Beranda Kutai Timur Putusan terhadap Anak Berhadapan dengan Hukum, Ini yang Jadi Pertimbangan Hakim

Putusan terhadap Anak Berhadapan dengan Hukum, Ini yang Jadi Pertimbangan Hakim

Sidang peradilan anak digelar secara daring di PN Sangatta. (istimewa)
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, SANGATTA – Penjatuhan putusan hukum dalam peradilan anak merupakan tugas tidak ringan bagi setiap hakim pengadilan. Tugas mereka saat memberi vonis tetap mengedepankan obejektivitas meskipun orang tua atau keluarga menganggapnya terlalu memberatkan anak.

Headlinekaltim.co menemui pihak Pengadilan Negeri (PN) Sangatta untuk mengetahui sudut pandang hakim dalam setiap mengambil beberapa keputusan terkait anak yang berhadapan dengan hukum.

Kepala PN Sangatta Rahmat Sanjaya, SH., MH didampingi Humas PN yakni Andreas Pungky Maradona, SH., MH, menyebutkan, dalam tiap menangani perkara peradilan yang pelakunya merupakan anak-anak, hakim tetap mengedepankan asas hukum di atas segalanya.

Advertisement

“Perkara anak yang telah disidangkan hingga bulan ini mencapai 17 perkara, 9 perkara digelar secara online. Dari 17 perkara anak tersebut, terdapat perkara yang hingga sekarang sedang berjalan. Rata-rata perkara anak yang ada, berkaitan dengan kasus narkotika, pencurian, maupun perlindungan anak,” ungkapnya.

Hakim dalam memutuskan perkara anak, akan memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak-anak tersebut. Tujuannya anak saat menerima putusan hukum mendapatkan efek jera agar tidak mengulangi perbuatannya.

Undang-Undang Nomor 11/ 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak menyebutkan, secara keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana.

Anak yang berhadapan dengan hukum adalah anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana dan anak yang menjadi saksi tindak pidana.

Baca Juga  OTT Bupati Kutim, SAKSI Dukung KPK 'Kebiri' Politik Dinasti

“Untuk pasal-pasal yang dikenakan tetap bergantung pada tindak pidana apa yang dilakukan. Namun antara anak dengan orang dewasa, yang berbeda saat Hakim memutuskan suatu perkara ialah mengenai ancaman hukumannya,” terang Andreas.

Penulis: RJ Warsa

Komentar
Advertisement