src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Rupiah Tertekan, Pelemahan Terhadap Dolar AS Berlanjut Hingga Rabu, 12 Februari 2025

Rupiah Tertekan, Pelemahan Terhadap Dolar AS Berlanjut Hingga Rabu, 12 Februari 2025

waktu baca 3 menit
Rabu, 12 Feb 2025 11:11 252 Anjhu Anggia

HEADLINEKALTIM.CO – Rupiah diperkirakan akan melanjutkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, Rabu (12/2/2025). Analis Pasar Uang, Ariston Tjendra, menyebutkan bahwa pernyataan terbaru dari Ketua Bank Sentral AS, Jerome Powell, menjadi salah satu faktor utama yang berpotensi membebani nilai tukar rupiah.

Pada perdagangan kemarin, rupiah tercatat mengalami penurunan sebesar 0,16 persen atau setara dengan 25 poin, berakhir di level Rp16.383 per dolar AS. Menurut Ariston, kondisi ini dipengaruhi oleh sentimen pasar yang merespons pernyataan Powell dalam sesi dengar pendapat dengan Senat AS.

Dalam pernyataannya, Powell mengisyaratkan bahwa Bank Sentral AS, atau The Federal Reserve (The Fed), kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga acuan yang ada saat ini dalam jangka waktu yang lebih lama. Hal ini menandakan bahwa tidak akan ada pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, mengingat kondisi perekonomian AS yang masih cukup solid.

“Pasar melihat ini sebagai tanda bahwa kebijakan moneter The Fed masih akan cenderung hawkish. Ini membuat dolar AS tetap kuat, sementara negara-negara emerging market, termasuk Indonesia, masih harus menghadapi tantangan dalam stabilisasi nilai tukar,” jelas Ariston.

Selain pernyataan Powell, Ariston juga mencatat adanya ketidakpastian yang berasal dari kebijakan perdagangan Presiden AS, Donald Trump. Kebijakan tarif yang tidak menentu ini meningkatkan ketegangan di pasar global dan memberikan dampak negatif terhadap perekonomian negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Ketidakpastian dari kebijakan tarif Trump ini juga berkontribusi terhadap melemahnya rupiah. Pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati dalam merespons pergerakan mata uang global,” ujar Ariston.

Melihat situasi tersebut, Ariston memprediksi bahwa rupiah masih memiliki peluang untuk melemah lebih lanjut. Ia memperkirakan, pada hari ini, rupiah bisa bergerak menuju level Rp16.400 per dolar AS, dengan potensi support berada di kisaran Rp16.330 per dolar AS.

“Dalam beberapa hari terakhir, kita memang melihat pola pelemahan yang berlanjut. Jika tekanan terhadap mata uang global terus berlanjut, kemungkinan besar rupiah akan kembali tertekan,” tambahnya.

Namun, meskipun ada tekanan eksternal, Ariston juga mencatat bahwa faktor domestik seperti kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia akan berperan dalam menstabilkan kondisi pasar. Bank Indonesia, kata Ariston, berpeluang untuk tetap mengintervensi pasar guna menjaga agar fluktuasi rupiah tidak terlalu tajam.

Di sisi lain, para pelaku pasar juga mengamati sektor-sektor yang berpotensi terdampak akibat pelemahan rupiah ini. Salah satu yang mendapat perhatian adalah sektor ekspor, yang biasanya mendapat keuntungan saat mata uang domestik melemah. Namun, ketegangan di pasar global dan kebijakan tarif AS yang tidak menentu bisa mempengaruhi daya saing ekspor Indonesia.

Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi Indonesia yang masih menarik bagi investor asing menjadi salah satu faktor penopang nilai tukar rupiah. Meskipun demikian, ketidakpastian di pasar global masih menjadi ancaman yang perlu diwaspadai.

Secara keseluruhan, tantangan yang dihadapi rupiah saat ini mencerminkan dinamika perekonomian global yang penuh ketidakpastian. Para analis memperingatkan bahwa meskipun ada potensi pemulihan, rupiah masih rentan terhadap tekanan dari luar, terutama dari kebijakan moneter AS dan ketegangan perdagangan internasional.

Dalam menghadapi tantangan ini, masyarakat dan pelaku ekonomi diharapkan tetap waspada dan bijak dalam mengambil langkah-langkah strategis untuk menghadapi fluktuasi nilai tukar yang kemungkinan akan berlanjut dalam waktu dekat.

  1. Bagi pemerintah dan Bank Indonesia, momen ini merupakan ujian untuk mengelola ekonomi domestik secara hati-hati. Tentu saja, langkah-laangat diperlukan agar rupiah tidak semakin tertekan. Keputusan yang bijak dalam mengelola neraca perdagangan, investasi asing, serta kebijakan suku bunga menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakp astian global.

Artikel Asli baca di rri.co.id

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya di Google News Headline Kaltim

LAINNYA
x