src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Cegah Gagal Tanam, 207 Hektare Sawah di 7 Kelurahan Disuplai Air

Cegah Gagal Tanam, 207 Hektare Sawah di 7 Kelurahan Disuplai Air

waktu baca 3 menit
Jumat, 11 Sep 2026 16:39 18 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Musim kemarau panjang yang melanda Samarinda membuat masa tanam sejumlah petani di Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan, tertunda. Petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Harapan Baru belum dapat mengolah lahan karena keterbatasan pasokan air.

Ketua Kelompok Tani Harapan Baru, Mat Kosim Kulup, mengatakan kondisi persawahan sebelumnya masih berjalan normal. Namun, memasuki musim kemarau, petani harus meminta bantuan mesin pompa untuk mengalirkan air ke lahan pertanian.

“Karena kemarau, kan airnya kering, jadi mau tidak mau kita harus minta bantuan mesin pompa air,” ujar Mat Kosim saat ditemui di lahan sawahnya pada Jum’at, 11 September 2026.

Kondisi tersebut belum sampai menyebabkan gagal panen pada musim sebelumnya. Persoalan justru terjadi pada rencana musim tanam berikutnya yang harus ditunda karena pasokan air tidak mencukupi. “Kalau yang kemarin itu sebenarnya nggak gagal panen, cuma ini kita mau tanam lagi kan, tertunda karena nggak ada air,” ungkap Mat Kosim Kulup.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Makroman, Eli Susana, menjelaskan kondisi tersebut membuat petani mengalami keterlambatan masa tanam. Proses pengolahan lahan yang seharusnya dimulai pada awal September belum dapat dilakukan karena tidak tersedianya air. “Ini gagal tanam. Harusnya awal bulan ini sudah mulai olah tanah, tapi karena tidak ada air, ya, terpaksa menunda,” sebut Eli.

Produktivitas sawah di kawasan Makroman berkisar 4,5 hingga 5 ton gabah per hektare. Sementara dari proses pengolahan tanah hingga panen, petani membutuhkan waktu sekitar empat bulan. “Harapannya kalau misalnya sawahnya terairi, bisa diolah segera tanam, karena memang teman-teman di sini menunggu air untuk tanam,” harapnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso turun langsung ke lokasi bersama pihak Kelurahan Makroman dan PPL setempat. Ia mengatakan penanganan kekeringan melalui posko kedaruratan tidak hanya diarahkan pada kebakaran lahan dan suplai air bersih, tetapi juga menyasar sektor pertanian yang menjadi salah satu mata pencaharian warga.

“Kita juga memberikan perhatian khusus terhadap upaya-upaya untuk mencegah gagal panen dan gagal tanam,” ujar Suwarso.

Di lokasi tersebut, BPBD membantu satu unit mesin penyedot air berukuran besar dengan pipa berdiameter 6 inci untuk mengairi lahan Kelompok Tani Harapan Baru yang luasnya sekitar 42 hektare. Suwarso menyebut terdapat sekitar tiga void bekas tambang di Makroman yang memiliki sumber air dan dapat dimanfaatkan untuk mengairi persawahan. Kedalaman sumber air tersebut disebut mencapai sekitar 70 meter.

Upaya pengairan juga dilakukan bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Distapang Tani) Kota Samarinda di sejumlah titik. Selain Makroman seluas 42 hektare, pengaliran air dilakukan di Betapus seluas 30 hektare, Serayu 5 hektare yang disuplai menggunakan mobil tangki karena jarak sumber air cukup jauh, Rawa Makmur Palaran 25 hektare, Kelurahan Bukuan 10 hektare, Bantuas 25 hektare, serta kawasan Pelita 6 di Sambutan seluas 70 hektare.

“Totalnya ada 7 titik lokasi yang sudah kita laksanakan pengaliran airnya menuju persawahan, dengan luas totalnya 207 hektare. Dan ini terus akan bergerak ke beberapa titik-titik yang area persawahannya mengalami kendala di dalam persiapan masa tanam,” papar Suwarso.

Ditambahkannya, BPBD juga tengah menyiapkan bantuan serupa untuk kelompok tani lain di Makroman yang turut membutuhkan pengairan, salah satunya Kelompok Tani Karanganyar. Bantuan tersebut berupa mesin pompa jenis dompeng beserta selang penyedot dan selang keluaran berdiameter 6 inci agar proses pengairan dapat berlangsung lebih cepat.

“Kita akan siapkan kembali mesinnya, mesin sejenis dompeng dan peralatan lainnya, seperti selangnya 6 inci, kemudian selang sedotnya juga 6 inci, sehingga mampu mengairi bisa lebih cepat,” demikian Suwarso. (Retno)

LAINNYA
x