Beranda BERITA Miris, Dua Kecamatan Ini “Betah” Sandang Zona Merah Sejak Awal Pandemi

Miris, Dua Kecamatan Ini “Betah” Sandang Zona Merah Sejak Awal Pandemi

Satgas COVID-19 Kukar menggelar jumpa pers evaluasi penanganan pandemi. (Foto: Andri/headlinekaltim.co)

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG– Berdasarkan evaluasi penanganan COVID-19 di Kutai Kartanegara (Kukar), ada dua kecamatan dari awal pandemi hingga sekarang, terus menyandang zona merah COVID-19.

Diduga virus COVID-19 menyebar dari karyawan perusahaan. “Ada dua kecamatan, yaitu Anggana dan Loa Janan, masuk zona merah terus, ini membuat Satgas COVID-19 Kukar merasa prihatin, ” ucap Bupati Edi Damansyah, saat jumpa pers terkait evaluasi COVID-19, Senin 18 Januari 2021 di kantor Bupati Kukar bersama Forkopimda dan OPD.

Selain itu, kata Edi, ada 22 desa tercatat zona merah COVID-19 sejak awal pandemi. Tren kurva kasus terkonfirmasi positif masih terus meningkat.

Per hari ini, sebanyak 5.814 orang positif, 4.843 sembuh, 859 masih dirawat, serta 112 meninggal dunia.

Advertisement

“Yang meninggal bukan hanya orang Kukar, ada juga orang luar. Namun, terpapar COVID dari Kukar, ” jelasnya.

Edi menyimpulkan, Anggana dan Loa Janan “betah” menyandang zona merah karena ada aktivitas karyawan perusahaan yang melakukan perjalanan. Saat kembali bekerja, menimbulkan klaster penularan baru.

Oleh sebab itu, Pemkab meminta kepada karyawan perusahaan untuk tetap memperhatikan manajemen tenaga kerja, dengan menerapkan standar protokol pencegahan penyebaran COVID-19.

“Biasanya bukan klaster karyawan yang di mess, tapi karyawan yang pulang ke rumah. Kita ingin setelah pulang sudah bersih dari virus, ” katanya.

Edi memastikan, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang sudah diterapkankan sejak beberapa bulan lalu, akan dievaluasi lagi.

Baca Juga  Kutai Kartanegara Kekurangan Figur Calon Kepala Sekolah

“Pastinya, kita akan libatkan tokoh masyarakat dan agama, agar tidak bosan mengajak masyarakat menerapkan protokol COVID-19 di tempat umum, ” tandasnya.

Penulis: Andri

Editor: Mh amal

Komentar