakat yang pernah menunaikan ibadah umrah maupun haji, mengingat kondisi serupa juga lazim terjadi di tanah suci akibat cuaca ekstrem.

“Yang harus diwaspadai sebenarnya kalau panas ini ada satu keadaan yang harus dihindari, terjadinya heat stroke, bukan stroke. Heat stroke itu bahasa Indonesianya sengatan panas,” ujar Ismed saat diwawancarai Rabu, 20 Agustus 2026.

Ismed menjelaskan, langkah paling mendasar untuk mencegah heat stroke adalah dengan memastikan tubuh tidak kekurangan cairan. Masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan diimbau untuk memperbanyak minum air putih, mengenakan alat pelindung diri (APD) seperti topi atau pakaian yang menutupi tubuh dari paparan langsung sinar matahari, serta menghindari aktivitas berlebihan di jam-jam dengan intensitas panas tertinggi.

“Yang paling penting sebenarnya adalah jangan sampai terjadi dehidrasi. Kalau terjadi dehidrasi, menghindarinya pasti rehidrasi, jadi harus cukup minum,” imbaunya.

Apabila heat stroke benar-benar terjadi, sebut dia, dampaknya bisa cukup serius. Kondisi ini bisa memicu gangguan sirkulasi darah, kekurangan cairan tubuh yang parah, hingga gangguan kesadaran yang membuat seseorang tiba-tiba pingsan.

“Heat stroke yang betul-betul berat itu biasanya terjadi di suhu 40 derajat ke atas,” tuturnya.

Meski suhu di Samarinda saat ini disebutnya masih berkisar di angka 35 hingga 36 derajat Celsius dan belum menyentuh level yang dikategorikan berbahaya, Ismed tetap mengimbau masyarakat untuk tidak lengah dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca yang sedang berlangsung.

Dari sisi data kesehatan, Ismed memastikan hingga saat ini belum ada peningkatan signifikan pada kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit tertentu akibat cuaca panas berkepanjangan ini. Dikatakannya, situasi ini berbeda dengan kondisi ketika cuaca panas diselingi hujan, yang biasanya justru memicu lonjakan kasus demam berdarah.

“Kalau misalnya panas terus hujan, kemudian terjadi KLB demam berdarah, itu malah tidak ada. Jadi sekarang kalau cuaca panas ini yang harus diwaspadai adalah sengatan panas,” ungkap Ismed.

Terkait potensi dampak kesehatan dari kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang turut meningkat selama musim kemarau, Ismed juga memastikan belum ada lonjakan berarti pada kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Samarinda.

Ia menyebut, ISPA memang tergolong penyakit yang berlangsung sepanjang tahun, terlepas dari kondisi cuaca panas maupun tidak.

“Kalau ISPA itu kan berlangsung sepanjang tahun dan memang kalau ISPA, mau dia cuaca panas atau tidak, itu memang terjadi sebagai penyakit yang dominan. Sebenarnya angka-angka kesakitan itu di musim panas ini ya seperti biasa, tidak ada peningkatan yang luar biasa,” demikian dr. Ismed Kusasih. (Retno)

LAINNYA
x