src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Perumdam Tirta Kencana Samarinda Siaga, Instrusi Air Laut Bisa Ganggu Produksi Air Bersih

Perumdam Tirta Kencana Samarinda Siaga, Instrusi Air Laut Bisa Ganggu Produksi Air Bersih

waktu baca 4 menit
Sabtu, 15 Agu 2026 11:18 36 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Kemarau yang berlangsung di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai memberi tekanan terhadap sumber air baku Perumdam Tirta Kencana Samarinda. Selain debit sejumlah sungai yang terus menyusut, perusahaan daerah tersebut kini meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi intrusi air laut dari muara Sungai Mahakam.

Manajer Produksi Perumdam Tirta Kencana, Agus Muamar, mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan ke sejumlah titik di kawasan muara untuk melihat sejauh mana pergerakan air laut masuk ke badan Sungai Mahakam. Dari pemantauan terakhir, tanda-tanda intrusi telah ditemukan di sekitar daerah Pendingin dan dalam perkembangan terbaru mulai terdeteksi hingga kawasan muara Sanga-Sanga.

Kondisi tersebut, dikatakannya belum sampai mengganggu instalasi pengolahan air (IPA) milik Perumdam. Namun, pemantauan terus dilakukan karena kondisi dapat berubah apabila kemarau berlangsung lebih panjang tanpa disertai hujan yang cukup.

“Terakhir kami mengecek ke daerah Muara Sungai Mahakam, di posisi Pedingin itu sudah ada tanda-tanda masuk. Dalam sehari dua hari ini, informasi terbaru sudah ada masuk di muara Sangasanga,” ujar Agus diwawancarai belum lama ini.

Agus menilai, intrusi air laut menjadi salah satu kondisi yang perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi kualitas air baku yang digunakan untuk produksi air bersih. Perumdam saat ini terus mengikuti perkembangan kadar klorida di Sungai Mahakam, terutama ketika terjadi pasang.

Jika kadar klorida pada air baku mencapai ambang 250 parts per million (ppm), proses produksi di IPA yang terdampak akan dihentikan sementara. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas air yang diproduksi sebelum kembali dioperasikan ketika kondisi air sungai membaik. “Kalau intrusi air laut kadar kloridanya sudah mencapai 250, kemungkinan produksi akan stop dulu. Cuma mudah-mudahan tidak sampai 24 jam secara terus-menerus,” jelasnya.

Agus menjelaskan, kondisi intrusi air laut biasanya mengikuti siklus pasang dan surut Sungai Mahakam. Ketika air sedang pasang dan kadar klorida meningkat hingga ambang yang ditentukan, produksi dapat dihentikan. Namun, saat air kembali surut dan kadar klorida turun di bawah ambang tersebut, produksi akan kembali dijalankan.

Oleh karena itu, penghentian produksi tidak serta-merta berarti seluruh distribusi air bersih ke pelanggan akan terhenti dalam waktu lama. Perumdam akan menyesuaikan pengoperasian IPA dengan hasil pemantauan kualitas air baku di lapangan.

Untuk tahap awal, IPA di kawasan Pulau Atas dan Palaran menjadi lokasi yang paling berpotensi merasakan dampak apabila intrusi bergerak semakin jauh. Perumdam masih memantau perkembangan dalam satu hingga dua pekan ke depan, terutama jika curah hujan belum ada.

“Kalau memang curah hujannya masih belum ada, kita akan antisipasi sampai masuk ke tengah kota, termasuk pengolahan-pengolahan kami yang ada di tengah kota,” sebutnya.

Ancaman terhadap produksi air bersih tidak hanya datang dari intrusi air laut. Di wilayah utara Samarinda, Agus menyebut, penurunan debit sungai juga mulai memengaruhi jumlah air baku yang dapat diolah Perumdam. Kondisi tersebut terutama dirasakan pada IPA Bengkuring dan Bumi Sempaja yang mengandalkan sumber air dari anak Sungai Karang Mumus. Ketika sungai berada dalam kondisi surut, debit air baku yang masuk ke instalasi ikut menurun sehingga kapasitas produksi turut mengalami penyesuaian.

Meski demikian, penurunan tersebut sejauh ini belum membuat produksi berhenti total. Ketika permukaan sungai kembali naik saat kondisi pasang, debit air baku kembali mencukupi dan produksi dapat berjalan normal. “Kalau posisi sungai surut, debit air sungai berkurang, produksi kita juga mengalami penurunan. Tapi kalau posisi sungai pasang, produksi alhamdulillah normal kembali,” kata Agus.

Kondisi ini membuat Perumdam harus melakukan pemantauan secara berkala terhadap dua persoalan sekaligus, yakni kualitas air baku akibat potensi intrusi air laut dan kuantitas air baku akibat menyusutnya debit sungai. Agus memastikan hingga saat ini dampak kekeringan belum menyebabkan distribusi air bersih mati total. Gangguan berupa penurunan debit produksi masih dapat diatasi dengan menyesuaikan kondisi sumber air baku.

Lebih lanjut, Perumdam Tirta Kencana Samarinda mengimbau masyarakat mulai menyiapkan tempat penampungan air di rumah sebagai langkah antisipasi. Persediaan tersebut dinilai penting apabila sewaktu-waktu terjadi penurunan debit maupun penghentian sementara produksi di instalasi tertentu. “Penampungan di rumah-rumah itu semestinya harus ada karena memang biasa ada gangguan, termasuk ini dampak intrusi air laut,” imbau Agus. (Retno)

LAINNYA
x