src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Sharing Session proses kreatif penulisan buku cerita anak bergambar bersama Widi Ainun Amalia. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)Di balik ilustrasi yang penuh warna dan cerita yang sederhana, Widi Ainun Amalia menyisipkan harapan besar. Perempuan kelahiran 1999 itu ingin setiap buku yang dibuatnya menjadi teman bertumbuh bagi anak-anak. Pada tahun 2025, ia mulai menulis sekaligus menjadi ilustrator buku cerita anak bergambar.
Komunitas Gerobooks Berau menggelar Sharing Session proses kreatif penulisan buku cerita anak bergambar bersama Widi Ainun Amalia pada Sabtu, 25 Juli 2026 di Tumbuh Space, Jalan Mawar, Tanjung Redeb. Kegiatan ini dalam rangka merayakan hari anak nasional 2026.
Di hadapan peserta yang hadir, Ainun bercerita bahwa dirinya bukanlah penulis sejak awal. Ia lebih dulu dikenal sebagai ilustrator yang gemar menggambar dunia penuh warna dan imajinasi. Namun, kecintaannya pada menggambar perlahan bertemu dengan kegemarannya menulis cerita pendek. Dari pertemuan dua kemampuan itu lahirlah keputusan yang mengubah arah perjalanan kreatifnya. “Kenapa gambar yang saya buat ini tidak saya jadikan buku?” pikirnya kala itu.
Keputusan yang diambil pada 2025 tersebut ternyata membawa hasil yang tak pernah ia bayangkan. Dalam kurun waktu sekitar satu setengah tahun, tiga buku cerita anak berhasil ia terbitkan. Hal yang menarik, setiap buku menyimpan kisah personal. Buku pertamanya, Ada Apa dengan Kebun Aira?, lahir dari pengalaman mendampingi putri sulungnya yang merupakan anak tunarungu. Buku itu menjadi ruang bagi Ainun untuk menghadirkan dunia yang penuh pertanyaan sekaligus harapan agar anak-anak berani bertanya dan menemukan jawaban dengan cara yang menyenangkan.
Buku kedua, Aufa & Mainan yang Berantakan, terinspirasi dari tingkah putri keduanya yang gemar menghamburkan mainan. Alih-alih menasihati secara langsung, Ainun memilih menyelipkan pesan melalui tokoh dan alur cerita. Hasilnya, seorang anak pembaca bukunya bahkan mengaku selalu teringat karakter dalam cerita setiap kali selesai bermain dan terdorong untuk merapikan mainannya sendiri.
Bagi ibu dua anak ini percaya, pesan akan lebih mudah melekat ketika dibungkus dalam kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, diperkaya ilustrasi penuh warna, lalu memberi ruang bagi anak untuk berpikir dan menemukan solusi sendiri.
Keberanian terbesar justru datang pada buku ketiganya berjudul Harta Karun Laut Berau. Latar Kepulauan Derawan dan Maratua dipilih sebagai panggung cerita yang mengenalkan kekayaan biota laut khas daerah kepada anak-anak. Menurutnya, pengetahuan lokal akan lebih mudah diterima jika disampaikan melalui cerita yang menghibur, bukan sekadar deretan fakta. Namun perjalanan menuju buku ketiga bukan tanpa hambatan.
Naskah yang semula ditargetkan terbit pada 2025 sempat terhenti berbulan-bulan. Ainun mengaku mengalami masa ketika menggambar terasa sangat berat. Ide terus bermunculan di kepala, tetapi tak satu pun mampu ia tuangkan menjadi ilustrasi.
Selama hampir empat bulan, alat gambarnya nyaris tak tersentuh. Alih-alih memaksa diri berkarya, ia memilih berhenti sejenak. Baginya, jeda bukanlah kemunduran, melainkan ruang untuk menyusun ulang semangat dan arah. Setelah beristirahat, perlahan keinginan untuk kembali menggambar tumbuh dengan sendirinya hingga akhirnya buku ketiga berhasil diselesaikan.
Di tengah derasnya arus digital, Ainun juga memiliki pandangan tersendiri mengenai buku fisik. Ia tidak melihat buku dan gawai sebagai dua hal yang saling meniadakan. Keduanya sama-sama penting, tetapi memiliki fungsi berbeda. Menurutnya, buku bergambar memberikan ruang interaksi yang tidak bisa digantikan layar.
Ketika orang tua membacakan buku, anak tidak hanya mendengar cerita. Mereka berdiskusi, mengamati ilustrasi, lalu membangun imajinasi dari setiap gambar yang dilihat. Pengalaman itu, menurut Ainun, sulit diperoleh ketika anak hanya berhadapan dengan gawai yang cenderung menghadirkan interaksi satu arah.
Karena alasan itulah ia belum berencana mengubah karya-karyanya menjadi buku elektronik. Baginya, buku anak bergambar lebih hidup ketika hadir dalam bentuk fisik yang bisa disentuh, dibuka bersama, dan dinikmati dari halaman ke halaman.
Ainun menyampaikan pesan sederhana bagi siapa pun yang ingin mulai menulis. Ia justru menyarankan agar setiap gagasan kecil segera dicatat. “Jangan takut untuk memulai, karena kita tidak tahu bakal gagal atau berhasil. Setidaknya kita berani memulai,” demikian Ainun. (Riska)