src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> 10 IPA Samarinda Kurangi Operasional karena Kadar Klorida Naik, Ini Kata Wali Kota

10 IPA Samarinda Kurangi Operasional karena Kadar Klorida Naik, Ini Kata Wali Kota

waktu baca 3 menit
Kamis, 10 Sep 2026 21:47 20 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kondisi Sungai Mahakam di tengah kemarau panjang mulai memberi tekanan terhadap pelayanan air bersih di Samarinda. Kadar klorida yang meningkat membuat Perumda Tirta Kencana Kota Samarinda melakukan pengurangan jam operasional pada 10 Instalasi Pengolahan Air (IPA).

Informasi Perumda Tirta Kencana per Kamis, 10 September 2026 menyebut kadar klorida Sungai Mahakam bergerak dari kondisi siaga menuju kondisi kritis. Sepuluh IPA yang dilakukan pengurangan jam operasional yakni IPA Bantuas, IPA Palaran, IPA Pulau Atas, IPA Kalhol, IPA Sungai Kapih, IPA Selili, IPA Samarinda Seberang, IPA Tirta Kencana, IPA Cendana dan IPA Gunung Lipan.

Perumda juga mengimbau pelanggan yang masih mendapatkan aliran air untuk menampung air secukupnya selama air masih mengalir dan menghemat penggunaannya. Sejumlah terminal pengambilan air turut disiapkan sebagai langkah penanganan apabila terjadi gangguan pelayanan.

Kondisi tersebut turut disampaikan Wali Kota Samarinda Andi Harun saat menanggapi informasi mengenai intrusi air laut yang disebut telah masuk hingga kawasan bawah Jembatan Mahakam I, tepatnya di sekitar depan Hotel Harris Samarinda.

Pemerintah bersama Perumda, kata dia, melakukan pemeriksaan terhadap kondisi air Sungai Mahakam dan Karang Mumus secara lebih intensif. Pemantauan kadar klorida saat inj dilakukan setiap satu jam untuk mengetahui perubahan kondisi air baku.

“Kalau soal air, teman-teman tidak usah khawatir, karena tiap satu jam, bukan lagi per hari, tiap satu jam air Mahakam itu kita lab uji,” kata Andi Harun.

Kadar klorida menjadi salah satu parameter yang menentukan apakah intake air dapat tetap dioperasikan. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kadar klorida telah melewati 250 ppm, intake akan dihentikan sementara.

Penghentian tersebut tidak otomatis berlangsung selama 24 jam. Kondisi pasang surut Sungai Mahakam dapat membuat kadar klorida berubah. Ketika air pasang dan kadar klorida meningkat, intake dapat dihentikan. Setelah kondisi kembali surut dan kadar klorida turun, operasional dapat kembali dijalankan.

“Kalau ada kenaikan PPM sampai melampaui 250, kenaikan klorida kita sampai melewati batas 250 PPM, itu pasti intake kita akan stop. Tapi penyetopan itu tidak 24 jam, tergantung. Kadang-kadang kalau pasang, kadar kloridanya naik, tapi pada saat surut kembali turun, nah pada saat turun kita aktifkan lagi,” jelasnya.

Disebutnya, berdasarkan catatan yang ada belum ada intake yang harus dihentikan selama 24 jam penuh akibat kenaikan kadar klorida. Kondisi tersebut, kata Andi Harun, berbeda dengan beberapa intake di wilayah Palaran, khususnya Bantuas, yang sebelumnya mengalami penghentian operasional akibat kadar klorida yang meningkat.

Ia menjelaskan, keputusan menghentikan intake dilakukan untuk menjaga kualitas air yang diproses dan mengantisipasi risiko terhadap kesehatan masyarakat. Air baku dengan kadar klorida yang melewati batas tidak dapat begitu saja dipaksakan masuk ke proses produksi.

“Kalau sudah sampai ke 250 PPM kadang-kadang pasti intake kita stop karena untuk menghindari atau menjadi faktor penting dari soal kesehatan masyarakat, baik itu menyangkut penyakit diare, penyakit kulit dan lain sebagainya,” paparnya.

Apabila sejumlah intake harus dihentikan, pemerintah telah menyiapkan langkah lanjutan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satunya dengan mengerahkan armada tangki ke wilayah yang mengalami gangguan distribusi air.

Informasi dari Perumda Tirta Kencana, terminal air disiapkan di sejumlah IPA serta lokasi umum seperti masjid, musala, tempat ibadah dan kantor pemerintahan. Perumda juga mengatur permintaan pengisian air tangki melalui koordinasi RT atau lurah dengan Satgas.

Andi Harun mengakui, penghentian intake tetap berpotensi mengganggu pelayanan karena sistem distribusi tidak berjalan seperti kondisi normal. Kendati demikian, pemerintah akan menjalankan skenario penanganan apabila hasil pemantauan menunjukkan adanya intake yang harus dihentikan.

“Kalau ternyata ada intake kita yang stop maka skenario berikutnya akan jalan, tangki akan bergerak, ya memang pasti akan terganggu, akan mendatangkan gangguan karena tidak normal kan, segala sesuatu yang kurang normal atau tidak normal pasti ada gangguan pelayanan,” demikian Andi Harun. (Retno)

LAINNYA
x