Beranda Kutai Kartanegara Purwoceng! Rahasia Wangsa Syailendra Bikin Racikan Jamu Pakde Eko “Primadona” Kota Raja...

Purwoceng! Rahasia Wangsa Syailendra Bikin Racikan Jamu Pakde Eko “Primadona” Kota Raja   

Eko Suwandana, akrab disapa Pakde, meracik jamu buat pelanggannya. (foto: RJ Warsa/HEADLINEKALTIM.CO)
Advertisement

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Alkisah, penduduk desa di dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, memiliki kekuatan fisik serta awet muda. Penampilan mereka tak biasa dibandingkan orang-orang paruh baya di luar kawasan tersebut.

Kabar ini terdengar hingga ke telinga seorang Raja dari Wangsa Syailendra (Mataram Kuno). Maka diutuslah orang kepercayaan sang raja nan sakti mandraguna. Misinya, menyerap informasi soal ‘kelebihan’ dari warga di pegunungan yang melegenda sebagai tempat dewa-dewi bersemayam.

Sedikit demi sedikit, utusan tersebut berhasil mengungkap apa yang selama ini menjadi kekuatan orang-orang udik pegunungan tersebut. Ternyata, Pimpinella Pruatjan L atau dikenal sebagai Purwoceng, tanaman hijau menjalar dan tumbuh bebas di tanah bertepi langit lah yang jadi rahasianya! Sejak itu, Purwoceng menjadi salah satu kunci utama dari jamu kuat dan awet muda para raja wangsa Syailendra.

Advertisement

Adalah Eko Suwandana (54). Dari setumpuk pengetahuannya tentang bahan baku jamu dan rempah nusantara, tangannya meracik dan menghadirkan khasiat bubuk Purwoceng. Bersama empon-empon yang dipukul pada bidang kayu rata, ditambah telur bebek dan gula Jawa lalu disiram air panas. Rasa jamu racikannya top markotop. Khasiatnya buat tubuh, tak diragukan lagi.

Pelanggan bisa memesan minuman sesuai kesukaan. Semuanya berisi Purwoceng plus jahe dan rempah lain. Ada minuman STMJ, kopi hingga wedang jahe. Khusus STMJ yang biasa jadi akronim Susu Telur Madu Jahe, pria yang akrab disapa Pakde ini, lebih memilih menggunakan medium gula aren. Bukan susu. Itu karena pertimbangan rasa yang disukai konsumen. Terpenting lagi, soal khasiat yang lebih jos.

Purwo itu artinya ‘awal’ dan ceng dari kata ngaceng,” tutur lelaki asal Kota Jogyakarta ini saat berbincang di lapak jamunya di pelataran Sekretariat DPD KNPI Kutai Kartanegara, belum lama ini.

Pakde menjelaskan khasiat Purwoceng dan racikan berjenis rempah pada jamu buatannya. (Foto: RJ Warsa)

Tak salah jika minuman yang disajikannya membuat ketagihan penikmat jamu tradisional. Eitts, jangan salah. Jamu ala Pakde Eko tak terbatas dikonsumsi khusus kaum pria. ”Perempuan juga banyak jadi pelanggan saya. Mereka merasakan khasiat Purwoceng plus jahe serta rempah lainnya untuk kebugaran fisik,” kata dia.

Pakde merinci, ada 13 jenis bahan yang diramunya. “Ada jahe, kencur, serai, cengkeh, kayu manis, kapulaga, jintan, cabe jawa. Lantas dipadukan pula dengan mesoyi, lada hitam, pala, pasak bumi Kalimantan, dan purwoceng pegunungan Dieng. Tidak perlu takut ini diketahui orang lain, yang jelas secara kualitas dan khasiat pasti beda jauh. Diramu dengan doa-doa yang dihaturkan pada Allah SWT, insya Allah jadi keberkahan bagi peminumnya,” ujarnya.

Soal mendapatkan bahan baku, ada hal yang cukup disayangkan ayah dari Anak Agung Kresna Suwandono (10) ini. Perihal kesulitannya mendapatkan pasak bumi  (Eurycoma Longifolia) atau sering pula disebut sebagai tongkat ali dalam bentuk bubuk di Tenggarong, Kaltim.

Padahal, tumbuhan pasak bumi ini asli Kalimantan. Dia harus menyuplainya dari Jawa agar stok selalu tersedia. “Pasak bumi tumbuhan asli Kalimantan, tetapi disini cari yang sudah jadi serbuk tidak ada, terpaksa mendatangkan dari Jogja. Sepertinya disini kesulitan mengembangkannya karena merupakan tanaman liar dan tumbuh di hutan,” tukasnya.

Memang ada pasak bumi yang dijual dalam bentuk olahan tapi berupa gelas kayu. Bukan dalam bentuk serbuk jamu. Dia mengaku mengenal pasak bumi dan mendapatkannya pertama kali pada tahun 1985. “Waktu itu, saya masih kuliah di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta – UPNVY,” terang Eko yang mengenyam bangku kuliah hingga semester VII, Jurusan Teknik Perminyakan.

Eko merantau ke Tenggarong, Kalimantan Timur, pada 2011 silam. Awalnya, pria ini memulai usaha kuliner tongseng daging sapi. Perlahan ditambah minuman STMJ plus purwoceng.

Terus bereksperimen dengan rempah-rempah lain hingga membuat Eko bulat meninggalkan usaha kuliner. Dia fokus pada minuman jamu ala raja era Mataram Kuno ini. Soal perbedaan produk jamunya dengan merek mainstream, bebernya, adalah mendongrak stamina tubuh. Kebanyakan, jamu lain berefek pada nafsu makan yang memang membuat peminumnya merasa berstamina.

“Saya ingat pelanggan pertama waktu itu orang Samarinda, penggemar mobil antik VW Kodok keliling Indonesia. Kalau sudah jalan ke Tenggarong, pasti mampir makan dan minumnya STMJ campur Purwoceng.  Namun karena beberapa kali pindah hingga kami tak lagi bertemu, saya kehilangan kontaknya,” tukasnya.

Kekuatan jamu racikan Pakde ada pada jahe, purwoceng, lada hitam, dan cabe Jawa. Seiring waktu, jamu komplet berisi 13 rempah. Seiring perjalanan usaha kulinernya yang dimulai dari Jalan Cut Nyak Dien, pindah di Jalan Slendreng hingga sekarang berada di pelataran DPD KNPI Kukar, Jl KH Ahmad Dahlan, Tenggarong. Pelangggannya, kini berdatangan dari berbagai kota di Kaltim. Dari Kota Samarinda, Kota Balikpapan dan kabupaten lain.

KONTRIBUTOR BUKU ‘ENSIKLOPEDI KEBUDAYAAN JAWA’

Dunia adalah ketidakpastian. Perjalanan hidup tidak pernah dapat diprediksi dengan ukuran matematis dan rumus ilmu pasti. Itu yang diyakini suami dari almarhumah Ir. Meliawati kala bertutur soal jalan hidupnya sebelum terdampar di Kota Raja.

Jamu Pakde Eko digemari warga Tenggarong, Samarinda hingga Balikpapan. (Foto: RJ Warsa)

Tak rampung kuliah teknik perminyakan, Eko sempat bekerja di toko kaca mata. Selepas itu, dia mendapatkan kesempatan bekerja di Lembaga Studi Jawa (LSJ) di Solo. Kala berkantor di Tembi, arah selatan Yogyakarta menuju Pantai Parangtritis, dia pegawai dengan nomor induk 01. Lembaga ini didirikan Polycarpus Swantoro, salah satu pendiri Kompas Grup.

“Saya turut berkontribusi menghasilkan buku ‘Ensiklopedi Kebudayaan Jawa’ pada tahun 1999. Di lembaga tersebut saya juga diserahi tugas sebagai fotografer dan kameramen dokumentasi penelitian. Waktu itu, pakai kamera analog Nikomat EL yang masih saya simpan di Yogya. Tugas awal saya, mendokumentasikan Festival Keraton Nusantara I tahun 1997. Sangking fokusnya  motret-motret, saya sampai kecopetan dan kehilangan dompet berisi uang Rp 2 juta, uang yang cukup besar  pada masa itu,” kenangnya.

Memiliki kawan-kawan sekolah yang kini punya karir lebih moncer, tak membuat Eko Suwandana mengeluhkan hidup. Dia berteman dengan almarhum Udin wartawan Bernas yang mati dibunuh karena liputan kritisnya. Bahkan, dia teman sekelas dengan Anung Nugroho mantan Direktur Utama PT Kutai Timur Energi (KTE).

Eko bersama almarhum istrinya Ir. Meliawati, pernah bekerja di PT. Adhikarya, menjadi korban PHK karena krisis ekonomi era 1998. “Tak ada kata menyerah apalagi menyesal dalam hidup, jika hanya mau menumpang menjadi benalu. Adik-adik saya dapat dikatakan berhasil dalam hidupnya, satu bekerja di BPKAD Yogya, satunya jadi dokter di Bantul, adik terakhir bekerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional dan sedang menyelesaikan S3. Adik-adik saya semua belum pernah merasakan jamu purwoceng buatan saya ini. Kalau sudah merasa, pasti ketagihan,” ungkapnya, tertawa.

Soal resep jamunya, Eko tak khawatir orang-orang meng-copy paste racikannya. Sebab, semua orang bisa mendapatkan 13 bahan komplet tersebut. Namun, dia meyakini, yang selalu membedakan adalah olah rasa dan hati berpengaruh kuat pada produk dan kesan para konsumen.

Lelaki berkepala plontos-memilih mencukur habis rambut gondrongnya-kini menikmati benar masa-masa merantau dan melabuh asa di Kutai Kartanegara. Baginya, ketenangan dan kebahagiaan bersama keluarga adalah kunci hidup. Seakan khasiat purwoceng sudah meresap, membuatnya terus bertenaga, bersemangat dan awet muda.

Penulis: RJ Warsa

Komentar
Advertisement