src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Punya "Kelas Jauh" yang Wilayahnya Lebih Dekat ke Kukar, SDN 005 Loa Buah Kekurangan Enam Ruang Kelas

Punya “Kelas Jauh” yang Wilayahnya Lebih Dekat ke Kukar, SDN 005 Loa Buah Kekurangan Enam Ruang Kelas

waktu baca 5 menit
Kamis, 13 Agu 2026 17:01 32 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Tidak banyak yang tahu, SD Negeri 005 yang terletak di Jalan Melati, Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda punya “kelas jauh” di sebuah kampung bernama Loa Kumbar, wilayah yang justru lebih mudah dijangkau lewat perahu menyeberang ke Kutai Kartanegara (Kukar) dibandingkan menempuh jalan darat menuju pusat Kota Samarinda. Fakta unik ini terungkap saat Komisi IV DPRD Kota Samarinda bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda meninjau langsung sekolah tersebut, pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Novan Syahronny Pasie menjelaskan, Loa Kumbar merupakan permukiman kecil yang dihuni sekitar 280 jiwa atau 120 kepala keluarga, warga Kota Samarinda yang secara administratif masuk Kelurahan Loa Buah, tetapi posisinya jauh terpencil dari pusat kota. Uniknya, mobilisasi warga di sana justru lebih banyak mengarah ke luar wilayah Samarinda, menyeberang dari Pelabuhan Loa Kumbar menuju Loa Duri yang sudah masuk wilayah Kukar. Sementara jalur darat menuju Samarinda harus melewati kawasan hutan di belakang kampung, rute yang jauh lebih sulit ditempuh dibanding menyeberang sungai. “Kalau mereka ke sini jauh dan melewati hutan itu lagi, belakang hutan. Jadi orang sana mobilisasinya lebih banyak lewat kapal ke Kukar,” ujar Novan.

Karena kondisi geografis yang serba terisolasi itu, Loa Kumbar ditetapkan sebagai kawasan sekolah tertinggal atau sekolah jauh, status yang menurut Novan justru membawa manfaat tersendiri bagi para pengajarnya. Sebab, aturan Tunjangan Profesi Guru (TPG) biasanya mensyaratkan jumlah siswa minimal 20 orang per kelas. Sedangkan di sana jumlah siswa per kelas jauh dari angka itu.

Berkat status sekolah jauh tersebut, para guru di Loa Kumbar tetap bisa mengantongi TPG meski jumlah muridnya sangat terbatas, hanya berkisar tujuh hingga delapan siswa baru setiap tahunnya. Bahkan, pernah hanya empat siswa dalam satu angkatan. Sekolah di Loa Kumbar hanya memiliki tiga ruang kelas dengan dua orang guru. Kegiatan belajar mengajar di sana tetap berada di bawah kendali Norman, selaku Kepala SD Negeri 005 Loa Buah yang menjadi sekolah induk dari unit Loa Kumbar tersebut.

Meski jumlah siswanya kecil, Novan menyebut kondisi bangunan sekolah di sana justru tergolong baik dan representatif. Bahkan, kawasan ini pernah dikunjungi langsung oleh istri Wali Kota dan Wakil Wali Kota Samarinda beberapa pekan sebelumnya. “Itu memang pecahannya dari sekolah ini untuk mengakomodir warga kita, warga Kota Samarinda, Kelurahan Loa Buah, tapi wilayahnya agak terpencil di Loa Kumbar,” kata Novan.

Namun di balik cerita unik Loa Kumbar, persoalan yang jauh lebih mendesak justru terjadi di sekolah induknya sendiri. Norman mengungkapkan, SD Negeri 005 Loa Buah saat ini hanya memiliki enam ruang kelas, padahal idealnya dibutuhkan dua belas ruang agar seluruh siswa bisa belajar normal pada pagi hari. Akibat keterbatasan itu, sekolah terpaksa menerapkan sistem giliran. Bagi siswa kelas II masuk sekitar pukul 10.00 WITA. Sementara kelas III dan IV baru mendapat giliran belajar mulai pukul 13.00 hingga sore hari. “Karena ada dua shift, pengennya anak-anak turunnya hanya satu shift pagi saja, sementara ini dua shift, jadi kekurangan kelas,” tutur Norman.

Total kebutuhan tambahan yang diusulkan mencapai enam ruang kelas baru mengingat jumlah siswa di sekolah induk saat ini sudah mencapai sekitar 370 orang dengan kapasitas maksimal 28 siswa per kelas.
Selain ruang kelas, Norman turut mengusulkan perbaikan paving block karena tanah yang kerap menimbulkan debu saat angin kencang, pagar belakang sekolah karena berbatasan langsung dengan permukiman warga, hingga ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang masih menumpang di bekas rumah dinas guru. “Ruang UKS kami tidak ada di sini. Ruangnya itu bekas rumah guru yang digunakan, jadi itu dimanfaatkan sebagai UKS sementara, daripada tidak ada,” ungkapnya.

Selain persoalan bangunan, sekolah induk maupun ‘kelas jauh’ di Loa Kumbar ternyata sama-sama menghadapi kendala serupa. Soal tenaga pengajar bahasa Inggris. Berbeda dengan jenjang SMP yang punya formasi khusus untuk mata pelajaran ini, di jenjang SD, bahasa Inggris selama ini diampu langsung oleh wali kelas. Kondisi itu membuat guru yang selama ini mengajar bahasa Inggris di Loa Buah berisiko tidak bisa diangkat lewat jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) karena ketiadaan formasi. Sementara di Loa Kumbar kebutuhan itu bahkan sama sekali belum terpenuhi. “Kami yang punya ini kasihan nantinya, begitu ada pengangkatan P3K, dia tidak punya formasi, di SD tidak bisa diangkat,” jelas Norman.

Norman berharap seluruh usulan tersebut mendapat respons serius dari legislatif, mengingat sekolahnya harus bersaing dengan sekolah dasar lain di sekitarnya dalam menjaring siswa baru. Tahun ajaran ini, gabungan Loa Buah dan Loa Kumbar hanya menerima sekitar 60-an siswa baru, jauh dari target ideal 70-an siswa untuk tiga rombong belajar. Menanggapi keseluruhan temuan itu, Novan menilai kondisi bangunan utama SD Negeri 005 Loa Buah sebenarnya sudah cukup baik, mengingat ruang laboratorium dan perpustakaan sekolah ini sudah rampung dibangun sejak 2024.

Ia menegaskan persoalan guru bahasa Inggris menjadi salah satu poin yang akan didalami lebih jauh oleh Komisi IV bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda, baik untuk Loa Buah maupun unit Loa Kumbar yang kondisinya dinilai lebih membutuhkan perhatian. “Makanya, semua kita akomodir dulu permasalahannya apa, nanti kita akan rapatkan kembali dengan Dinas Pendidikan dan OPD terkait,” pungkas Novan. (Retno)

LAINNYA
x