src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Belum Tanda Peralihan Musim, BMKG: Hujan Guyur Samarinda Hari Ini Kemungkinan Hasil OMC

Belum Tanda Peralihan Musim, BMKG: Hujan Guyur Samarinda Hari Ini Kemungkinan Hasil OMC

waktu baca 3 menit
Jumat, 25 Sep 2026 17:16 28 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Hujan kembali turun di sejumlah wilayah Kota Samarinda, pada Jumat, 25 September 2026 setelah daerah ini mengalami periode kering dalam beberapa pekan terakhir. Hujan dengan intensitas berbeda terpantau di sejumlah kawasan. Di Jalan Suryanata, hujan turun cukup deras, sedangkan di wilayah lainnya hanya berupa gerimis hingga hujan ringan. Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di kawasan Bengkuring dan Sempaja, serta di sejumlah titik ruas Samarinda-Bontang pada Jumat pagi.

Namun, turunnya hujan tersebut belum dapat dijadikan tanda bahwa Samarinda mulai memasuki musim peralihan, mengingat kondisi atmosfer secara keseluruhan masih berada dalam pengaruh kemarau dan El Nino yang saat ini berada pada intensitas sangat kuat.

Forecaster BMKG Samarinda, Fiona Alya Hanifah, mengatakan hujan terpantau di beberapa bagian kota, terutama Samarinda Kota dan Samarinda Utara. “Untuk wilayah cakupannya, tadi terpantau terjadi hujan di beberapa wilayah Samarinda, khususnya bagian Samarinda Kota dan Utara. Tadi sempat ada hujan dengan intensitas rendah hingga menengah,” kata Fiona dikonfirmasi via telepon.

Dijelaskannya, adanya hujan tidak serta-merta membuat suatu wilayah keluar dari periode kemarau. Dalam pengertian BMKG, musim kemarau tidak berarti hujan sama sekali tidak turun, melainkan kondisi curah hujan yang lebih rendah dibandingkan periode musim hujan. Secara teknis ditandai curah hujan kurang dari 50 milimeter per dasarian, dengan akumulasi tiga dasarian kurang dari 150 milimeter sebagai salah satu kriterianya.

Fiona menyebut kondisi kemarau tahun ini juga tidak terlepas dari pengaruh El Nino. BMKG mencatat indeks ENSO rata-rata tiga bulanan untuk periode Juli-Agustus-September 2026 berada di angka 2,63, yang masuk kategori El Nino sangat kuat. Kalimantan Timur juga termasuk wilayah yang mendapat peringatan dini kekeringan meteorologis. “Dengan adanya El Nino tersendiri, dampak dari musim kemaraunya ini lebih panjang dan lebih kering dari normalnya,” tambah Fiona.

Kondisi kering tersebut sebelumnya juga terlihat pada Agustus. Berdasarkan pemantauan BMKG Samarinda, hampir tidak terdapat hujan di wilayah tersebut pada bulan itu. “Agustus kemarin, kan terpantau benar-benar tidak terjadi hujan di Samarinda. Sebenarnya ini yang di bawah normal itu sifatnya, karena seharusnya masih ada hujan untuk kondisi normalnya. Namun, karena El Nino ini curah hujannya benar-benar drastis turun,” jelas dia.

Oleh karena itu, hujan yang turun pada saat ini masih perlu dilihat dalam konteks kondisi atmosfer secara keseluruhan. Terlebih, wilayah Samarinda dan sekitarnya baru saja menjadi sasaran Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang berlangsung 15-19 September 2026. Operasi tersebut dilaksanakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Kota Samarinda, dengan dukungan Bandara APT Pranoto dan Lanud Dhomber untuk membantu menghadapi kekeringan serta kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Fiona menyebut keberadaan OMC menjadi salah satu faktor yang membuat BMKG belum langsung menyimpulkan hujan yang terjadi hari ini sebagai pertanda pergantian musim. “Untuk saat ini belum bisa dipastikan sebagai peralihan musim, karena kemungkinan hujan yang terjadi pada hari ini adalah hasil dari OMC,” tutur Fiona.

Pelaksanaan OMC bergantung pada keberadaan awan yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi hujan, sehingga penyemaian tidak dilakukan dalam kondisi atmosfer yang sama sekali tanpa awan. Di Samarinda, potensi pertumbuhan awan masih dapat ditemukan meski kondisi atmosfer secara umum sedang kering, dan lewat OMC potensi tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan peluang terbentuknya hujan. “Jadi sebenarnya di Samarinda ada saja potensi awannya, namun untuk menjadi hujan itu dibutuhkan disemai dulu dengan bantuan OMC sehingga terjadi hujan,” demikian Fiona Alya Hanifah. (Retno)

LAINNYA
x